Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Tamu anti mainstream.


__ADS_3

Tepat jam setengah tujuh pagi, mobil gagah dan super memikat perhatian orang-orang itu tiba di tempat parkir.


Pram menarik rem tangan seraya memandang sekeliling dengan takjub. Kesibukan para rewang di rumah bude Aminah sudah terlihat dari kejauhan mengurus pesta pernikahan tiga jam lagi.


"Pram, nanti kamu gabung sama bapak, aku sama Dara harus dandan sama pengantinnya. Banyak—"


"Aku tau, geulis. Jangan khawatir banget sama aku, lagian aku sudah bisa jaga diri kok, gak akan mengendus-endus bunga lagi kok, ada yang lain yang lebih aman di endus-endus." potong Pram lalu menyeringai.


"Yaiyalah, om Pram udah gede, dan harusnya Mentari tuh yang harus di jagain biar gak di gangguin lutung!" timpal Dara.


Mentari mendesis tajam. "Jangan bawa-bawa lutung, Ra. Baru banyak pisang disini, bisa gawat ntar dimakan dia semua." elaknya lalu turun dari dalam mobil.


Dara terbahak-bahak, "Bener-bener, bisa gawat banget, Tar. Dia kan rakus!" cerocos Dara sambil menyaut plastik di sampingnya.


"Ayo turun, om. Kita nyari lemper ayam sama makanan enak."


"Asyiappp." Pram mengangguk takzim, keduanya langsung gegas turun dari mobil, mengikuti Mentari masuk ke jalan kampung yang telah di tutup sementara waktu selama acara pernikahan berlangsung.


"Bapak." panggil Mentari. Gadis itu menerima bila bapaknya mengundang Pram disini, tapi gadis itu enggan bertanggung jawab dengan pria yang berada di belakangnya. Tak tahan pula dia mendengar siulan Pram yang sayangnya merdu juga untuk di dengar.


"Bapak sama Pram, aku sama Dara mau dandan."


Joko, selayaknya kaum adam di acara pernikahan saudara sendiri sedang ngopi sambil jaga-jaga di luar tenda. Tubuhnya masih berkalung sarung, belum mandi. Nanti santai, pikirnya.


Joko melambaikan tangan. "Sini dik Pram, ngopi-ngopi sambil makan lemper. Belum sarapan to?"


"Belum, pak. Baru ngeteh tadi." Pram duduk di kursi plastik dengan rikuh di samping Joko. Membiarkan Mentari dan Dara pergi tanpa hambatan ke rumah yang di penuhi bocah-bocah yang penasaran dengan keluarga manten yang di dandani.


"Tunggu sebentar, bapak ambilkan kopi dulu di dalam sama sarapan."


"Eh-eh," buru-buru Pram menahan lengan tangan Joko, "kopi saja pak, gak enak aku sarapannya nanti saja bareng-bareng sama yang lain."

__ADS_1


Pram melepas tangannya sewaktu Joko mengiyakan.


"Oke, di makan dulu ini apa yang ada, tapi jangan makan tape pagi-pagi, perutmu nanti sakit dik!" Joko mengingatkan.


Pram mengangguk, akhirnya karena memang lapar dan no jaim-jaim club dia menyomot lemper ayam yang berada di samping jenang alot, jeruk, serta tape yang di bungkus daun pisang.


"Gue udah mandi, siap untuk kondangan, keluarganya masih santai-santai, rajin emang gue." ucapnya bangga, selesai makan lemper dia mencicipi jenang alot, di akhiri dengan satu jeruk sebelum Joko datang membawa satu cangkir kopi dan semangkok jenang manten.


"Anggap aja ini pengganti layanan kamar ya dik Pram. Ayo di nikmati."


"Woahhh, makan jenang manten, moga-moga setelah ini ketularan jadi manten Pak." seru Pram, mengangkat mangkok jenang mantennya senang-senang saja tanpa berpikir ucapannya bisa dikabulkan pemilik semesta kapan saja bahkan di detik itu juga sewaktu alam juga mengamini doa baiknya pun jika Asih mendengar ucapan putranya.


"Dik Pram masih sendiri?" tanya Joko, secuil hatinya penasaran namun tidak dengan matanya, pria separuh baya itu sangat ingin tahu.


Pram mengangguk, lalu buru-buru mengeluarkan dompetnya dari saku celana. Kemudian dia mengeluarkan brosur losmen idaman yang terus dia simpan.


