
Mentari berjaga-jaga di samping Pram agar laki-laki itu tidak terjatuh dari kursi. Dia menanti dengan sabar laki-laki itu bangun atau setidaknya pintu kamar di buka orang tuanya.
Mentari menyandarkan kepalanya di dinding, sudah ada ratusan hari yang telah di lewati mengapa Bisma tidak juga melepasnya dengan ikhlas? Apa cintanya terlalu besar untuknya? Hati Mentari seketika di sambar sembilu, rahangnya mengeras, dadanya lalu di penuhi perasaan sesak yang menggebu, ia memejamkan mata, menahan emosi, tapi itu hanya sebentar karena lubang pintu yang di jejali kunci membuat atensinya langsung mencelat kaget.
"Eh–eh–eh," Pram nyaris terjatuh jika Mentari tidak langsung berbalik dan menahan bahunya yang sejak tadi memang ia tahan dengan sisi tubuhnya.
"Maaf, sayang. Kaget ya?" balasnya dengan nada manja. "Enak tidurnya?"
Pram yang masih setengah sadar memejamkan matanya lagi sembari menyandarkan kepalanya di dinding, benaknya memikirkan kenapa gadis itu berada di dekatnya. Feeling-nya langsung kemana-mana, tapi bertanya lebih mudah untuknya.
"Apa yang kamu lakukan di sampingku Tari?" tanya Pram tanpa membuka matanya. Mentari ganti meniup wajah Pram seperti kelakuan laki-laki itu jika menggodanya.
"Aku hanya menatapmu sayang. Lagipula, tidur di kursi tidak aman. Jadi aku menjagamu biar nggak jatuh dan ujungnya benjol." bisik Mentari. Lalu berdehem dan menegakkan tubuhnya sewaktu pintu terpentang perlahan.
"Kalian tidak macam-macam?" tanya Purwati lugas sambil menatap kedua anak muda yang sama-sama bersandar di dinding. Terlebih di kamar itu lampu tidak di hidupkan, hanya TV yang menyala.
"Harusnya ibuk percaya sama aku kalo Pram itu nakal, dia maksa aku minta dia jadi satpam disini. Ngerayu-rayu." jawab Mentari, merangkai dusta yang akan melambungkan keinginan Pram.
Jakun Pram bergerak-gerak naik-turun.
Ia memang akan mendermakan sebagai waktunya di losmen idaman, mengejar harapan indah bersama Mentari setelah meluruskan dustanya sendiri di hadapan Asih tentang Pevita. Tidak buru-buru juga seperti yang di ucapkan Mentari itu lagi, jadi satpam!
Emang sih badannya cocok jadi satpam, di tambah lagi jago karate.
Mudah baginya untuk menghempaskan Bisma. Sekali tendangan bebas, keok. Tapi itu kalau jalur cepat, jalur lambat lebih berkesan baginya. Smooth and safety, menikmati setiap momen dengan rasa,
mirip-miriplah aturannya kalau dia lagi ikut traveling bersama komunitas Jeep Wrangler-nya.
Pram mengusap wajahnya, santai. Dia sudah mengaku kalah, toh paling-paling si gemes sedang mengibarkan bendera perangnya. Gak percaya banget kalau dia sudah nyerah.
"Bukan bener-bener jadi satpam seperti dugaanmu, Mentari! Kamu tuh telmi deh. Aku itu mau jagain kamu dua puluh empat jam full service tanpa perlu kamu gaji. Enak kan? Enak dong, masa nggak. Satpam pribadimu ini kalo mau dan sekali lagi aku tegaskan. Langka." balas Pram, menangkis ucapan Mentari sekaligus ajang promosi diri. Biar kesannya top lah di mata calon ibu mertua, ya gak?
__ADS_1
Purwati meringis dalam hati mendengar kata demi kata yang di lontarkan dua anak muda yang pipinya mulai merona sendiri-sendiri.
"Kalian bantu-bantu di luar, jangan hanya di kamar saja, berdua-duaan dan istirahat terus!" kata Purwati sok tegas, "itu juga dik Pram, mobilmu sudah selesai di service."
Pram yang masih ngantuk-ngantuk ayam mengangguk pasrah. "Boleh minta kopi, buk? Biar semangat oke." tanyanya sambil berdiri.
"Minta si Tari, tangan ibu kotor!" Purwati menunjukkan tangannya yang masih belepotan oli bercampur tanah dan serpihan kayu.
