
Mentari membuka mesin cuci yang telah berhenti berputar dan demi menghormati pakaian Pram yang telah bersih setengah kering, dia membawa capit gorengan untuk mengeluarkan segitiga berukuran XL itu ke dalam keranjang.
"Demi bintang lima losmen, ya ampun. Pram sengaja apa emang beneran anak emak sih." tukasnya seraya menuju ke tempat jemur baju.
Meski telaten dan sabar, untuk hal yang satu itu Mentari benar-benar kelewat geli. Dia tetap menggunakan capit gorengan agar tidak perlu menyentuh cangcut Pram.
"Selesai!" Mentari terdesah lega, lalu di tatap capit gorengan ditangannya.
"Multifungsi juga, tapi ini harus aku sembunyikan dulu. Udah bekas cangcutnya Pram, takut mengubah cita rasa makanan nanti." Mentari cekikikan. Tanpa dia sadari Pram yang sudah mendingan dan baru berkeliling di sekitar losmen mendengar dan melihat semua kelakuan Mentari.
"Diam-diam gokil juga nih cewek sampai segitunya ogah pegang cangcut gue. Gue juga yang salah lupa mindahin cangcut gue tadi. Maaf, Tar. Mungkin dia risi, tapi kamu tambah lucu. Gemes gue."
Pram berjongkok disamping rumah yang menghadap ke sebuah cekungan tanah bekas empang sepanjang tiga meter yang kini dijadikan tempat pembuangan sampah kering.
"Boleh juga nih buat dijadiin tempat melepas rindu akan kolam dan lele. Semoga Mentari ngasih izin." Pram menerima telepon dari Ari setelah berkali-kali dia abaikan.
"Gimana mas? Ada kebutuhan untuk kolam?" tanya Pram dengan kening mengernyit.
Ari mengangguk sambil menyebarkan pakan ikan ke kolam. Bunyi riuhnya air sewaktu ikan berebut makan membuat Pram tersenyum lebar.
"Apa mas? Bibit koi sehat-sehat? Emak udah pulang apa masih disitu?"
"Uang setoran dari ternak ayam sudah di antar Pak Maryadi mas, untuk ikan koi kemarin ada yang mati dua." jelas Ari, ekspresinya datar walau sebenarnya hatinya resah karena ia merasa bersalah.
Pram tetap tersenyum, walau sebenarnya satu koi yang mati bisa bernilai tinggi ketika dewasa nanti tapi lagi-lagi namanya bekerja dengan alam dan mahluk hidup lain tidak serta-merta semua bisa sesuai imajinasi.
"Udah biasa itu, mas. Penyesuaian suhu air kolam. Pokoknya pantau saja terus pH air dan kasih vitaminnya. Terus kalau emak gimana, atau tamu-tamu lainnya?"
"Emak udah pulang kampung mas, dirumah cuma ada Mbok Sum dan mas Tono. Kalau tamu sepi, cuma kemarin juragan dari Bogor." jelas Ari.
"Siap mas, nanti aku kabari dari sini teman-temanku. Sementara uang ternak ayam kamu simpan dulu. Cukup tulis rincian pengeluaran kalau mau di pakai. Siap?" tanya Pram sembari berdiri.
"Siap mas, siap!" balas Ari semangat, lalu panggilan terputus. Ari mengernyit, "Piknik kemana mas Pram, mau tanya malah udah bablas."
__ADS_1
Pram bersiul, kembali mengelilingi bangunan losmen ditemani matahari sore yang teduh dan angin segar.
Pram menghentikan langkahnya, sekarang ia duduk-duduk santai di halaman losmen sambil melihat apa saja yang bisa ia nikmati disana. Pohon. Hanya ada pohon dan ayunan besi yang nampaknya sudah tidak ada yang pernah menggunakannya.
Pram tercenung mendengar suara motor RX-King yang sangat memekak telinga mendekat ke arah losmen.
Pram berdiri seolah menyambut kedatangan orang yang ternyata setelah ia berkenalan dengan santun adalah orang tua Mentari.
"Aku Pram dari Jakarta, pak Joko. Blesteran orang Sunda. Baru kemarin pagi cek in disini." urai Pram, membantu membawa satu tandan buah pisang raja masuk ke dalam losmen.
Joko memegang pundak Pram dan langsung menatap matanya, "Terima kasih sudah menginap disini." Joko tersenyum ramah, "tapi anakku Mentari tidak kamu ganggu to? Soalnya tadi ibunya bilang Mentari butuh bantuan dan suruh cepet-cepet pulang."
Tanpa sadar Pram terbahak-bahak, sadar Mentari ternyata sudah ngadu ke ibunya diam-diam.
