Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Diskusi serius.


__ADS_3

Mentari menyesap es jeruknya sambil menatap pagi yang sibuk di empang milik keluarga Pram yang luasnya mirip lapangan bola. Satu jam, dua jam, dan nyaris tiga jam ia habiskan untuk mengikuti Pram wira-wiri mengecek semua usaha keluarganya. Tapi sekarang, matahari yang mulai meninggi dan ia yang mulai terpanggang di bawah sinar matahari memilih santai di kursi bambu di bawah pohon talok.


"Kira-kira dana nikah ku dulu sama mas Bisma masih bapak simpan nggak ya di rumah?"


Mentari termangu. Sudah beberapa kali ia memikirkan semuanya setelah yakin dinikahi keluarga juragan. Mentari resah, meskipun Pram berkata tidak usah di pikirin status sosial ekonomi keluarganya, tetap saja pernikahan sekali seumur hidup bagi keluarga Joko perlu heboh-heboh. Apalagi kemarin setelah di khianati dan geger satu kampung. Pernikahannya dengan Pram di losmen idaman harus meriah.


"Pasti lebih banyak dari jumlah yang bapak siapkan kemarin."


Dari jauh, Pram yang ikutan menyortir ikan nila di pinggir kolam mengernyit.


"Ngapain Mentari komat-kamit sendiri? Wah parah, di tinggal bentar udah ngedumel. Gimana hari-hari esok waktu pisah. Wah..., Riweh ini, wa." eluh Pram pada uwa Rochim sambil menarih ikan ke dalam tong besar.


"Si awewe pundung kali, Aa. Maunya nempel terus. Sudah sana di temenin, kasian. Biar uwa yang kerja. Lagian kunaon si Aa mah, baru juga datang sudah ikut-ikutan kerja, emak Asih ngomel-ngomel?"


Pram tersenyum acuh tak acuh pada omelan uwa Rochim.


"Siap, wa. Lagian tumbenan dia begitu, biasanya demen kalo lagi pisahan. Katanya bisa nonton film tanpa gangguan. Ini kenapa jadi kayak orang kesambet demit." Pram gegas mencuci tangannya yang bau amis seraya menghampiri Mentari.


Dan sekarang laki-laki itu berdiri di hadapan Mentari dengan wajah berkerut heran.


"Kenapa ngomong sendiri, Tar? Udah nyaris gila kamu di sini? Nggak betah? Mau pulang? Kepanasan? Apa nggak suka aku tinggal-tinggal?" Pram tersenyum percaya diri.


Mentari menatapnya sambil menggeleng ringan. Dia tidak keberatan dengan apapun yang Pram ucapkan. Bedanya, sekarang mungkin ada yang memperhatikan dengan jeli waktu dia ngedumel tadi. Apes emang jadi Mentari. Nggak bisa ngibul.


Pram menuangkan es jeruk ke dalam gelasnya seraya duduk di samping Mentari.


"Muka mu nyimpen banyak beban, Tar. mikiran apa?" Tidak sabar mendengar jawabannya, Pram meneguk es jeruknya lalu menangkup wajah Mentari. "Katakan geulis, kalo nggak?"


Pram menyeringai lebar. "Bibirmu ini sepertinya manis rasa jeruk, oh ya, rasa jeruk seperti lip gloss-mu dan minuman hari ini. Manis dan sedikit asem."


Pram mencubit kedua pipi Mentari dengan sengaja. "Ayo bilang karena nggak akan tenang hidup elo kalo nggak bilang sekarang."

__ADS_1


Mentari mengangguk-angguk antusias, benar-benar bisa nggak tenang jantungnya mendapati Pram juga terpaku menatapnya dengan sesuatu yang tak terucapkan.


"Mikirin kita, Aa." Mentari menyentuh pergelangan tangan Pram sambil tersenyum masam. "Udah, malu di lihatin orang-orang. Nanti pada ngadu sama emak kita mojok di bawah pohon talok, pegang-pegangan. Apa kamu bisa bayangin gimana respon emak nanti? Meledakkkk seperti kembang api, Aa."


Pram menurunkan tangannya dengan tidak ikhlas. Tapi bener juga yang di katakan Mentari. Bisa-bisa besok dia di deportasi kalau emak sampai bersabda sambil marah-marah karena kedekatan kami.


"Mikirin apa, pernikahan kita?" Suara Pram melembut sambil di tariknya tangan kanan Mentari, melihat cincin yang berkilau dan cantik.


"Kemarin kita beli ini sebelum aku minggat ke losmen kamu. Taunya ternyata pas, kamu suka? Atau kurang besar berliannya?" tanya Pram sambil memandang mata tak fokus Mentari.