Ingin sekali gadis itu menolak mentah-mentah, walau ujungnya mengangguk pasrah.
"Tunggu di luar, Pram." katanya, gegas Mentari keluar dari kamar Pram seraya tersenyum bebas.
"Akhirnya lepas dari jerat om-om kebelet nikah!"
Dalam mimpimu, Tar. Batin Pram dan Purwati hampir bersamaan. Keduanya ikut meninggalkan kamar bergabung Joko dan Dara yang duduk lesehan sambil mengagumi mobil Pram yang gagah perkasa.
"Untuk pembayaran silahkan transfer ke rekening kantor mas, ini daftar pelayanan kami."
"Siap mas, tapi saya test drive dulu boleh?" pintanya, lalu menyuruh Dara masuk ke mobilnya sewaktu montirnya berkata, "Beres mas, kurang well, kita service lagi!"
Gadis itu berlonjak girang. "Makasih om."
"He'eh." Pram izin keluar sebentar menggunakan mobilnya, bukan cuma untuk test drive saja, dia ingin tahu dimana rumah Bisma dan tempat tongkrongannya.
"Yakin ini rumahnya, Ra?"
Dara mengangguk mantap. "Gak ada kerjaan banget aku bohong, om. Baca aja tuh papan di tembok rumahnya, rumah kepala desa!"
Pram sekarang percaya sambil mengamati semuanya. Rumah Bisma bagus, ada pendoponya sebagai tempat menerima tamu, baik tamu losmen dan tamu pribadi.
Sejenak Pram memfotonya, lalu melanjutkan perjalanan ke tempat tongkrongan Bisma, terus ke rumah Tegar dan Danang.
__ADS_1
"Beres! Sekalian aja rumah mertuanya Bisma kalo kamu tau, Ra."
"Jauh dari sini om, di kecamatan lain. Males ah, besok aja. Kerjaan di rumah masih banyak!" tolak Dara, "lagian Om mau ngapain sih patroli rumah mereka? Om punya rencana apaan?"
"Besok aku mau nginep di losmen Bisma sebelum kita berangkat ke Jakarta, Ra. Gue mau ngomong sama orang tuanya, heart to heart, gentleman's. Tapi kamu diem, ntar pura-puranya gue kabur dari losmen kamu biar Mentari juga panik. Setuju?"
"Ng..., Tos dulu kalo gitu om!" Dara mengepalkan tangannya seraya mengangkatnya ke udara.
Pram terkekeh, semua pihak yang menjadi backup Mentari berpihak kepadanya sekarang. "Oke deh."
Tos – Tos.
Pram kembali ke losmen idaman. Mentari memandang keduanya dengan tatapan dingin.
"Seru banget, Tar. Om ngajak kebut-kebutan tadi." seru Dara lalu terkekeh senang.
Mendengar penuturan itu, dua pegawai bengkel mobil merasa lega, mereka gegas membereskan peralatan service dan pulang ke kota. Hanya saja ada gadis yang tetap bersikap tak acuh, bahkan sampai mereka selesai kerja bakti membereskan dahan-dahan pohon yang sudah di tebang. Mentari tetap cuek.
Pram yang menangkap perubahan iklim Mentari tersenyum acuh, dia mengambil pakan ikan di rumah pak Joko seraya pindah ke kolam. Gadis itu termenung di atas kursi plastik tanpa berminat sedikitpun menoleh kepadanya.
"Kenapa sayang?" goda Pram, meraup segenggam pelet dan menebarkannya ke dalam kolam. Bunyi ikan yang berebut makanan itu memancing perhatian Mentari.
"Kasih makannya pagi dan sore aja, Tar. Ada takarannya. Nanti aku kasih tau."
Pram menyerahkan wadah bekas cat ke gadis itu. "Cobain, kalo berani sekalian celupin tanganmu waktu ikannya berkerumun! Asyik banget, Tar."
"Katanya ibuk tadi cuma test drive, kok lama? Kemana aja sama Dara? Apa dia nyusahin kamu?" Akhirnya kalimat yang di tunggu-tunggu Pram terucapkan juga.
Laki-laki itu hanya tersenyum biar memberi kesan misterius dan rahasia bagi gadis itu, meski tangannya menggenggam tangan Mentari untuk menikmati sensasi geli di sosor banyak mulut ikan di atas kolam.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.