
Malamnya Pram tidak bisa tidur. Di dalam kepalanya sudah terbayang bagaimana suasana rumahnya jika ia membawa gadis itu pulang ke Jakarta.
Si emak yang percaya pacarnya adalah Pevita bisa ngamuk-ngamuk dan menceramahinya sebagai tukang selingkuh, tidak bisa di percaya lengkap dengan azab-azabnya. Sementara si bapak pasti manggut-manggut setuju.
Pram mendesah, TV yang tidak pernah dia hidupkan akhirnya ia nyalakan. Suara-suara dari para seniman dalam kotak elektronik itu cukup mengalihkan atensinya akan Mentari tapi itu hanya sekejap mata.
"Gue pikir dia ogah ke Jakarta karena benar-benar gak bisa ninggalin losmen ini atau gak bisa jauh dari lingkungannya, ternyata malah gue sendiri yang kocar-kacir sekarang," Pram mengusap wajahnya, "udah gak bisa mundur bro, gue sendiri yang berharap dia keluar dari lingkungan ini untuk menyembuhkan traumanya."
Laki-laki itu berdiri, karena saking ributnya isi kepala. Dia keluar kamar, memandang sekeliling yang terasa sunyi dan gelap.
"Apa mungkin Mentari juga serius menganggap perang terbuka ini dengan harapan gue dulu yang jatuh hati dan berujung kita nikah? Atau sebenarnya dia merasa tenang karena gue gak macem-macem dan slalu melindunginya?"
Pikiran ribut itu makin menjadi-jadi, di tambah kopi, jadilah sampai dini hari cowok itu tetap melek. Menimbang pendapat ini, pendapat itu, seperti menimbang pengeluaran dan pemasukan dari usahanya. Ada untungnya, ada ruginya, tapi poin dari perginya Mentari bersama dirinya ke Jakarta adalah gadis itu masuk ke sarang bujangan yang wajib nikah secepatnya.
Pram meringis, banjir ide membuatnya lebih tenang untuk memejamkan mata.
•••
Keesokan harinya. Bendera perlawanannya justru sedang Mentari kibarkan tinggi-tinggi. Gadis itu terbangun lebih pagi dari biasanya, membuat kegaduhan di dapur sampai membuat Purwati geleng-geleng kepala.
"Pram!"
Tok—Tok—Tok.
Mentari bergeming sambil membawa teh hangat yang ia buat sendiri untuk Pram.
Tok—Tok—Tok.
Mentari menunggu dengan kening berkerut.
"Biasanya jam segini dia udah mandi dan brisik sendiri di dapur. Apa Pram kecapekan gara-gara nyangkul kolam kemarin?" gumamnya. Mengetuk berkali-kali pintu kamar dengan raut wajah serius di sertai panggilan namanya.
Pram membuka matanya dengan keengganan penuh. "Kenapa?" gumamnya dengan malas bahkan sambil menutup matanya lagi.
"Pram bangun belum? Aku bawain layanan kamar nih." teriak Mentari.
Pram membenamkan wajahnya di bantal sambil menutup telinga. Giliran mau dalam mode kalem, santai, rusuh datang tiba-tiba mengacaukannya lagi dirinya.
"Baru tidur tiga jam gue, geulis." kata Pram setelah membuka pintu. Raut wajahnya terlihat kusut dan begitu lelah. Tapi langsung terbuka lebar ketika cewek di depannya itu ngajak joging.
__ADS_1
"Gimana?"
Si gemes memberikan teh hangatnya ke tangan Pram. "Aku tunggu kamu mandi sekalian nunggu bubur sumsum ibuk jadi."
Pram tersenyum ragu-ragu. "Mampus gue, nih cewek benar-benar mengangkat genderang perang. Emang kalo gue jatuh cinta duluan dia merasa menang gitu?" pikir Pram. Seketika dia teringat ucapannya sendiri.
Aku akan mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh.
Kartu pas sudah ia buka sendiri, secara gamblang sebenarnya dia juga sudah transparan sama seperti lawannya. Jadi kalaupun kalah atau menang dua-duanya sudah mengerti tali apa yang harus mereka pintal kalau memang dua-duanya jatuh cinta. Kalau tidak? Ada yang lebih pahit dari sekedar madu hitam. Rasa kecewa yang kembali membekas di hati dan merusak semangat baru untuk kembali berpijar dan kembalinya predikat jomblo abadi.
Pram menenggak tehnya seraya mengangguk.
"Setengah jam!" jawabnya tandas.
Mentari mengangguk lalu berbalik dengan kemenangan di tangannya.
"Rasain, emang enak pagi-pagi udah di gangguin! Lihat aja tuh muka, sama kayak mukaku kemarin. Syok dan bete!"
