Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Perang terbuka


__ADS_3

Sore hari yang teduh di halaman losmen. Pram telah siap dengan setelan celana kain berwarna hitam dan kemeja kain berwarna biru tua, memaksa diri membuka dua kancing teratas demi mempertontonkan dadanya yang telah ternodai sentuhan lembut Mentari kemarin. Yakin, pesona dada atletisnya lengkap dengan kejujuran mulutnya itu pasti akan mudah menjatuhkan lawan.


Tapi harus Pram ketahui, dari dalam losmen seorang gadis desa yang telah di tetapkan sebagai pacar bohongan sang lawan keluar dengan wajah yang berhiaskan make up ala-ala cewek drama Korea lengkap dengan busana modis ala-ala cewek kota dan rambut yang di biarkan tergerai bebas.


Pram terpesona tapi namanya lagi tanding dia pura-pura tidak akan memuji perubahan itu.


"Udah gitu aja?" celetuknya sambil bersedekap dan menyandarkan diri di badan mobil. Matanya menelisik dari atas ke bawah penampilan Mentari, dress sifon bunga-bunga dengan warna lembut dan memiliki lengan panjang transparan menjadi anggun di badan Mentari.


Mulus bener, gan. Mati gue.


Mentari mengangguk. Berhubung laki-laki itu sudah ia kenal baik tidak kurang ajar sampai di tikung sahabatnya sendiri saking menghormati perempuan, ia ikut menyandarkan tubuhnya di badan mobil, di samping Pram.


Pram tercekat sambil menoleh ke samping, karena tinggi Mentari hanya sebahunya saja maka yang terlihat puncak kepalanya.


"Kenapa deket-deket? Butuh perlindungan sayang?" bisiknya sarkasme sambil mengendus rambut si gemes. "Wangi, padahal kita cuma mau ke kolam pembibitan ikan lho, Tar. Kamu udah kayak pergi ke mal aja!" cecarnya dengan sengaja.


Mentari menoleh dengan muka biasa saja. "Wangi itu wajib untuk cewek Pram, salahnya sekarang dimana? Coba kamu katakan biar aku paham maksud kamu itu." tandasnya tenang.


Pram tersenyum akan keberanian gadis itu saat menatapnya lama-lama. Semoga hanya aku yang menjadi tempat ternyaman gadis itu untuk tidak takut dengan laki-laki, gumam Pram dalam jiwa.


"Cuma kalo wangi berlebihan bikin orang di sampingmu gak nyaman Tar, pusing!" jelasnya seraya menyingkir dan mengapit hidungnya sendiri.


Mentari tak menggubris, dia memilih untuk biasa saja akan tetapi karena laki-laki itu tetap menutup hidung dengan wajah meledeknya. Ia dengan sengaja berpindah ke depan Pram.


"Semoga kamu tidak mirip ikan yang kehilangan air, Pram!"


Senyum usil Mentari mengembang. Pram mengembungkan pipinya. Tak tahan kehabisan napas, laki-laki itu berbalik seraya menghirup udara dalam-dalam.

__ADS_1


"Bener-bener perang terbuka!"


Mentari menoleh ke arah samping rumah sewaktu bapaknya tergesa-gesa menuju mereka dengan muka nggak enak.


"Kok panik, ada apa pak?" tanya Pram.


"Dara mules-mules, perutnya sakit kebanyakan rujak. Jadi bapak sama ibuk harus di rumah jaga dia sama losmen, dik Pram. Ini bapak mau ke warung mau beli obat diare!"


Joko melompat ke atas motornya dengan sikap cemas. "Kalian pergi berdua saja, bapak juga masih harus sedot air untuk ngisi kolam." akunya, si jago akting itu nampaknya yang menurunkan sifat pintar bersandiwara ke Mentari.


Belum sempat Mentari berimprovisasi akan kebohongan bapaknya dan Dara yang mana gadis itu diare cuma gara-gara kebanyakan makan rujak, bapaknya sudah membuat bising suasana dengan suara motornya.


"Jadi masih tetap mau jalan?" tanya Pram, takutnya gadis itu keberatan jika hanya jalan berdua.