"Saya cuma minta layanan kamar, pak Joko. Cuma mungkin permintaannya bagi Mentari aneh-aneh jadinya dia butuh bantuan." urai Pram jujur.
"Taruh disini saja, dik Pram. Nanti kita mau pergi lagi karena kami pulang cuma mau ngecek sendiri Mentari itu kenapa." jelas Joko, menaruh juga satu tandan pisang untuk acara pernikahan anak kakaknya besok.
"Siap," kata Pram, "omong-omong pisangnya banyak banget buat apa Pak? Ada acara besar?" tanya Pram penasaran.
"Loh pak, aku sudah bayar lunas lho." gurau Pram.
Joko langsung memasang wajah tidak enak, bagaimanapun Pram itu menginap dan harus ada yang melayani sewaktu masa sewanya masih jalan.
"Ya sudah, biar semuanya lancar, besok kalau kamu mau ikut dan tidak acara lain datang sama Mentari dan Dara. Pakai mobilmu kesana, gimana?"
"YES! YES! Makan-makan bro, gue juga penasaran gimana acara pernikahan di kampung, asyik pasti. Ada dangdutan terus si gemes pasti tambah gemes." sorak Pram dalam hati seraya mengangguk antusias.
"Mau pak, mau. Lagian aku disini tidak ada acara lain."
Joko menepuk pundak Pram. "Saya ke kamar Mentari dulu dik Pram. Nanti kita ngobrol-ngobrol lagi setelah saya pastikan anakku itu baik-baik saja."
"Siap pak Joko," Pram mengangguk, menatap punggung Joko yang mengenakan kaos oblong partai politik, "lagian Mentari kenapa, kalau gak baik-baik terus gue di usir gitu? imbuhnya dalam hati.
__ADS_1
Di kamar, Mentari cemberut setelah mengeluarkan segala keluh kesahnya akan Pram kepada ibunya. Tapi bukannya ikut jengkel kepada Pram, Purwati malah terbahak senang.
"Apa yang lucu buk'e?" tanya Joko, bergabung di kasur Mentari.
"Ini lho pak'e, anakmu sama si Pram. Udah mirip Mentari sama Dara, ribut terus tapi sama-sama pengertian dan khawatir. Terus ini yang lucu pak'e, anakmu geli nyuci dalemannya laki-laki." jawab Purwati sembari mengelus rambut putrinya.
"Tapi Pram tidak kurang ajar kan, Tar?" tanya ibunya dengan wajah sendu kemudian.
Mentari menggeleng. "Pram baik kok buk, cuma ngomongnya suka jujur banget terus bikin pipiku merah. Aku malu, Buk. Ibuk bisa gak di rumah aja? Temenin Tari." mintanya dengan nada iba sambil menggenggam tangan ibunya. "Nanti aku masih setrika cangcutnya, buk. Geli tau."
Joko dan Purwati tersenyum samar.
Purwati mengelus rambut putrinya lagi, merasa tidak bisa karena banyak kesibukan yang masih sangat perlu banyak tenaga untuk mempersiapkan pesta pernikahan.
"Geli kenapa, Nduk?" tanya Joko iseng.
"Itu kan bekas itunya Pram, pak! Udah ah jangan di bahas-bahas lagi aku malu terus nanti keingat-ingat lagi." Mentari semakin mengerucut bibirnya.
Joko terkekeh-kekeh. Sadar putrinya memang sudah hampir menikah dan paham soal itu, namun dia tidak akan membahas persoalan batalnya pernikahan putrinya.
"Kalau urusannya cuma itu dan Pram baik tidak kurang ajar, bapak sama ibuk tenang ninggal kamu lagi ke rumah budemu, Tar." kata Joko tenang.
"Loh kok gitu," Mentari menahan lengan ibunya, "ikut."
"Gak bisa, Tari. Ada tamu dan dulu kamu sudah bilang sama ibuk kalau losmen itu menjadi tanggung jawabmu. Ibu dan bapak cuma bantu di belakang. Jadi — kamu harus disini sampai Pram pulang."
"Tapi aku tadi sudah bilang buk'e kalau Pram boleh ikut ke kondangan besok biar tidak sendiri di losmen." potong Joko cepat.
Sontak Mentari terkejut dan membenamkan wajahnya di bantal. Kesal, percuma protes, orang tuanya justru berpihak pada Pram sementara dia harus dan terpaksa takluk pada tanggung jawabnya sebagai gadis pemilik losmen. Santun, ramah, siap melayani tanpa pamrih dan senyum tulus tanpa beban. Tapi karena Pram, ya ampun.
"Kamu tercipta untuk membuatku kesal, Pram. Argh."
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.