
Mentari dan Pram menjura di hadapan sang pemilik rumah yang sudah menawarinya balsem dan air putih. Bahkan membantunya mengusir si hewan pembawa ketegangan pagi itu dengan menyemprotkan air kran.
"Terima kasih, om. Maaf ini jadi ngerepotin." kata Pram santun dan malu-malu. Padahal hatinya senang. Pijatannya tidak di tolak, dan sedikit rasa takut Mentari terhadap laki-laki mungkin juga akan menipis. Tapi tentu itu hanya berlaku untuk Pram seorang.
Memang ngerepotin, rutuk Mentari.
"Kamu ini bukannya mantan tunangannya anak pak kades to dik, Bisma kalo gak salah namanya?" ucap si om ragu-ragu sambil menelisik wajah Mentari.
Mentari berdecak dalam hati seraya mengangguk pelan. Transparan sudah ia di mata Pram, tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi kenapa dia seperti sekarang.
"Iya om," Mentari tersenyum masam, "kami permisi."
"Ya-ya." jawab si om, menatap kepergian dua tamu tak di undang itu keluar dari halaman rumahnya.
Mentari menghela napas, berjalan tak bertenaga di depan Pram yang ikut menarik napas dalam-dalam. Itu bukan suprise lagi baginya, tapi keberadaan anak pak kades yang ternyata masih satu wilayah dengan si gemes membuatnya lebih prihatin dengan Mentari.
"Duluan Pram kalo mau lanjut joging." kata Mentari, suaranya datar serupa wajahnya.
"Udah pernah tunangan ternyata, tegar buanget kamu, Tar. Udah melewati fase itu." Pram tersenyum prihatin, "Ternyata kamu punya cerita yang oke ketimbang kandasnya hubungan gue sama dia."
Mentari menggeleng, melanjutkan langkahnya menyusuri bahu jalan tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi. Semangatnya sudah hilang terbawa angin malas pagi hari dan terbukanya kisahnya.
Benar, satu-satunya alasan ia menyembunyikan kisahnya hanyalah untuk membuat orang berhenti iba terhadapnya. Dia tidak butuh di kasihani, Mentari hanya butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya sendiri. Karena terkadang masukan dari para orang-orang toxic yang iba terhadapnya tidak cukup membantunya dan justru malah memperkeruh suasana batinnya.
"Aku duluan." seru Pram, melangkah lebih cepat dan berlari meninggalkan Mentari. Paham gadis itu butuh waktu sendiri dan dia memilih pergi.
Di jalan yang berkelok turun dan menanjak khas jalanan di kaki gunung, laki-laki itu duduk di pinggir jalan dengan napas terengah-engah.
"Lama bener tuh cewek sampenya, apa jangan-jangan malah nangis terus yang paling gawat pingsan?"
Tanpa pikir panjang Pram berbalik, berlari terbirit-birit mengerahkan cadangan tenaga lengkap dengan tenggorokan yang sudah kering kerontang untuk menjemput Mentari.
Pram belok arah, dan alangkah terkejutnya ia mendapati seorang laki-laki berhenti di depan Mentari. Tampak dari belakang laki-laki yang bernama Bisma Kurniawan itu mencekal lengan Mentari.
__ADS_1
"Jangan ganggu aku lagi mas, nanti Arimbi marah!" seru Mentari sambil berontak, tapi karena tenaganya sudah habis di kejar mahkluk hidup berkaki empat tadi dan kisahnya terungkap, usahanya tidak berhasil.
Bisma semakin mengeratkan cekalannya di lengan Mentari. Gadis berbalut baju senam itu sudah sering Bisma lihat menjadi instruktur senam, lekukan tubuhnya, senyumnya dan apapun yang di miliki Mentari hanya bisa membayangi fantasi tanpa bisa ia sentuh.
"Dengar, Tari. Aku masih sayang sama kamu. Arimbi gak sama kayak kamu, kamu cintaku Mentari!" desis Bisma, diketatkannya cengkraman tangannya sampai Mentari mengernyit sakit.
"Aku gak percaya sama kamu mas, lepasin!" seru Mentari sambil berusaha meloloskan diri, "Sakit mas, kamu jahat. Lepasin!"
"Aku gak jahat kalo kamu nurut sayang," desis Bisma, nyaris bibirnya menyentuh bibir Mentari yang ketakutan jika Pram tidak segera menoel-noel pundak Bisma.
"Ada apa mas?" tandas Pram, kalem meski mata yang dinaungi alis hitam tebal itu menatap tajam si tersangka.
Keberadaan pendatang baru yang tidak di sadari Bisma bahkan Mentari itu membuat keduanya terkejut. Cekalan di lengan Mentari terlepas hingga gadis itu langsung pindah ke belakang Pram, meminta perlindungan.