"Gak masalah buat aku, Pram. Toh kamu laki-laki baik yang slalu bersikap seperti penjaga hati. Iya kan?" Mentari tersenyum lebar, pandangan matanya memaku wajah laki-laki itu ke dalam imajinasinya. Wajah yang mungkin akan menghantuinya nanti di hari-hari panjang perpisahan mereka.


Pram langsung membuka pintu mobil untuk Mentari. "Kalo gitu masuk, aku yakin berduaan saja lebih seru."


"Terima kasih, Pram. Kamu bener-bener hm... Sepertinya mantan kamu menyesal dia jalan sama mantan sahabatmu." komentar Mentari mengenai kisah cinta laki-laki yang tetap bergeming di dekatnya, padahal Mentari sudah duduk manis di jok mobil.


"Dia memang menyesal geulis, tapi memangnya aku harus apa kalo dia menyesal?" seru Pram, tidak berpancing soal mantan. Gak ngaruh lah, Tatiana sudah mati dalam hatinya.


"Aku bisa mendapat kesempatan memiliki gadis yang baik. Mungkin sepertimu?" godanya sambil membuka permen. "Kita sama-sama baik, you know? Kita gagal bukan berarti kita yang salah, mungkin itu sudah cara terbaik untuk menghalau sakit hati yang lebih kejam!"


Pram meniupkan aroma permen itu ke muka si gadis yang mengangguk setuju. Lalu ngomel-ngomel.


"Buruan masuk, keburu gelap!"

__ADS_1


"Semakin gelap semakin romantis tau!" sergah Pram, ia menutup pintu mobil seraya mengitari kap mesin dan masuk ke kursi pengemudi.


Sepanjang perjalanan menuju tempat yang ingin Pram tuju dengan bantuan google maps, laki-laki itu bersiul terus menerus sampai si pendengar setia yang terpaksa memasang wajah menikmati suasana di dalam mobil itu ingin membekap mulutnya.


"Apa selain bersiul-siul sepanjang jalan, kamu gak punya keahlian lain Pram?"


Mobil berhenti di depan tempat pembibitan ikan lele dan nila serta penjual ikan hias dan perlengkapannya di bagian toko.


"Keahlianku selain ngurus bisnis, ya cuma mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh. Udah itu aja, karena poin utama seorang pria dewasa adalah uang dan kepercayaan. Selebihnya mah, kamu mau aku ahli dalam apa, Tar? Sebutin aja, insyaallah aku bisa." akunya serius.


Mentari tersenyum penuh pemahaman seraya menjawab, "Aku mau apa yang kamu mau, Pram."


Sontak tawa laki-laki yang siap turun dari mobil itu terbahak-bahak.


"Pinter! Udah ayo turun, aku udah rindu banget lihat banyak ikan."


Segera keduanya turun dari mobil, karena tadi Pram sudah mengabari kalau akan datang sore hari, kedatangannya sudah di tunggu-tunggu oleh sang owner.


Pram menjabat seorang laki-laki seusianya, lalu mengenalkan si gemes sebagai kekasihnya tanpa embel-embel bohongan.


Mentari tersenyum sambil mengangguk, dengan begitu dia bisa pegang lengan Pram yang seenaknya ngaku-ngaku jadi pacarnya dengan leluasa.


Pram mengulum senyum. Lalu mengikuti si owner empang pembibitan itu ke kolam yang berada di belakang toko ikan hias.


Pram dan si owner tadi terlibat pembicaraan mengenai suka-duka menjadi juragan ikan sementara Mentari mendengarnya sambil tersenyum dan hati hangat. Laki-laki itu ternyata sangat berbeda jika sudah membicarakan hal serius dalam pekerjaannya. Atau sebenarnya dia baru menemukan laki-laki seperti Pram dalam dunianya?


Jadi kira-kira siapa yang akan jatuh hati duluan, bujang berusia 35 tahun dengan pesona laki-laki dewasa lengkap dengan title juragan, mobil keren kreditan dan satu dukungan penuh dari birokrasi tertinggi losmen idaman atau gadis perawan desa patah hati, gagal perfect, tidak jago masak, tapi ramah, cantik, dan jago membawa diri?

__ADS_1


•••


to be continue and happy reading.


__ADS_2