
Kembali menemui macetnya jalanan kota Jakarta sebelum matahari benar-benar berpendar menghangat beton-beton perkotaan menjadi momen di mana Pram bisa menikmati wajah alami Mentari yang masih terlelap dengan santai. Tanpa gangguan, tanpa rasa sungkan, dan tentunya puas.
Pram tersenyum lebar seraya mengelus-elus pipi lembut Mentari.
"Jadi milik gue ya," Pram membuang muka sewaktu gadis yang ia elus-elus pipinya bergerak dengan enggan. Pram menghela napas, jadi geregetan gue pengen cubit, gemes, batinnya sambil memalingkan muka kembali ke wajah yang ingin dia patri dalam ingatannya.
Mentari mengerjap dengan dengusan napas panjang sewaktu Pram tersenyum kepadanya.
"Udah sampai, Pram?" tanyanya sambil memandang sekeliling. Mobil, motor, bus kota, bak terbuka saling memadati perempatan jalan. Suatu pemandangan yang sangat berbeda di kampungnya. Inikah Jakarta?
"Kenapa?" tanya Pram, "udah gak sabar bobok di rumah aku?" ucapnya dengan nada menggoda.
Mentari meresponnya dengan menguap lebar-lebar sambil merenggangkan badannya yang pegal-pegal.
Pram hanya tersenyum lebar memandangnya. Kalau di tanya dia akan ilfill atau tidak dengan tingkah Mentari yang mengurangi rasa jaimnya di dekatnya. Dia sama sekali tidak akan ilfill, bahkan selama perjalanan yang sangat melelahkan, suara kentut dan ngorok bercampur menjadi satu.
"Mata kamu merah, Pram. Ngantuk banget ya?" urai Mentari sambil memandang wajah Pram yang menyandarkan kepalanya di jok mobil.
"Gak sayang, aku bakal melek kalo kamu bobok di kamarku—aww, nyubit lagi sih. Sakit, Tar!" pekik Pram sambil melotot ke gadis yang menguap lagi.
"Biar kamu melek sampai rumah Pram, habis itu tidur seharian boleh lah, aku justru suka gak ada yang gangguin!" akunya sambil meringis.
Pram menepuk-nepuk pipi Mentari sebelum membalasnya dengan cubitan gemas. "Gak akan sayang, kamu sedang masuk di wilayah kekuasaanku, mana tega gue buang-buang waktu yang berharga ini buat molor!"
"Yahhhh...," balas Mentari sambil cemberut, "Habis kamu otaknya sarap, Pram. Aku jadi takut."
__ADS_1
"Sarap?" Pram mendelik sambil nyengir kuda. "Gak papa kamu bilang gue sarap, toh sarap-sarap gini ntar jadi suami kamu juga, Tar. Gak sadar?" Ditepuk-tepuknya pipi Mentari sekali lagi biar nyawa gadis itu sadar.
Mentari langsung menutupi mukanya.
Aku lupa Pram udah ngalah, udah pasti dia bakal bikin aku pergi ke KUA dan minta tolong untuk di nikahkan segera. Hiyyy, masa aku yang ngemis cinta.
Tanpa sadar Mentari bergidik ngeri.
"Aaaa..., pasti bayangin yang gak-gak kan?" tukas Pram sambil mencubiti pipi Mentari lagi. "Ngaku gak!"
Mentari menepis tangan Pram yang mulai senang banget pegang-pegang. Dari kepala, terus ke pipi, terus ke bawahnya lagi, dan ke bawahnya lagi. Cuma tinggal waktunya saja kapan bisa terealisasi.
Mentari mendengus. Alih-alih merasa senang ada rasa yang mulai menghilang dari benaknya. Ia malah mencibir Pram.
"Apa sih, orang aku cuma risi." elak Mentari sambil membuang muka. Jelas mukanya yang sedang bangun tidur kelihatan lebih merona karena lagi-lagi dia kena sendiri.
Tak ayal ucapannya membuat Mentari menoleh dengan cepat. Merasa laki-laki itu cuma sedang menggodanya saja.
"Udah-udah, kamu fokus nyetir ajalah Pram. Jangan ngobrol terus, kita belum gosok gigi!"
Buahaha, tawa Pram akhirnya meledak juga sambil menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah semi kayu yang sepintas mirip villa minimalis.
"Kita udah sampe, sayang.. Welcome home." Pram tersenyum lega, perjalanan membawa empat orang yang memiliki tujuan berbeda-beda di Jakarta akhirnya selamat sampai tujuan. Rumah. Di mana ada harapan, rasa, dan nyaman yang saling berkaitan.
Pram menekan klakson mobilnya berkali-kali. Suara itu tak hanya membangkitkan ke tiga orang yang masih tidur di bangku penumpang. Tapi juga Sum yang hafal betul dengan suara klakson mobil juragannya.
__ADS_1
Sum gegas mematikan kran air seraya menyaut kunci gerbang di belakang pintu dapur. Dia keluar lewat pintu belakang untuk memberitahu Ari yang baru memberi pakan ikan.
"Si kasep geus ka imah, Ri. Hayu urang kaluar." teriak Sum sambil melambaikan tangan.
Ari menaruh ember kecil berisi pakan ikan dan mencuci tangannya. Gegas ia berlari kecil mengikuti Sum mengitari rumah.
Ari membuka pintu gerbang, disambutnya sang juragan empang yang benar-benar ia tunggu kedatangannya dengan senyuman.
Pram menghela napas lega. Kembali ia memarkirkan mobilnya di depan halaman rumahnya yang asri tapi sepi, hanya saja kali ini dia tak sendiri lagi. Ke empat orang pengikutnya membuat Sum dan Ari terperangah. Terlebih pada gadis cantik yang tadi Pram beri senyuman manis.
"Siapa mas?" tanya Ari yang ikut menurunkan barang bawaan tamu Pram dari bagasi mobil.
Pram hanya meringis geli. Belum akan cerita, terlebih dia capek, ngantuk, dan pegal-pegal. ia hanya mau mandi dan tidur sebelum mengurus pekerjaannya dan tentu ibunya.
"Ini teman-temanku dari desa, Mbok. Tolong di layani ya." kata Pram seraya mengusap wajahnya, "Ngantuk parah gue."
Mentari yang deg-degan sama parahnya malah takut laki-laki itu benar-benar molor sepanjang hari. Takut Asih datang dan mencecarnya dengan beragam pertanyaan. Sementara si paling bersalah itu tidur nyenyak.
Pram mendekati Mentari yang kikuk di depan mobil. Sementara Dara, Tegar, dan Danang sedang takjub dengan rumah Pram.
"Aku tinggal ke kamar bentar, Tar. Masuk aja kalo kangen, gak aku kunci kamarnya!"
Sum yang mendengar tawaran Pram untuk gadis muda itu, langsung mikir yang enggak-enggak.
"Si kasep pulang-pulang bawa temen awewe, boleh masuk ke kamarnya juga. Abdi teh bingung. Bukannya si kasep ke Bali ketemu pacar baru? Wah-wah-wah, gawat atuh. Emakkkk, si kasep selingkuh!"
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.