
Di antara dinginnya kabut yang menyelimuti losmen pukul lima pagi. Pram mengetuk pintu rumah Mentari dengan penuh semangat.
"Men...tari, dah bangun belum?" teriaknya sambil memakai jaket, "aku udah siap nih, udah kasep kalau kata emak."
Mentari yang baru menuangkan air panas ke bak mandi mendengus.
"Itu orang semangat banget ya mau pergi ke kondangan. Udah dari tadi malam penasaran banget ada dangdutan apa enggak, sekarang... Bukan main, apa dia mau joget-joget sama biduan?" cerocosnya sembari keluar dari kamar mandi.
"Aku mau mandi dulu, Pram. Kamu ngopi dulu mau?" ucap Mentari setelah membuka pintu rumahnya.
"Biar aku yang bikin sendiri sementara kamu mandi. Aku gak enak soalnya kalau telat datang ke rumah budemu, Tar." jawab Pram santai, dia yakin gadis itu akan dilanda kepanikan jika masih harus mengurusnya terlebih dahulu.
Mentari memandangi Pram tak percaya, juga tak menduga laki-laki itu memiliki sisi lain yang lumayan tidak membuatnya senewen pagi-pagi bahkan matahari belum merekah sempurna di ufuk.
"Boleh, Pram. Tapi sebelum berangkat ke rumah bude Aminah nanti mampir ke panti dulu boleh? Jemput Dara."
Pram mengangguk dan langsung mengembangkan senyum andalannya yang dulu sanggup meluluhkan hati Tatiana dengan mudah. Tapi bagi lawan bicaranya sekarang itu terlihat biasa aja, walau terpaksa Mentari balas senyuman itu demi formalitas belaka.
"Makasih Pram." Mentari langsung mencelat ke dalam tanpa menutup pintu rumahnya.
Sambil menahan tawa, Pram melipat kedua tangannya di depan mata.
"Si gemes bangun tidur aja masih cantik, apalagi nanti dandan pake sanggul terus pake kebaya. Aihh emak," Pram bersiul, "cantik banget anak pak Joko." pujinya sembari
pindah ke dapur, menyalakan kompor.
Setelah beberapa saat, Mentari dan teh hangat menemani Pram menyambut pagi yang indah, tentu hanya baginya dirinya sendiri.
Bagi Mentari lain cerita, dia masih harus make up, bermanis-manis dihadapan semua anggota keluarga besar dan tamu undangan yang pasti jumlahnya berjubel juga harus membawa Pram yang alergi serbuk bunga. Bisa dibayangkan bagaimana tanggapan keluarganya nanti dan dirinya yang harus menghadapi semua itu sendiri? Kacau. Rame.
Bayang-bayang akan kekacauan yang akan terjadi nanti membuat Mentari mendesah.
"Oh iya, Pram. Berhubung nanti acaranya lama. Aku pikir sebaiknya kamu harus membawa baju ganti." kata Mentari, menghabiskan tehnya.
Pram ikut menghabiskan tehnya seraya berdiri. "Oke aku ambil baju dulu, kamu juga pastiin gak ada yang ketinggalan sebelum pergi. Karena kembali ke arah yang sama setelah tujuan hampir sampai itu capek di jalan, Tar."
Mentari menahan napas kesal dan sedih, "Ngomong apa sih, Pram?" katanya pura-pura tidak paham.
__ADS_1
Pram mengibaskan tangannya. "Lupain!"
Mentari mengangkat dua gelas besar bekas teh yang membuat perutnya kembung. Berdiri diam di dapur, Mentari mengingat apa yang memang harus di bawa sekarang.
"Kesabaran! Itu yang wajib aku bawa untuk menghadapi hari ini dan gak perlu bolak-balik ke arah yang sama. Capek, betul, cuma alasan Pram tadi paling-paling cuma mau irit bensin."
Mentari menarik napas, "Tapi dia udah dewasa banget, bisa jadi apa yang dia ucapkan itu nasihat atau isi hatinya." gumamnya lesu. Mentari mendesah kemudian, "tau ah gelap. Mending berangkat."
Pram menggenggam satu kemeja polos berwarna biru muda sewaktu Mentari datang menghampirinya di taman.
"Udah, geulis?" tanya Pram.
Mentari ingin sekali menjulurkan lidahnya panjang-panjang untuk menghancurkan pujian itu. Sayang lagi-lagi siapa dia di losmen itu membuatnya urung melakukan. Pokoknya demi bintang lima!
"Sudah ayo." ajak Mentari, "Biar aku masukkan ke tasku kemejamu."
Pram tersenyum lembut sembari mengulurkan kemejanya. "Nuhun geulis, sae pisan." pujinya lagi, sengaja karena pasti Mentari tidak tahu bahasa Sunda. Sayang, korban drama serial film televisi itu paham artinya. Kalaupun enggak bisa googling juga.
