
"Mentari...," panggil Dara sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar pengantin baru. "Udah jam tujuh nih, sarapan dulu kek, jadi istri yang rajin gitu, nyapu-nyapu dulu, nyuci baju. Di kamar mulu, nggak bosen yah?" keluh Dara sambil tetap mengetuk pintu.
"Di luar ada emak dan bapak juga, mertua kamu tuh."
Pram yang baru mengungkung tubuh Mentari dalam pelukannya semakin mengeratkan pelukannya.
Ganggu amat tuh bocah. Gak ngerti amat pengantin baru butuh waktu berdua. Lagi manis-manisnya juga. Lagi adaptasi tidur. Ini, ganggu amat.
"Aa, dari subuh tadi kita udah bangun. Sebaiknya kita keluar, nggak enak sama yang lain." kata Mentari sembari memutar tubuhnya. Ia menghadap Pram yang tersenyum hangat menatapnya.
"Sebentar sayang, jangan buru-buru bangun." Pram menundukkan kepala untuk mencium kening Mentari.
"Aku pikir emak dan bapak ikut rombongan pulang ke Jawa barat, ternyata mereka nongol lagi." kata Pram sambil mengelus punggung Mentari, "Mau apa ya mereka."
Mentari tersenyum sambil menggelengkan kepala. Berada di pelukan laki-laki yang sudah menjamah sedikit tubuhnya semalam terasa sangat menggelikan.
"Makanya ayo keluar Aa biar tau."
Pram menyelipkan tangannya ke balik kaos Mentari, menyerap kehangatan punggung istrinya lewat telapak tangannya.
"Cium dulu, Tar. Yang mesra, boleh deh kalo sedikit agresif."
Mentari jadi terkekeh tidak jelas, lalu saking tidak taunya meski gimana dengan sifat mesum suaminya, ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Merasakan kehangatan yang nyaman.
Pram jadi tersenyum geli, ada-ada aja.
"Cium dada aku juga boleh, Tar. Boleh banget malah. Nanti gantiiiiawww... Suka banget nyubit. Sakit sayang." Pram mendongkakkan dagu Mentari.
"Mau aku cubit juga?" tawar Pram sambil menindih kedua kaki kecil Mentari seakan benar-benar tidak ingin berpisah.
Mentari mengerucutkan bibirnya, merasa menjadi tawanan bujang lapuk yang butuh melampiaskan hasrat setelah masa-masa yang terlewati tanpa aneh-aneh.
"Masa cium terus, tadi waktu bangun udah, waktu mau tidur juga udah, masa sekarang iya lagi." protes Mentari, merasa kecil di pelukan Pram yang begitu hangat dan nyaman.
Pram menyentuh hidung Mentari dengan hidungnya. Dua pasang mata yang saling mengadu pandangan itu membuatnya resah karena gadis itu membalas pelukannya juga sama eratnya.
"Kan pengantin baru, jadi boleh nambah, sayang. Itung-itung kenalan biar akrab." kata Pram.
Mentari lantas memejamkan mata, membiarkan Pram menyentuh bibirnya, memuaskan naluri dan diamnya kedua manusia yang sedang di landa hasrat tiba-tiba itu membuat Dara heran.
__ADS_1
"Masa iya tidur lagi?" gumamnya sambil berkacak pinggang.
Dari arah belakang, Asih yang sudah tak sabar menunggu anak-anaknya makan carica bersamanya mendekat.
"Belum bangun?" tanya Asih.
"Tadi subuh-subuh udah, Mak. Pada mandi kata ibu, kalo sekarang paling-paling tidur lagi." Dara mengendikkan bahu.
Asih tersenyum geli, "Bangunin lagi, Ra. Biasanya Pram jam segini olahraga, nggak yakin emak mereka tidur lagi orang Pram itu rajin anaknya."
Pram meremas pantat Mentari saking gemasnya dengan ucapan emaknya sendiri.
Nggak tau apa lagi enak-enak nya ini.
Dara manggut-manggut seraya mengetuk lagi pintu kamar.
"Ommmm, di cari emak nih. Hayu bangun. Sarapan bareng-bareng, udah pada nungguin nih. Lapar tau nungguin orang bangun, nggak sadar-sadar sih!" seru Dara.
