Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Mencari persekongkolan.


__ADS_3

Menurut informasi dari Dara, ibu dari dua budak gelo Tegar dan Danang adalah pekerja losmen Bu Desy. Maka semakin mujur segala rencananya hari ini. Meski sejujurnya, urusan dengan anak buah Bisma nggak penting-penting banget. Pram yakin mereka hanya abdi yang harus patuh kepada takhta tertinggi losmen Bu Desy.


"Silahkan di nikmati mas." Wartini menaruh sepiring tumis jamur kancing dengan tambahan kacang panjang dan telur ceplok di meja.


Pram tersenyum ramah sewaktu mendapat layanan kamar darinya. Dan selaku juragan yang memperkerjakan banyak orang dengan seratus macam-macam problematika dari resah tak punya beras, ketahuan selingkuh pacar, atau yang paling sering adalah tidak punya uang. Pram sangat memahami raut wajah ramah dengan sorot mata hampa di depannya.


"Terima kasih," ujarnya, "ibu sudah makan?"


Wartini mengangguk formal sambil bergeming di ambang pintu dengan sikap santun. "Sudah mas." jawabnya rikuh.


"Berapa kali?" seloroh Pram, Wartini yang terkejut dengan pertanyaan upnormal itu hanya meringis geli.


"Hayo jawab?" desak Pram, "tapi kalo saya bisa tebak, ibu jarang makan atau juragan ibu yang pelit kasih makan?"


Wartini langsung geleng-geleng kepala. Takut jadi salah paham, pasalnya dia kurus bukan jarang makan atau cacingan. Dia cuma banyak pikiran. Anak-anaknya sudah dewasa tapi pengangguran, mana jadi anak buah Bisma yang notabene belum punya pawang yang bisa diandalkan, jadi runyam sudah masa depan harapannya.


"Bukan seperti itu mas, maaf saya permisi keluar." Wartini nampak menggebu-gebu pamitnya.


"Eh-eh-eh," Pram mengangkat tangannya. "Bisa temenin ngobrol-ngobrol sebentar, Bu?" imbuhnya.


Wartini kelimpungan sendiri, satu sisi dia harus kembali ke rumah belakang untuk beres-beres rumah, di sisi lain tipikalnya yang nggak enakan dengan urusan layanan tamu membuatnya bingung sendiri.


"Saya mahasiswa abadi yang baru cari inspirasi untuk tugas skripsi Bu, kalo ibu berkenan, apa ibu mau jadi narasumbernya selaku pengurus sebuah penginapan?" tanya Pram dengan muka sok humble, padahal ya semua itu bohong ooo, bohong si Pram, ia hanya ingin menggali informasi dari Wartini tentang keluarga Bisma dan keluarganya sendiri dengan cara yang manis. Sok-sokan jadi mahasiswa abadi padahal jomlo abadi mah yang paling bener.

__ADS_1


Wartini menggeleng pelan-pelan, lagi-lagi wanita paruh baya yang sudah lama menjadi anak buah Bu Desy tidak enak.


"Saya tidak tau skripsi mas, maaf. Coba cari pengurus losmen yang lain atau teman saya ada yang lebih muda di paguyuban jadi bisa bantuin mas Pram."


"Oh itu mudah, Bu." Pram tersenyum dalam hati, "Ibu tinggal jawab pertanyaan saya dengan ril, jujur, apa adanya gitu." jelasnya dipermudah.


Pram mengambil makan siangnya, "Kalo ibu bersedia, saya kasih tips nanti, soalnya saya benar-benar butuh banget narasumber Bu, sudah puyeng saya di kejar-kejar dosen pembimbing sampe saya kabur-kaburan dari kampus." dustanya lagi, benar-benar rusuh kali laki-laki itu.


Dan seperti lumrah terjadi, iming-iming tips slalu dapat menggoyahkan iman siapa saja termasuk Wartini. Tips dari Pram bisa kali untuk membeli beras dan kebutuhan rumah tangganya.


"Tapi saya harus kerja dulu mas di dalam, bisa nanti?" tawarnya dengan rikuh. Sekejap yang begitu cepat, ia tersenyum lega karena Pram menyetujuinya.


Wartini menutup pintu kamar Pram seraya pergi ke dalam rumah utama Bu Desy. Pram bersiul, di waktu yang sama, Bu Desy baru memberondong segala pertanyaan sulit kepada putranya di ruang keluarga.


Wartini mendengar, Bisma terus melakukan pembelaan atas dasar pernikahannya dengan Arimbi hanyalah untuk menutupi rasa malu keluarganya akan kejadian malam penuh noda.


Bu Desy menggeram. "Itu terus yang kamu jadikan alasan, le. Apa sampe sekarang kamu gak mikir kalo Mentari itu udah gak mau sama kamu? Tole-tole, Mentari itu memang calon idaman ibu, anaknya rajin, ulet, patuh sama ibu. Tapi harakat martabat keluarga kita, keluarga kecilmu itu adalah harga mati. Gak malu kamu masih ngejar-ngejar Mentari?"


"GAK!" jawab Bisma lugas.


Bu Desy dan Arimbi terperangah, Arimbi yang masih ngambek berdiri.


"Pokoknya aku gak mau tau mas harus jauh-jauh sama Mentari kalo gak aku bilang sama papa mama kalo mas gak tanggung jawab sama aku!" Dikibaskan rambutnya dengan gaya kenes seraya masuk kamar.

__ADS_1


BRAK.


Pintu kamar tertutup dengan kencang.


Bu Desy mengembuskan napas lelah. Pusing kepalanya ngurus satu anak aja.


"Lihat pake perasaanmu, Bis. Arimbi itu masih labil, masih sedikit-sedikit perlu di perhatikan, perlu di sayang-sayang karena dia di sini karena kesalahanmu sendiri!" Bu Desy berdiri, "Ibu gak mau tau kalo kamu masih berbuat ulah dengan Mentari atau siapapun yang kamu tidak suka, ibu tidak akan memberimu satu persen warisan. Ibu sama bapakmu sudah capek ngurus kamu, Bis. Kerjaan cuma habis-habisan duit, giliran di suruh kerja males!"


Bisma makin terbakar emosi dan tersudutkan dengan ucapan ibunya.


"Semua ini gara-gara laki-laki sialan itu." desisnya dalam hati, "Lihat saja, aku bikin kapok udah nginep di sini!


Bisma berdiri, hatinya yang sudah mati karena Mentari pergi tidak mengindahkan peringatan ibunya. Ia menuju kamar dan mendapati istrinya meringkuk sambil terisak-isak.


"Makanya jadi cewek jangan murahan, Mbi. Udah di bilang gak usah ikutan nongkrong tetap aja gabung pake ikutan minum! Sekarang udah hamil gini orang-orang taunya aku yang salah, sementara kamu jadi korban. Gak adil banget."


Arimbi mengibaskan tangannya di atas meja, seketika benda-benda seperti lampu tidur, hp Bisma, gelas, dan toples makanan berjatuhan ke lantai.


Seluruh orang di kediaman kepala desa itu mengerjapkan mata dengan bunyi benda pecah yang memekak telinga. Lalu suara nyaring dengan intro nada seperti peluit tukang parkir melengking tinggi dari kamar Bisma.


Pram bersiul di balkon kamar dengan kilau geli di matanya. "Drama rumah tangga memang tiada duanya!"


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


__ADS_2