
Mentari menekuk lututnya dengan ragu-ragu di depan Asih yang melipat kedua tangannya di depan dada. Raut wajahnya terlihat cemas. Lagipula siapa yang tidak cemas, siapa yang tidak malu, bra merah mudanya di lihat semua orang di siang bolong dengan jelas.
Mentari mengulurkan tangannya ke belakang untuk menyembunyikan benda menyangga itu dari pandangan Asih dan anaknya yang pasti sekarang pikirannya sedang merenungkan isinya.
Mentari memangku kedua tangannya di atas paha. Dia menunduk, bernapas dengan sewajarnya walau jantung rasanya sudah seperti sedang mendaki gunung, deg-degan bukan main sampai-sampai telapak tangannya lembab. Meski ada Pram di sampingnya, dia tetap tidak aman.
Mentari mengangkat dagunya,
menanti Pram atau orang tuanya buka suara. Tapi satu keluarga itu masih mengatupkan bibirnya rapat-rapat, seakan sedang menguasai keadaan. Tapi detik itu juga Asih yang melotot ke anaknya menoleh kepadanya.
Mentari terhuyung mundur sambil memberi senyum kaget. Dia tidak akan kemana-mana sebelum perihal tentang resah yang berpendar di sekitar Asih dan Bagyo menghilangkan.
"Ngapain di sini?
"Main, Tante."
Pram menyemburkan tawa di sela-sela tegang yang meningkat di raut muka ibunya. "Ya ampun, geulis. Kamu jujur banget sih, jadi gemes." serunya sambil merentangkan sebelah tangan kirinya di bahu sofa.
Pram menghela napas lalu memandang orang tuanya yang sempat melempar pandang dalam sekejap mata.
"Aku nggak punya pacar, mak, pak." katanya tenang tapi tandas, "Pevita hanya akal-akalan ku saja untuk bikin emak tenang."
Asih menutup mulutnya yang ternganga. Ia terlihat ngeri akan pernyataan anaknya.
"Maaf, mak. Kemarin aku pergi ke Bali juga bohong kok, aku main ke rumah Mentari di Jawa tengah. Nginep di penginapannya dan dia yang ngobrol sama emak di telepon."
Kini gantian Bagyo yang takluk dengan pernyataan anaknya. Dadanya mengembang dan mengempis dengan kasar. Tapi anaknya terus lanjut, dan jika ada yang bertanya kemana arah pembicaraannya. Pram menoleh, memandangi sebelah wajah Mentari sambil tersenyum.
"Cincin kemarin masih menunggu jari yang tepat, Mak. Tapi kalo emak dan bapak rela melepas rasa kecewa karena kebohonganku kemarin, aku akan perkenalkan Mentari sebagai calon istriku. Tidak bohong karena ini serius." Pram mengelus bahu Mentari.
Tak hanya orang tua Pram yang kaget, Mentari juga melebarkan matanya sambil menoleh. Dia menaikkan sebelah alisnya, tahu ia harus menyetujui semua yang Pram ucapkan, tapi ini masih di luar skenario yang mereka sepakati.
__ADS_1
Asih terdiam, tapi matanya terus mengamati gerak-gerik dua tahanan rumah yang menggantikan posisi Tegar dan Danang itu dengan seksama.
"Emak memang pengen cepat-cepat punya mantu, Pram. Tapi gimana emak bisa percaya kalo kamu sudah bohong sama emak?" urai Asih sambil membetulkan jilbabnya.
Kedatangannya hari ini ke rumah anaknya memang hanya untuk singgah dan memastikan para pekerja Pram melakukan tugasnya dengan baik. Tapi, jemuran yang berkibar malas di halaman belakang sangat menyita atensinya.
Asih tersenyum dalam hati, mestinya ia dengan ridho menyukai kejujuran putranya, tapi namanya sedang mengintrogasi seperti polisi, beramah tamah jadi urusan nanti.
Asih memutar bola matanya langsung sewaktu Pram dengan santai menusuk-nusuk punggung Mentari tanpa kecanggungan di depannya.
"Pokoknya emak mau dengar semuanya, entah dari kamu Pram, atau geulis!" Asih berseru, merasa tidak di acuhkan oleh kedua anak muda yang asyik bercanda-canda dengan sorot mata mereka.
Mentari menarik tangannya dari belakang punggung Pram, lalu menunduk sambil menyunggingkan senyum.
Pram menahan diri untuk tidak mengusap kepala Mentari sebagai gerakan otomatis yang mulai dia sukai.