"Aku suka, cuma. Aa, cincin ini berlebihan nggak buat gadis desa sepertiku?" Mentari mencebikkan bibirnya. Pram menaruh ke dua tangan mereka di pahanya sambil menggeleng.


"Enggaklah, apa yang berlebihan? Harganya? Itu sih emak yang belim. Aku nggak mau tau harganya, ntar malah di suruh ganti." Pram meringis, "Nanti dari aku pas kita nikah. Kamu mau request cincinnya mau yang gimana gitu?" tawar Pram.


Mentari tersenyum sambil menggeleng. "Yang menurutmu bagus!"


Telak, demi Mentari dan melepas masa lajangnya jawaban itu wajib setara dengan statusnya sebagai juragan. Yang bagus yang berharga tapi dalam ingatannya, ikan koinya sambil kecil-kecil, motif dan jenisnya belum terlihat kentara, apalagi lelenya, baru tulang dong belum ada dagingnya.


Mentari nyengir malu, malu-maluin malah karena giginya sampai kering.


"Aa, besok kan kita nikah." setelah bilang itu, Mentari dan Pram terkekeh-kekeh. "Terus kenapa masalahnya?"


Mentari menimbang-nimbang pikirannya sebelum mengembuskan napas. Hal-hal yang di pikiran tadi cukup krusial dalam perencanaan pernikahan, tapi kalau nggak di bicarakan gimana nanti. Mentari menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya.


"Aaaa..., konsep nikahannya nanti mau gimana? Mau berapa orang yang datang? Terus tanggalnya berapa? Terus mau catering atau masak sendiri? Terus mau pakai kebaya atau gaun pengantin modern?" Dan blablabla lainnya yang terus Mentari tanyakan perihal rencana pernikahan mereka.


Pram menuangkan es jeruk ke gelas Mentari. "Minum gih,"


"Terima kasih." Mentari nyengir lebar, "jawab ya."


Pram melipat kedua tangannya. Lalu tersenyum hangat, harapannya tentang pernikahan idaman melejit ke udara.

__ADS_1


"Aku mau intimate wedding, Tar. Dari aku cuma keluarga dan saudara doang, nggak nyampe lima puluh orang itu untuk ijabnya, pokoknya aku bener-bener cuma mau ada keluargamu, keluargaku." Pram menyunggingkan senyum. "Kamu setuju?"


"Boleh, untuk pakaiannya?" Mentari tersenyum lega.


"Jawa. Nanti resepsinya baru pakai adat Sunda di sini. Eh di rumah, nggak mungkin kita nikah di tengah empang, yang ada ntar pada mancing, bakar-bakaran dan lesehan." Pram terkekeh, "Apapun yang jadi pilihanmu aku setuju, gitu aja ya di bikin santai, yang penting sah terus... gitu-gitu, Ya nggak?" Pram meringis bodoh. "Temen-temen gue kebanyakan udah punya anak, yang belum pun udah pernah gitu-gitu, cuma gue doang yang suci. Beruntung kan elo dapat gue? Bilang makasih gih sama emak."


Mentari menyenggol lengan Pram dengan sikap malu-malu.


"Iya, ya udah ayo pulang. Kita ngobrol-ngobrol sama emak untuk besok. Gimana pun yang modal mereka, kita wajib denger maunya mereka gimana."


Pram kontan cengengesan kalau benar ibunya yang memberikan modal nikah. Tapi Mentari benar lagi, memang nih kalau udah berpengalaman suka benar. Makanya siang yang terik di belakang rumah juragan Bagyo, Mentari dan Pram menuturkan diskusinya tadi.


Asih manggut-manggut, yang penting anaknya nikah.


"Pokoknya atur aja gimana baiknya, semau kalian, emak cuma bisa dukung dan doa."


"Uang enggak, mak?" sahut Pram was-was.


"Apa satu hektar sawah nggak cukup, Pram? Parah kamu, preman, malak emak! Tega pisan kamu masih minta modal nikah sama emak."


Pram memalingkan wajah dengan penuh rasa geli.


"Iya enggak, jadi nanti aku begini ya mak, saya terima nikah dan kawinnya Mentari Saputri dengan seperangkat alat sholat dan satu hektar sawah di bayar tunai, sah? Sah?"


Pram menggoyangkan tangannya, Asih


mendesis, "Lagakmu, Pram. Beraninya sama emak, coba nanti sama penghulu langsung. Keder kamu!"


Pram jadi meringis, benarkah begitu rasanya? Keder sampai bergetar-getar?


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2