Mentari menoleh, laki-laki itu masih bersandar di ambang pintu menatapnya. Mentari tersenyum sebelum melanjutkan langkahnya ke dapur.
Setengah jam kemudian, Pram dan Mentari terlibat sarapan kilat bersama keluarga pak Joko. Setelahnya, pemanasan, dan berhubungan kemarin Mentari sudah di hina karena sebagai instruktur senam tidak pemanasan dengan baik. Dia yang akan memimpin pemanasan pagi ini.
Otot-otot gue bukannya panas karena pemanasan olahraga ini malah panas yang lain-lain. Jadi pengen gue sayang-sayang nih cewek.
Pram meringis bodoh sambil meneruskan pemanasannya sendiri dengan tempo yang lebih tinggi sebelum keduanya berlari keluar dari losmen.
Tak ada berbicara selama joging pagi yang mengarah ke aliran sungai yang dulu kerap Mentari sambangi bersama teman-teman masa kecilnya sembari main kejar-kejaran berujung main air.
Pram berdecak sewaktu Mentari mengajaknya berhenti.
"Gue belum puas, Tar! Ini mah kecil lari cuma sekilo doang."
Mentari tahu, karena niatnya memang joging santai. Takut otot laki-laki yang kemarin sudah kerja paksa jadi tambah berotot.
"Kita hiking aja sebentar. Kamu harus lihat tempat main aku dulu." katanya dengan binar bening mata indahnya.
"Ogah gue! Embun pagi aja belum hilang, gue takut ada ular dan Tar, please. Gue emang orang kaya baru, cuma gue gak bisa main ke tempat yang berbahaya." seru Pram.
"Oke, kita lari lagi sampai kamu puas, tapi pendinginannya di tempat yang aku mau!" sahut Mentari.
__ADS_1
Pram mengangguk. Keduanya kembali berlari dengan tujuan yang tidak tentu, Mentari hanya mengikuti kemana arah kaki Pram yang setiap pijakannya terasa pasti. Meski tiba-tiba bruk, ia membentur tubuh Pram sewaktu laki-laki itu berhenti mendadak di persimpangan jalan.
"Pram!" pekiknya.
Pram berbalik dan membuat jeda waktu sembari mengatur napasnya yang terasa berat.
"Udah puas?" tanya Mentari sambil menyipitkan matanya.
Pram berkacak pinggang sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matahari memang baru saja merekah dan aktivitas pagi baru sedang aktif-aktifnya di jalan yang mereka lewati.
"Balik aja yuk, kasian kamu kalo jauh-jauh larinya." ujar Pram, tangannya terangkat untuk mengusap peluh di pelipis gadis yang lebih parah terengah-engah dari dia.
Mentari mengangguk, mengikuti rute Pram berlari ternyata butuh tenaga ekstra. Dan ia tak sanggup berlari lagi. Otot-otot manjanya hanya sanggup untuk senam dan joging santai, tidak untuk lari maraton sepanjang delapan kilometer pulang pergi!
"Kamu tiap lari joging, Pram?" tanya Mentari.
"He'eh, di treadmill kalo enggak ya futsal karena otot kaki gue gak boleh kendur." jelas Pram.
"Kenapa?" Mentari heran. Keduanya memilih berjalan beriringan sambil memulihkan energi.
"Belum nikah kalo udah loyo mah, emak gue makin menjadi-jadi, Tar. Ngomel ini, ngomel itu. Panjang urusannya... Males gue dengernya." urai Pram, dalam hati menghangat. Dia rindu emak sebenarnya dan si emak sekarang baru dalam mode pengertian.
Mengenai si emak, Mentari langsung kepikiran tentang keputusannya ikut ke Jakarta.
"Besok aku beneran boleh nginep di rumah kamu Pram?"
Pram berhenti berjalan. Urusan itu, lagi-lagi mengganjal di benaknya.
"Kamu mau ke Jakarta sendiri atau sama Dara?" tanya Pram dulu. Setidaknya jawaban Mentari bisa memberinya ide lagi.
Mentari tidak tahu, kemarin saja Dara sudah drama, apalagi kalau dia tahu ka izin pergi ke Jakarta bareng Pram.
"Di rumahku emang cuma ada Mbok Sum, dan dua karyawanku. Emak tinggal di Jabar. Tapi kalo seumpama emak datang, apa kamu bisa aku ajak kompromi, Tar?"
"Bisa," Mentari mengangguk cepat, "pasti urusan soal Pevita dan buru-buru di suruh nikah?" tukasnya sambil melanjutkan langkah.
Pram tidak menjawab, dia hanya mendorong bahu Mentari sewaktu melewati jalan menanjak walau dalam hati, dia tersenyum penuh arti.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.