Mentari mencebikkan bibir lalu berjalan ke pintu keluar seraya menguncinya.
"Geulis - geulis!" racau Mentari seraya menarik napas panjang dan masuk ke mobil Pram.
Duduk manis di samping sang pengemudi dan pengendara yang baik, Mentari memasangnya senyum andalannya. Dia mengangguk lalu sibuk mengetik chat di layar ponselnya.
Ra, udah siap belum? Aku otw ke panti sekarang!
Dara yang ikut mengurus anak-anak yang habis sunat kemarin menyambar ponselnya yang berisik mengeluarkan suara ayam berkokok. Gadis itu menguap dan terlihat awut-awutan di kasur besi sembari membaca chat dari Mentari.
Udah ke sini aja dulu! Aku baru bangun.
Mentari mendengus.
Buruan mandi aku udah mau jalan!
Dara menyingkirkan selimutnya dengan enggan. Badannya terasa pegal-pegal apalagi mulutnya yang susah payah memberi dusta pada bocah-bocah kecil itu untuk tenang. Sementara Pram pelan-pelan melajukan mobilnya keluar dari halaman losmen.
"Tunjukkin jalannya, Tar." pintanya.
__ADS_1
Mentari menyamankan posisinya sebelum dengan sikap yang dibuat biasa-biasa saja, dia mulai menunjukkan arah menuju panti asuhan.
Pram mengikuti arahannya dengan fokus, walau sesekali dia terpaku pada jari jemari Mentari yang lentik-lentik dan rapi kukunya seakan habis di asah.
"Emak udah penasaran banget cincinnya muat enggak di jari Pevita, tapi gue gak mungkin minta tolong Mentari soal itu karena bagaimanapun jarinya pernah tersemat cincin dan gagal. Itu pasti menyakitkan kalau gue nekat minta tolong dia demi kebutuhan gue sendiri." batin Pram.
Mobil berbelok di persimpangan jalan, melewati jalan menanjak yang di sampingnya memiliki pepohonan peneduh yang memberi suasana seram jika malam hari. Begitu sampai di ujung tanjakan, mobil berbelok di tikungan pertama yang memiliki jalan lurus dan panjang.
"Itu mas panti asuhan mutiara kasih." kata Mentari, menunjuk bangunan semi permanen bercat putih.
Dara mendorong pintu gerbang sesaat setelah Pram mengklakson berulang kali. Dara pikir itu donatur yang biasanya datang untuk memberi bantuan sekaligus membuat anak-anak di pantin senang. Tapi ternyata, sosok Pram yang dibicarakannya tadi malam dengan Mentari kini berada di depan matanya.
"Om Pram." sapa Dara iseng sembari mengulurkan tangannya.
Konsentrasi Pram akan panti asuhan itu terputus seketika.
"Om - om, gak pakdhe sekalian?" balasnya sambil menggenggam tangan Dara. "Pram, gak usah pake om. Anggap kita seumuran aja."
"Ougahhh!" seru Dara cepat-cepat, "enak aja seumuran. Enak di om, gak di aku. Masa disuruh tua sebelum waktunya. Dasar." protesnya sambil pindah ke samping Mentari.
Pram terbahak-bahak sambil menggelengkan kepala.
"Apa gue kelihatan tua banget? Kayaknya sih enggak lah ya, nih cewek-cewek aja yang belum tau citra lelaki dewasa, mapan dan bersahaja. Gue banget pokoknya, mampu mengayomi hati yang butuh diayomi apalagi menafkahi. Nafkah lahir siap, nafkah batin semangat!"
Untung Mentari dan Dara sudah masuk ke mobil, kalau tidak, cewek-cewek itu pasti semakin ingin melakban mulut Pram yang berisik itu.
"Ce–ileh, berasa punya sopir pribadi yee duduk manis di jok penumpang." sindir Pram sewaktu kembali ke dalam mobil. "Maju salah satu!"
Dara menggeleng cepat. "Kamu sana, Tar. Cocok berduaan, biar kalian jadi om dan Tante, aku ponakannya." seru Dara, membebat dirinya dengan sabuk pengaman lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Menolak pindah.
Pram setuju. Dia tersenyum puas dengan jawaban Dara karena memang yang dibutuhkan adalah Mentari.
"Tari, geulis. Pindah ke depan, aku butuh kamu buat nunjukin jalan ke rumah budemu. Gak mungkin juga kan kamu disana, sementara aku, aku butuh panduanmu." kata Pram lembut. Mentari mengembuskan napas lelah.
"Lompat aja, gak perlu turun, gak perlu sungkan. Om baik kok." aku Pram lembut.
Tawa Dara meledek seketika. "Pantes Tari pusing punya tamu kayak Om Pram gini, tapi bagus tuh. Gangguin aja ini cewek gagal nikah. Biar happy lagi." batinnya, menilai sikap dua orang di depannya itu dengan seksama. "Serasi juga mereka."
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.