Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Antara lele dan nila.


__ADS_3

"Jadi mau lele apa nila, Tar? Itu yang paling mudah untuk di pelihara." ujar Pram, mengelus punggung tangan Mentari yang masih menggenggam lengannya.


Mentari lantas menurunkan tatapannya ke dua tangan mereka yang saling menyentuh dalam drama siapa jatuh cinta duluan. Sebuah kesepakatan yang mereka akui waktu nyuci baju tadi siang.


"Menurutmu mana yang paling bisa aku urus soalnya nanti kamu pulang dan meninggalkan semua peliharaanmu di rumahku, Pram. Aku gak pintar untuk itu." kata Mentari resah.


"Lele lebih mudah, sayang. Cuma nanti kamu gak bisa bedain mana lele betina mana lele jantan karena semua kumisan." urai Pram, perutnya mengeras menahan tawa.


"Tapi lele gelap, Pram. Aku mau nila aja, yang cerah dan bisa di lihat setiap hari. Kalo lele enggak, dan mungkin itu akan sama sepertimu nanti. Gelap, di dasar dan tak terlihat."


Mengerti arti ungkapan Mentari. Dada Pram langsung nyut-nyutan.


"Apa mungkin gue harus memperpanjang jadwal nginep di losmennya?" tanyanya dalam hati. Sontak ia tersenyum maklum sambil balas menggodanya, "ya udah nila aja, toh itu warnanya seperti nama kamu, Mentari. Oren, cerah dan bakal menerangi jalanku menuju KUA."


Perang rayu merayu itu membuat si owner empang pembibitan ikan tersenyum-senyum sendiri.


"Jadi mau bibit yang mana mas?" tanyanya, menghentikan mulut Pram yang hendak bicara.


"Nila dua ratus ekor mas, tapi minta tolong kirimnya besok sore saja karena kolamnya sekarang belum siap di gunakan." jelas Pram.


"Siap mas." Si owner mengangguk, "ayo ke depan untuk pembayaran dan alamat tujuan."


Setibanya di dalam toko yang di penuhi suara gemercik air, Pram kembali menyebutkan permintaannya untuk melengkapi kolam yang akan dia klaim sebagai empang persembahan darinya untuk keluarga pak Joko.


Sementara Mentari bergeming di depan akuarium besar berisi ikan mas koi Oranda, jenis ikan yang banyak di pilih sebagai ikan hias rumahan karena bentuknya yang gemes. Mentari tersenyum semringah, dan senyuman itu Pram ketahui.


"Mau?" tawarnya, "aku punya di kamar dan itu terapi terbaik gue selama stres, mungkin juga baik untuk kamu, Tar."

__ADS_1


"Aku belum ganti uangmu kemarin, Pram. Masa iya aku nambah bon lagi di kamu." pungkas Mentari, "nanti juga udah ada nila yang jumlahnya dua ratus, itu udah rame banget."


"Beda, geulis. Ikan ternak sama ikan hias efek terapinya." balas Pram sambil menghela napas, "jawab aja mau apa enggak dan apa menurutmu aku kekurangan uang sampe bon kamu harus aku tagih? Aduh, geulis. Menafkahimu sekarang saja aku mampu!" kata Pram dengan gaya.


Mentari segera mengangguk tanpa pencitraan lagi.


"Ambilin ya, lima." katanya sambil mengangkat ke lima jari tangan kanannya. Mentari tersenyum lebar.


"Lima?" Pram ikut mengangkat ke lima jari kanannya. Ia melirik si owner yang senyum-senyum sendiri, karena hanya dia yang tahu maksud dari tatapannya.


Bayangkan saja lima ekor ikan koi mas Oranda itu lebih mahal dari dua ratusan ekor bibir ikan nila. Belum lagi akuariumnya, aksesorisnya, makannya.


Jelas saja, si owner itu senyum-senyum sekaligus dengan senang mempersembahkan jaring dan ember berisi air ke tangan Pram.