Pram melepas ciumannya sambil menurunkan tangannya dari kekenyalan kulit dada Mentari.
"Benar katamu, Tar. Banyak gangguan." Pram mendengus, "Ayo keluar, kita sarapan dulu biar mereka tidak khawatir kita kelaparan di kamar, Tar."
Padahal ada tuh sisa hajatan kemarin yang belum basi di atas meja. Belum mereka makan karena asyik memakan tanpa mengunyah satu sama lain.
Pram nyengir sewaktu istrinya masih tiduran sambil menunjukkan ekspresi tanggung amat.
"Basah ya?" godanya sembari membantu istrinya duduk.
Mentari cuma tersenyum datar. Ia meraih sisir rambut di meja, karena malas ia menyerahkan sisir itu kepada Pram.
"Tolongin." pintanya sambil memiringkan tubuh, membelakangi Pram.
Dengan senang hati Pram mengiyakan, menyisir rambut hitam Mentari sembari sesekali menciumi tengkuk lehernya. Tambah geli, tambah ingin hanya terus terus berduaan saja di kamar.
Mentari mengembuskan napas sesaat kemudian setelah Pram merapikan rambutnya.
"Aa, jangan ngomong apa-apa sama mereka ya, aku malu." ucap Mentari pelan sewaktu Pram memakai celana panjangnya.
"Iya sayang. Tapi tahan-tahan ajalah kalo emak godain."
__ADS_1
Keduanya lantas membuka pintu kamar, Asih dan Dara masih menunggu bak satpam.
"Pagi, mak, Ra? Apa kabar?" sapa Pram dengan nada bercanda. "Maaf lama, soalnya aku habis jalan-jalan ke dunia fantasi, eh taunya ini dunia nyata yang penuh resonansi."
Mentari cekikikan seraya mencium punggung tangan mertuanya.
"Pagi, emak. Pagi, Ra." sapanya.
Asih langsung memandang keduanya, mencari tanda-tanda awal percintaan pengantin baru. Nihil.
Pram berdehem. "Nikah udah ya, Mak. awas kalo buru-buru minta cucu! Aku sama Mentari lagi mau honeymoon setelah acara di rumah nanti."
"Ya." Asih mengangguk padahal baru mau ngomong cepat di segerakan bikin cucu buat emak biar bisa di sayang-sayang, di timang-timang, eh malah sudah di skakmat duluan.
"Ya udah ayo sarapan, takutnya kalo di sini terus nanti ada yang kelaparan. Aku nggak tega banget kalo sampai itu terjadi." sindir Pram sambil mendorong Mentari perlahan-lahan.
Dara terkikik geli, seusai sarapan. Asih dan Bagyo bergabung dengan besannya sementara Mentari dan Pram kembali ke kamar.
Mentari menurunkan semua baju-bajunya dari lemari, mulai memilih mana yang mau dia bawa dan dia tinggalkan. Sementara Pram, asyik tidur-tiduran sembari memainkan ponselnya.
"Aa,"
"Apa?"
"Soal tanah satu hektar itu, Aa dan emak serius?"
"Gak pernah bercanda emak tentang itu, kenapa?"
"Jadi takut aku di incar pegawai pajak."
Pram cekikikan, asli bisa-bisa kepikiran tentang pajak ini cewek di tengah-tengah suasana pengantin baru. Mau heran, tapi ini Mentari. Si cewek yang mulai menunjukkan jati dirinya setelah gagal perfect gara-gara dia.
"Nggak usah di pikirin, sayang. Urusan ku itu, urusanmu cuma menjadi istri yang baik buat aku."
"Hmm... memangnya kurang baik apa aku, Aa? Sejak awal kamu ganggu aku, aku udah baik banget bantuin kamu."
"He'eh, percaya kamu baik. Nggak licin, pokoknya keset-keset gimana gitu alias kamu nggak mudah untuk jatuh, tapi juga nggak begitu menyusahkan dan nyaman. Makanya aku suka karena kamu sangat meresahkan, Tar."
Mentari menghela napas. Bisa-bisanya Pram menyatakan itu dengan perasaan yang mirip bawa sendal mewah ke masjid waktu jumatan. Takut kehilangan.
__ADS_1
•••
to be continue and happy reading.