"Maaf lho ini mas, dik, malu kalo di lihat banyak orang mesra-mesraan di pinggir jalan." kata Pram, pura-pura menjadi orang asing yang kebetulan lewat dan mempergoki mereka.
Bisma mendesis kesal. "Gak perlu ikut campur mas, itu cewek saya. Jadi mending mas lanjut pergi aja!"
"Tapi ceweknya mas ketakutan tuh mas gituin, mending kalo saran saya kalian berdua pisah dulu, pulang ke rumah masing-masing dan mikir solusinya gimana. Daripada di pinggir jalan begini. Nggak sopan di lihat orang!" cibir Pram.
Bisma mengumpat dalam hati, wajahnya yang sudah kesal tidak kunjung mendapatkan Mentari, ini lagi di tambah cowok sok peduli nongol dan ganggu urusannya karena pasalnya setelah urusan nangkring di pohon rambutan kemarin dia sibuk ngurus rumah tangganya apalagi ibunya ikut-ikutan memperkeruh suasana dengan memberi tahu ketemu Mentari di pasar dan gadis itu memiliki tamu.
Bisma paham betul bagaimana mantan tunangannya itu jika memberikan layanan terbaik dari losmennya. Hingga kerap konflik timbul karena Bisma cemburu, maka buntut dari rasa cemburunya ada sedikit campur tangan dari Bisma kenapa losmen mantan tunangannya sepi.
"Sayang, ayo aku antar pulang." ujar Bisma yang di paksa terdengar kalem. Persetan dengan ucapan Pram. Toh setelah itu dia tidak akan bertemu lagi dengan Pram.
"Aku mau pulang sendiri!" kata Mentari ketus.
"Sebaiknya mas mengalah, kalian pulang sendiri-sendiri. Kasian adik ini, nanti trauma sama mas!" timpal Pram, tersenyum puas sewaktu Bisma menggeber motornya dibarengi umpatan kesal kepadanya.
Pram berbalik, sekonyong-konyong dia langsung memeluk Mentari dengan raut wajah menyesal setelah motor Bisma lenyap dari matanya.
"It's ok, ada gue sekarang." kata Pram lembut seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan.
__ADS_1
Mentari mendekap punggung Pram seraya memukulinya berkali-kali.
"Kenapa harus aku, Pram! Kenapa harus aku!" Mentari terisak-isak di pelukan laki-laki yang tak tahu harus mengucapkan apa meski tangannya memberi penghiburan di kepala gadis itu.
"It's ok. Dia memang nggak baik untukmu. Karena yang baik itu gue."
Dengan mata merah dan berair, buru-buru Mentari mendongkak, sadar siapa yang sedang memeluknya, sadar tubuh mereka begitu dekat dan sadar pula laki-laki itu sedang mencuri kesempatan di pinggir jalan! Menelan mentah-mentah ucapan yang baru saja dia omongkan untuk Bisma. Sontak Mentari mendorong tubuh Pram. Sayangnya laki-laki itu tidak bergerak sama sekali. Kakinya terpaku di aspal, senyumnya mengembang dengan raut wajah senang.
"Udah sadar, sayang?" goda Pram.
Mentari mencubit perut Pram yang terasa keras berotot.
"Lepasin aku Pram, lepasin. Aku bisa pingsan. Kamu bau banget!" jeritnya. Lupa akan Bisma.
Pram meniup wajah Mentari sebelum melepas pelukannya.
"Tapi nyaman kan Tar, buktinya kamu nyaman nangis di pelukanku."
"Terpaksa tau!" sergah Mentari, mengusap air matanya. Lalu menarik napas panjang. "Aku lemas, bisa nggak kamu lari ke rumah terus ambil motor Pram?"
"Maksudnya?" Pram mendelik, "enak aja kamu, Tar. Udah tadi gue gendong pake lari-lari segala, udah pake di kasih pukul dan cubit lagi dan sekarang kamu minta aku lari sendiri ke rumah untuk ambil motor? Gila, tega kamu!"
Mentari menunduk sambil tersenyum malu. "Maaf."
"Ayo jalan aja. Aku juga capek banget." Pram membuang napas lelah.
Mentari terpana. Gak terbayang bagaimana jika Pram tadi tidak datang, tapi pastinya kalau bapaknya tidak maksa dan Pram tidak menyambut dengan senang. Maka pertemuan tak terduga dengan Bisma itu tidak perlu terjadi. Maka si gemes yang ketiban sial berkali-kali itu batal minta maaf dan berterima kasih kepada Pram.
Gadis itu mengambil ancang-ancang untuk berlari, "Taruhan tadi masih berlaku Pram!!!" seru Mentari.
Pram yang baru saja berjongkok dengan semangat yang ia paksa turun mendelik.
"Dasar cewek! Udah dikasih pengertian malah ngelunjak. Awas kamu, Tar!" umpatnya kesal.
__ADS_1