Pram mengembuskan napas. Satu juta ludes dalam sehari hanya demi gadis yang menunjuk setiap ikan mana yang memiliki motif lucu dan gemes yang ia mau. Tapi bagi Pram, ikan dan dia tidak akan pernah mempunyai ikatan batin sampai kapanpun, makanya mau di kejar, di ubek-ubek sampai isi akuarium pusing tetap saja satu ikan terakhir yang begitu gendut dan menggemaskan tidak juga bisa ia jaring.


Mentari cemberut, walau begitu permintaannya tetap lima ekor. Makanya, Pram masih wajib mengambil satu ikan lagi dengan warna yang berbeda sebelum dia serahkan kepada si owner untuk di pindah ke plastik besar dengan tambahan oksigen. Baru setelahnya memilih aksesoris wajib untuk akuarium kaca berbentuk bulat.


Pram mengulum senyum, membayar semuanya dengan sikap jumawa meski dalam hati dia minta kortingan biaya sembari mengedipkan sebelah matanya sebagai kode. Tapi sayangnya itu gak mempan.


"Langsung pulang ya, Pram." kata Mentari setelah semuanya sudah berada di mobil.


"Iya, sayang." balas Pram, sejujurnya kata itu hanya meniru ucapan Bisma kemarin. Tapi berhubung lagi tempur, sayang adalah kalimat yang wajib dia gembor-gemborkan demi mengalahkan Mentari agar dia jatuh suka duluan, karena perkara jatuh hati itu pasti jadi ritme selanjutnya setelah jatuh suka.


Setibanya di rumah, senja memudar di ufuk barat. Pram dan Mentari gegas membawa masing-masing barang-barang dari atas mobil ke dalam losmen.


Joko dan dua pengikutnya sembunyi di dalam rumah meski sambil mengintip dua orang yang ribut lagi di taman. Tapi segera setelah dua orang itu ke arah rumah pribadi, sekonyong-konyong ke tiga orang itu masuk ke kamar masing-masing.

__ADS_1


"Permisi," ucap Pram sewaktu masuk ke kamar Mentari, dia bergeming di ambang pintu sambil melihat kamar bernuansa putih dengan warna-warna pastel yang lembut di mata.


Pram tersenyum bingung, "Mau kamu taruh dimana akuariumnya?" tanyanya karena di kamar itu hanya ada lemari dan meja rias sebagai perabotannya.


"Di sini, sebentar!" Mentari gegas memindah alat kecantikan dan beberapa pernak-pernik dari atas meja riasnya ke kasur. Ia duduk sambil melihat Pram mulai menghias akuariumnya dengan pasir, beberapa batu koral sebelum memasukkan lima ekor ikan ke dalam akuarium dengan penuh ke hati-hatian.


Mentari tersenyum sambil memandang hal baru di kamarnya dengan takjub. Pram yang masih berjongkok di depan akuarium dan ke lima ikannya. Dua hal baru yang sama-sama memberi efek magic tersendiri baginya.


"Kayaknya udah beres ini, Tar." Pram menoleh, dia malah mendapati si gemes tersenyum dengan mata tidak fokus. Pram tersenyum usil, ia mencelupkan tangannya ke dalam akuarium seraya mencipratkan airnya ke muka Mentari.


Gadis itu tergeragap, manik matanya langsung mencerna laki-laki yang kini benar-benar berada di depannya.


"Mikirin apa sayang?" seloroh Pram sembari beranjak, "kayaknya magrib-magrib emang gak baik berduaan di kamar. Aku keluar dulu."


"Tunggu!" Mentari menahan lengan Pram yang hendak berbalik.


Pram menghela napas. Dia terlihat tenang tapi hatinya membuncah akan rasa kikuk berada di kamar seorang gadis yang batal nikah.


"Ada apa, Tar?" tanya Pram tanpa membalikkan tubuhnya.


Mentari lepas tangannya sebelum berdiri.


"Aku ikut ke Jakarta!"


•••


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2