"Ini yang mengundangku untuk datang ke sini, pak. Dapat di warung kopi pinggir jalan punya pak – pak Mulyadi. Bapak kenal, katanya tetangga bapak di kampung." Pram menghabiskan jenang manten lalu menyesap kopinya.


"Ternyata di promosikan terus dijadiin alas gorengan," jawab Pram dalam hati. Buru-buru meringis sewaktu Joko mengembalikan brosurnya.


"Simpan saja dik Pram."


Disimpan beneran dong sama Pram, kembali ke dompetnya lagi. Tersimpan di antara kartu penting lainnya dan di jaga sebaik mungkin agar tidak hilang karena dia percaya esok slalu menjadi misteri yang mungkin bisa saja dari brosur jadi ijab kabul.


"Dulu sebelum sepi seperti sekarang ini, losmen slalu ramai dik Pram. Apalagi musim liburan sampai kami kewalahan menjamu tamu. Bapak masih ingat bagaimana ramainya dapur saat Purwati masak dan anak-anak yang teriak-teriak. Tapi karena semakin ramai daerah sekitar dink untuk tujuan wisata, semakin banyak orang yang menjadikan rumahnya villa dan losmen. Persaingan semakin kencang dan karena jaman makin edan, lebih banyak orang yang suka kebebasan yang kebablasan."


Joko tersenyum sedih namun matanya berkaca-kaca. "Dulu losmen kami juga bebas, tapi setelah Mentari jadi korban tamu ada yang bawa miras. Beruntung dik Pram datang setelah dia cukup membaik karena dua bulan setelah kejadian itu Tari jarang keluar kamar sampai ujung-ujungnya sakit, stress dan kurang vitamin D."


Pram menarik napas dalam-dalam lalu menatap rumah dimana Mentari berada. Sekuat itu kamu, Tar?


Joko menepuk bahu Pram, "Itu sebabnya kami kemarin menanyakan apakah dik Pram bisa dipercaya, kami hanya mau Mentari tenang sewaktu menjamu tamu losmen. Itu saja, maaf kalau dik Pram tersinggung." katanya dengan rikuh.

__ADS_1


Pram sontak menggelengkan kepala. Sama sekali tidak keberatan. Hanya saja fakta itu seakan menariknya ke momentum masa lalunya sendiri bersama Tatiana.


"Aku santai pak, justru senang pak Joko mau cerita tentang Mentari." jawab Pram, memberi senyum andalannya.


Joko berdiri, "Dik Pram bapak tinggal mandi dulu, kalau seumpama ada yang tanya kamu siapa disini, bilang saja temennya Mentari."


Temennya Mentari?


"Siap pak!"


Joko berlalu masuk ke rumah kakaknya, sementara Pram yang sudah kenyang lantas memakai masker yang ia siapkan di kantong kemejanya.


"Mojang geulis karunya pisan." komentar Pram, berdiri di belakang bocah-bocah yang masih semangat 45 nonton calon manten dan para sanak saudara di make-up ria.


"Udah bener kita hiling bareng-bareng, Mentari. Lebih seru pasti dan kita bisa kembali menikmati manisnya cinta." uhuk— Pram sengaja terbatuk-batuk sampai membuat Mentari yang tahu betul suaranya menoleh dengan cepat.


"Jauh-jauh dari bunga, Pram!" teriaknya panik, "sana ke depan dan cari tempat aman aja. Jangan disini."


Sontak semua orang langsung tertuju ke arah laki-laki jangkung yang mengangkat jari perdamaiannya. Pram malu, untung maskeran.


"Aku cuma pengen lihat kamu, Tar, soalnya aku kagum sama kamu."


Blush...


"Rasakan aku benar-benar gak pingin punya muka sekalian gara-gara Pram. Argh, bakal jadi bulan-bulanan grup chat keluarga besar ini. Gawat." rutuk Mentari dalam hati dengan muka yang mengisyaratkan peperangan, "Awas kamu, Pram!"


Pram mengatupkan kedua tangannya seraya membungkuk hormat. "Saya Pramoedya, temen Mentari dari Jakarta. Salam kenal semuanya." ucapnya memperkenalkan diri.


Kini Mentari benar-benar ingin healing ke planet mars, atau yang paling mudah ya jauh-jauh dari Pram secepatnya!


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2