
Pram berkeliling di seluruh rumahnya lalu terduduk di anak tangga waktu tengah malam. Dadanya sesak mengetahui Mentari mengembalikan benda-benda sepele namun upaya untuk menemukannya unforgettable memories.
"Maafkan aku, Mentari."
Pram berjibaku dalam hening, kumpulan waktu yang dihabiskan bersama Mentari ternyata belum cukup membuatnya mengerti bahwa Mentari menerima segala kekurangannya dalam jujur.
Pram menyugar rambutnya dengan frustasi, ia berdiri, menuju kamar berukuran 4x3 meter itu. Pram meraba dinding, mematikan lampu utama yang menerangi tubuh istrinya yang telah terlelap dari jam sembilan tadi.
Pram merangkakkan tubuh kekarnya di kasur lalu mencium pipi Mentari.
"Tari... Sayang... Terima kasih."
•••
Pram membuka matanya, dia melihat sepasang mata ngantuk memandangnya sambil tersenyum. Imajinya melejit ketika impiannya terbangun dari tidur ada Mentari di sisinya terealisasikan.
"Aku masih mimpi."
Mimpi kok cengar-cengir.
Mentari menatap Pram. "Gimana Aa, sudah membaik?"
Pram menarik napas panjang dan siap meluncurkan cerita panjang pembelaan lagi. Tapi dia ingat dia belum gosok gigi.
Pram mengubah posisi tubuhnya hingga berposisi terlentang.
"Ini terlalu pagi untuk membangunkan aku, Tari. Mau apa jam segini? Di luar masih gelap."
__ADS_1
"Aku rindu kabut." sahut Mentari.
Kabut?
Pram terpana, kantuk yang masih menggantung di kepalanya langsung bablas minggat entah kemana. Dia lalu bergerak gelisah di tempat tidurnya.
"Kenapa tiba-tiba, sayang? Di Jakarta nggak ada kabut seperti di rumah ibu."
"Terus Aa nggak ada ide gitu untuk mewujudkan kabut untukku?" tanya Mentari, dengan segenap pesonanya sehabis tidur. Perempuan itu bangkit, duduk bersila di depan suaminya yang hanya memakai kaos kutung, pamer ketiak. Sukanya begitu, sepanjang hari kecuali jika kaos-kaos kutungnya masih di cuci dan belum ia setrika.
"Ke puncak nanti malam mau, Tar?" tawar Pram, "Kalo sekarang tanggung, keburu pergi kabutnya waktu kita sampai ke sana, sayang."
Pram ikut bangkit, satu pesona paling ia sukai sedang cemberut di depannya. Ia juga tak habis pikir, bangun tidur yang dirindukan kabut. Bukan dirinya. Jadi karena ia merasa kalah saing dengan kabut, Pram menghela napas.
"Aku mau pulang, Aa. Ke rumah ibu dan bapak. Aku rindu kabut rumahku."
Tatapan Pram menyipit, tiba-tiba sekali permintaannya, apa itu ada hubungannya dengan hari kemarin?
"Besok setelah renovasi rumah ini selesai kita pulang ke rumah, setuju kan?" Pram memaksakan senyum, " Aku juga rindu kabut di rumahmu. Dingin. Rindu lari-lari di jalanan yang sejuk, tapi aku lebih rindu kenangan di rumahmu." urainya dengan riang yang di paksakan.
Mentari terlalu terpana untuk berkata-kata lagi. Emang dasarnya pintar merangkai kata suaminya, maka alasan itu terbilang bagus meredam keinginannya menemui kabut.
"Tapi beneran? Aa nggak keberatan kita pulang ke kampung sebentar?"
Dalam sekali rengkuhan dia memeluk Mentari.
"Nggak sayang." Akan tetapi jika ia mau jujur, ia penasaran apakah istrinya itu benar-benar hamil?
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Roni yang kembali berkunjung bersama tukang-tukangnya menemukan pemilik rumah itu sedang memberi makan ikan.
"Jadi keputusannya gimana, bro? Lanjut atau gak nih ngecat rumahnya, ntar yang ada kayak kemarin!" eluh Roni sambil mendekat.
Pram mengulurkan ember kecil berisi pelet ikan ke tangan Mentari seraya menghampiri Roni.
"Jadi, bro. Nggak ada pembatalan. Lakuin aja sekarang, secepatnya soalnya gue sama Tari mau pulang kampung."
"Lebaran masih lama kali, bro!" sahut Roni hingga perempuan yang sedang berada di pinggir empang menoleh dengan sinis.
Pram nyengir, tidak bisa membuat bahasa tubuh apa-apa untuk menegur ucapan Roni.
Mampus lagi gue, baru juga jadi anak baik-baik. Kena lagi.
"Lanjutin terus sayang, ikan-ikannya masih pada lapar." kata Pram riang. Roni menepuk bahunya dengan kadar persahabatan yang tinggi.
"Kenapa elo, bro?" tanyanya sewaktu meninggalkan Mentari seorang.
Pram mendengus tanpa sadar di tempatnya berdiri. Demi Tuhan, tadi pagi setelah bangun tidur ia dan Mentari keluar rumah, mencari udara dingin sambil jalan-jalan. Habis itu masih harus masak, menemani istrinya berjemur dan membicarakan ikan.
"Bini gue tadi pagi minta ketemu kabut, Ron. Minta pulang ke kampung halamannya makanya dia sinis waktu elo bilang lebaran masih lama!" jelas Pram, takut Roni tersinggung dengan tatapan istrinya tadi.
Dan Roni ternganga. Informasi itu di luar dugaannya, pasalnya mau kelihatan sinis atau tidak Mentari tetap enak di pandang. Semua temen-temen satu tongkrongannya mengakui kehebatan Pram bisa meluluhkan gadis itu dengan tempo cepat.
"Gue kasih saran, mending elo beliin istri elo testpack bro. Uji cobanya waktu pagi." Roni menepuk pundak bidang Pram. "Gue doain hamil, biar usaha elo selama ngurung bini elo itu nggak sia-sia."
Pram mengacungkan tangannya. "Ntar gue beli!"
__ADS_1
•••
to be continue and happy reading