Pram beringsut turun dari sofa untuk duduk lebih rendah dari orang tuanya, dan gerakan itu di ikuti Mentari setelah menutup bra-nya dengan bantal sofa.
Asih dan Bagyo cukup terhenyak, di tambah lagi waktu Pram meraih tangan keduanya dan mencium punggung tangan mereka dengan sikap anak baik-baik, hati Asih menghangat, teringat akan Pram kecil.
Di saat yang sama, Sum dan Dara bergeming di belakang pintu, nguping penjelasan Pram tentang hari-harinya yang terlewati di losmen idaman.
"Mbok kudu cerita tadi waktu emak tanya-tanya, maap, geulis." kata Sum tidak enak, tapi namanya juga kerja, ia tetap tunduk di bawah birokrasi tertinggi rumah itu jadi bisa di pastikan kalau ucapannya dengan ucapan Pram berbeda, Asih benar-benar tidak akan mempercayai anaknya, apalagi gadis pemilik kutang berenda itu.
Dara menoleh dengan muka geli. Gak tahan dengan muka partner mainnya yang tak kuasa menahan kekehan mendengar penjelasan Pram.
"Jadi emak udah tau siapa kita, Mbok?"
Sum mengangguk, "Sudah, geulis. Cuma emak pingin tau ceritanya langsung dari si kasep. Mbok harap, kasep dan si awewe nggak salah. Mbok tau, si awewe baik, telaten. Si kasep juga sudah mirip soang, mau nyosor mulutnya si awewe terus! Mbok sampai lieur jagain si kasep!"
Dara menyemburkan tawa akan penuturan Sum yang begitu di bayangkan lebih dalam semakin terpingkal-pingkal sendiri.
__ADS_1
"Perutku sakit, Mbok." Dara membungkuk sambil menekan ulu hatinya. Sum jadi gawat sendiri. Suara nyempreng Dara pasti sudah mengambil alih atensi semua orang di ruang keluarga itu.
"Hayu kabur, jangan di sini." Sum menarik tangan Dara, gadis itu mengikuti Sum keluar dari dapur sambil membungkuk.
Sementara di dalam rumah, Asih mengerti semua yang terjadi, dia menilai Pram dan Mentari tidak berbohong, tidak ada yang di palsukan, semua sama seperti yang Sum jelaskan kepadanya tadi.
"Lalu mana cincinnya?" tanya Asih.
"Di kamar, Mak. Mau Pram ambilin?"
Asih mengangguk. Sejenak tatapan Pram menubruk sorot mata gadis yang lelah menunjukkan rona wajahnya.
"Bentar ya." ujung jarinya membelai pipi Mentari dengan lembut. Mulut Mentari melengkung senyum.
Pram berdiri, gegas menaiki anak tangga untuk mengambil cincin yang berada di laci meja kerjanya. Ia tak pernah membayangkan bahwa hari ini ibunya benar-benar melihatnya membawa gadis cantik menginap di rumahnya. Entah apa yang ada di pikiran ke dua orang tuanya karena mereka hanya mendengar tidak berkomentar.
Pram menuruni anak tangga dengan mantap, lantas mengulurkan kotak beludru putih itu kepada ibunya.
"Maapin, Pram, mak, pak." katanya dengan muka menyesal.
Asih membuka kotak beludru putih yang ia beli dengan segenap hati dengan sisa rasa kecewa. Ia menoleh kepada suaminya, kerutan di bibir Bagyo membentuk senyum.
Asih menarik cincin yang terlihat cantik dan dingin dari kotak pelindungnya. Ia mengangkat wajahnya, banyak hal yang berubah dari putranya semenjak bertemu dengan Mentari. Meski baru sekejap, semoga yang ‘diaminkan paling serius’ tak mengubah perasaan Asih yang masih melekat dengan tutur kata Mentari sewaktu teleponan dengannya.
"Emak minta tanggung jawab kalian mojok di rumah!"
"Asyiappp!!!" Pram langsung meraih cincin yang ibunya ulurkan kepadanya dan kepada Mentari dia berlutut.
"Will you marry me?" Pram mengedipkan sebelah matanya, bersandiwara Mentari, urusan deal or no deal nanti kita bicarakan di belakang emak dan bapak. Pokoknya sekarang iya aja, begitulah kira-kira untaian kata yang bisa Pram berikan lewat sorot mata jenakanya.
"Miliki aku, Pram!"
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading. 🧡