
Pram terkekeh sambil membelitkan handuk di pinggangnya.
"Dua kali mandi aku sayang, seger bener." Ia mencondongkan badannya.
Kembali Pram mengecup perut Mentari dengan pelan, dan tersenyum bahagia. Membayangkan sebentar lagi buah hati mereka akan lahir ke dunia, Pram sudah tidak sabar menunggunya walau ketakutan menggerogoti hatinya yang terdalam.
"Lanjutin mandinya, aku siapin baju-baju kamu di kamar." Pram berjalan keluar kamar setelah Mentari mengangguk. Dia tak akan mengganggu Mentari lagi karena istrinya sudah kelelahan. Ia sudah sangat bahagia, pergulatan singkat yang mendebarkan dan selama perjalanan menemani masa hamil Mentari memang membuatnya pusing sendiri dengan keinginan-keinginan aneh istrinya, tapi semua itu membuatnya bahagia.
"Sebentar lagi kita ketemu miss sunshine, ayah Pramoedya Aji akan menjadi ayah yang terbaik untuk kamu." janjinya sambil membuka pintu lemari. Pram bersiul-siul sambil memilih bajunya sendiri yang kini warna-warni, semua warna ada sebelum memilih semua pakaian untuk istrinya Pram teriak.
"Sayang, mau pakai daster warna apa?"
"Apa saja, Aa." balas Mentari tak kalah berteriak.
Pram tersenyum lebar, dia menarik daster dengan warna yang sama dengan bajunya. Selesai menyiapkan pakaian istrinya, Pram menuruni anak tangga. Dia mempercepat langkahnya sewaktu bel di pintu gerbang terus di pencet oleh ibunya.
"Bentar, emak." Pram mengembuskan napas sambil memutar kunci pintu gerbang. Dengan tenaga super, dia mendorong gerbang itu dan tercengang mendapati tak hanya mobil Avanza ibunya saja yang menunggu antrian masuk ke halaman rumahnya, tapi juga Jeep terbuka milik Maxime.
Pram menyunggingkan senyum dan secepat kilat membalikkan tubuhnya seraya merengkuh tubuh ibunya, bapaknya, dan Dara.
"Senengnya kalian datang, rumah sepi banget gak ada yang bantuin nyapu-nyapu." aku Pram di depan Dara.
Sontak saja gadis itu langsung meninjau lengan kakak angkatnya. "Salah kalian sendiri pake minta Mbok Sum pulang kampung gara-gara cuma mau hidup berdua. Hilih, repot sendiri kan sekarang."
Pram tergelak dan mencubit hidung adik angkatnya. Sudah resmi jadi adik angkat setelah melalui proses panjang yang membuat mereka berlama-lama di losmen idaman.
Pram beralih ke Maxime, bule mata hijau itu tampaknya nyaman-nyaman aja berada di tengah keluarganya bahkan dia pun tak segan-segan ikut mengeluarkan barang bawaan orang tuanya.
"Mau ngapain kesini?" gurau Pram sambil merangkul bahunya, "Apa kamu mengencani adikku?"
__ADS_1
Maxime mengendikkan bahu sambil tersenyum. "Kami hanya berteman baik."
"Oh, temen baik. Ra, beneran kalian hanya teman baik?" sahut Pram.
Dara mengangguk, dikarenakan tujuan kedatangan mereka hari ini adalah untuk menemani Pram dan Mentari sebelum menjalani hari-hari menuju melahirkan. Dara menarik koper besar yang berisi pakaian mereka bertiga.
"Mas bule cuma mau mampir doang, katanya dia mau lihat Mentari hamil besar." ucapnya sambil menaruh kopernya di dekat sofa.
Dara melingkarkan tangannya dan memasangnya di depan mulut seperti toa sebelum mendongkak ke atas di depan anak tangga.
"Mentari, turun deh. Aku datang bawa tamu spesial!" teriak Dara.
Pram melirik Maxime yang dirangkulnya tajam-tajam.
"Aku harap kamu mengencani wanita lain, jangan adikku." bisik Pram.
"Kenapa?" sahut Maxime.
"Karena kalian pasti mengganggu hidupku dengan candaan kalian itu!"
Dara terbahak, Asih dan Bagyo pun yang tidak bisa langsung beristirahat di kamar tersenyum lebar. Dara mendekat, tangannya dengan ketenangan sempurna merangkul tangannya di pinggang Maxime.
"Kencan apa enggak, om berhenti cemburu sama mas bule. Mentari itu udah cinta mati sama kamu om, jadi gak usah takut kalo Maxime ketemu Tari." seru Dara.
Bukannya sensi dengan ucapan Dara, Pram langsung memisah Dara dengan Maxime dan menoleh ke arah ibunya.
"Emak kok gak marah Dara sama Maxime nempel-nempel gitu." protesnya, "Aku sama Tari aja dulu gak berani nempel-nempel gitu."
"Udahlah Pram. Ra, kamu siapin makanan yang kita bawa tadi."
__ADS_1
Dara mengangguk-angguk seraya menarik tantang besar di lantai dan ia bawa ke dapur.
Dara memindahkan makanan di dapur dan bolak-balik membawanya ke ruang keluarga bersamaan dengan Mentari yang turun dari kamarnya.
"Eh, mas bule. Kesini juga?"
Maxime tersenyum lebar sambil mengangguk. "Aku sedang mengencani adik dan orang tuamu."
"Bagus dong." Mentari mencium punggung tangan Asih dan Bagyo sebelum duduk di samping Pram.
"Jadi gimana, neng, Pram, udah dapat nama yang bagus untuk cucu emak dan bapak?" tanya Asih setelah Dara selesai menyiapkan makan siang mereka dan mereka pun duduk melingkar di atas tikar. "Jangan miss sunshine, emak masih tidak terima."
Maxime mengulum senyum dan menyentuh punggung Dara sewaktu gadis itu dan Mentari menahan tawa akan tingkah Pram yang menggelengkan bingung sambil cemberut.
"Emak saja yang ngasih nama." balas Pram dengan nada pasrah. "Tapi julukannya tetap little miss sunshine."
Asih terdiam sesaat sambil memandangi suaminya. "Gimana mas, boleh aku kasih nama untuk cucu kita?"
"Terserah kamu, Sih." Bagyo menguap dan membaringkan tubuhnya di karpet, batal ikut makan siang saking ngantuknya. "Yang penting cucu aki sehat."
Asih tersenyum lebar dan mengangguk. Dia memandangi Pram dan Mentari bergantian lalu buka suara.
"Emak ngasih namanya besok kalo udah lahiran. Oke, sip?" Asih mengacungkan kedua jempolnya di depan Mentari dan Pram.
Pram mengusap wajahnya dan mengangguk. "Terserah emak lah, yang penting miss sunshine punya nama."
Dara terbahak dan ia yang telah mengencani Maxime selama kurang lebih lima bulan menyandarkan kepalanya di lengan pacarnya itu.
"Lucu kan mereka?"
__ADS_1
"Sama sepertimu."