Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Merayu Maxime


__ADS_3

Pram kembali bergabung di taman seusai urusan Dara dan Mentari selesai. Kondisinya sudah aman baginya, ia bisa tidur dengan nyenyak di kamar. Sementara bagi Maxime yang masih memasang muka sebal dan diam tidak. Ia menatap gusar sekelilingnya seolah wasapa jika nanti tiba-tiba Dara kembali melakukan hal yang sama. Kondisi itu semakin diperparah sewaktu sarapan bersama telah tiba.


Semua berkumpul seperti keluarga besar, melebur akur dalam canda tawa kecuali tatapan Maxime kepada Dara yang ingin mengajak perang. Namun hal itu mendadak buyar saat Asih bertanya keinginan Maxime untuk mengajak anaknya jalan-jalan.


"Punten kasep, gimana jadi ngajak Dara traveling?"


Pram pun batal menyuapkan perkedel kentang ke mulutnya, sebagai gantinya ia memasukkan perkedel kentang itu ke mulut istrinya yang menganga menanti apa yang hendak Maxime ucapkan.


Maxime menggeleng, keputusan Dara tadi malam memang cukup masuk akal. Cuma pelukan itu yang dia sesali kenapa gitu harus terjadi, dan bukannya mau sok suci, bule mata hijau itu sudah biasa pelukan bahkan dengan orang asing yang menginginkan foto dengannya. Kini dalam bayangannya losmen idaman yang slalu mengingatkannya pada Mentari, tergantikan dengan muka tengil dan rese-nya Dara.


"Maaf tidak bisa, Dara semalam sudah berkata jika dia ingin menjadi anak yang baik untuk kalian." ucap Maxime memilih jujur. "So, saya tidak bisa memaksa dia ikut kami karena itu sudah keputusannya."


Dara langsung menunduk, mengaduk sayur asem di piringnya lalu makan dengan tekun ketika semua mata tertuju padanya.


"Beneran, neng?" tanya Asih sambil mengusap punggung Dara. Seuntai kata haru tercekat di tenggorokannya.


Dara mengangguk, "Aku mau sama emak sama bapak aja daripada traveling jauh-jauh, gak ada yang jagain aku, om juga khawatir, cuma Mentari tuh yang pengen aku pergi sama Maxime."


"Itu karena kamu naksir dia, Ra." sahut Mentari. "Aku cuma bantuin kok." akunya lalu menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Pram.


"Aa jagain aku, Dara kalo marah ngeri." bisik Mentari, tapi karena sedang tak sehati. Pram berdiri.


"Aa mau kemana?" tanya Mentari, menahan ujung kaos Pram.

__ADS_1


"Bicara sama Maxime di luar." Pram mengusap kepalanya sambil tersenyum hangat, urusan dengan Maxime harus di luruskan. "Everything gonna be okay, kamu lanjutin makannya."


Dan semuanya jadi ambyar, salah paham dan yang menjadi perbincangan pergi. Maxime keluar mengikuti Pram sementara Dara melirik sedikit demi sedikit orang-orang yang melihatnya dengan muka-muka minta penjelasan.


Dara melambaikan tangan, menandakan dia ingin mengintip kemana dua laki-laki itu pergi.


"Lho, lho, lho. Kok pada naik mobil." Dara mempercepat langkahnya untuk menjangkau mobil Pram yang berhenti di tengah gerbang, sayang karena Pram memang sengaja tidak ingin ada yang tahu kegiatannya kemana. Dia tak acuh terhadap Dara.


"OM, MAS BULE JANGAN DIMARAHIN!" teriak Dara, ia mendesah lelah dengan raut wajah panik.


"Balik ajalah, emak pasti lebih butuh penjelasan." gumamnya, memutar tubuhnya di bawah naungan dedaunan rindang.


•••


"Baru setelah kami ketemu, dia gue ajak hiling ke Jakarta bareng Mentari. Dia seneng banget, Max. Tiap hari pengen ke sana, ke sini. Gue yang emang pernah ngerasain gimana di posisi Dara senanglah bikin orang lain senang."


Dia merangkul Maxime setelah menepuk-nepuk punggungnya sambil tersenyum. Dan tanggapan Maxime cukup mencengangkan sebab sejauh yang ia ingat, Pram cukup tidak menyukainya karena Mentari.


"Ada apa mengajakku ke sini?"


"Sorry kalo Dara bikin kamu gak nyaman soal tadi malam. Dia mungkin kagum sama kamu karena kamu adalah bule pertama yang dia lihat pertama kali di losmen."


Pram terkekeh sambil mengelus kepala anak-anak panti yang menghampirinya lalu memandang takjub bule yang tersenyum canggung.

__ADS_1


"Beberapa orang gak seberuntung kita, termasuk Dara dan mereka. Tapi karena sekarang dia adek angkat gue, dan sebenarnya aku cukup terharu dengan ucapannya tentang jagain emak sama bapak. Aku sebenarnya mau tanya sama kamu, Max?"


Pram mengangguk setelah menyerahkan jajanan ringan. "Di bagi-bagi!" serunya.


"Iya om, iya, makasih." Ibu panti yang melihatnya menjura. "Ibu dan bapak tidak ikut mas?"


"Nanti mereka nyusul, ibu. Sekarang saya cuma main, bawa temen ini. Siapa tau nanti kepincut jadi donatur." goda Pram sambil menyikut pelan lengan Maxime. Ibu panti mengamini lalu mengurus anak-anak asuhnya.


"Soal apa?" Maxime mengedarkan pandang sambil duduk di kursi semen. "Ini bukan soal serius bukan?"


Pram terpaku. Laki-laki itu mendadak menegakkan tubuh. Ragu, dia bersiul-siul menirukan suara burung yang bercicit-cicit.


"Kamu ingin membuang waktu bersamaku?" tanya Maxime.


Pram seketika mendelik. Dia tertawa tergelak-gelak hingga tubuhnya bergetar-getar.


"Apa kamu bisa menemui Dara lagi setelah dia di Jawa barat nanti?" tanya Pram kemudian.


"Untuk apa?"


"Berteman!"


Maxime mengendikkan bahu. Sebagai orang yang sudah cukup usia dan melihat bagaimana kisah cinta orang terdekatnya ia mengindikasikan kalau Pram sengaja ingin membuat Dara bahagia dengan menyeretnya.

__ADS_1


"Aku pikir-pikir lagi." Maxime bergeser, ia merasa Pram punya keinginan untuk merangkulnya lagi dari belakang. Merasa sok akrab setelah kemarin-kemarin cuma membuatnya kecewa.


__ADS_2