Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Sempurna


__ADS_3

Pram membuka seluruh jendela dan pintu kamarnya agar bau cat tembok yang selesai melapisi permukaan tembok kamarnya segera menghilang.


Ia pun juga menghidupkan kipas angin.


"Yakin gue, warna baby pink ini lebih baik daripada baby blue. Ya bisa di anggaplah ini mirip Mentari."


Pram menarik senyum simpulnya sambil memandangi kamarnya yang telah berubah warna, suasana, dan upaya untuk memberi yang terbaik untuk Mentari sedang pelan-pelan dia realisasikan.


Pram menuruni anak tangga dengan telaten dan menubruk tubuh Mentari dari belakang.


"Tari, makasih udah masak. Udah menyita tugasku yang sulit itu." Pram menggoyangkannya ke kiri dan kanan. Nampak seperti pemuda yang sedang kasmaran.


"Elo masak juga, Pram?" sahut Roni, "Ngeri banget elo sekarang, bapak rumah tangga sejati." cibirnya dengan air muka geli.


Pram berdehem sambil melotot. Roni yang memperhatikan itu terlihat makin meringis geli.


"Ya-ya-ya, gue bakal maklum kalo elo lagi menikmati momen itu. Beda sama gue, lima taun udah gue berumah tangga. Paling ogah gue masak!" adu Roni sambil mengambil segala apa yang di sajikan di piring.


"Tuan rumah buruan nyuruh kita makanlah, lapar gue habis ngecat rumah."


Tapi belum juga tuan rumah mempersiapkan, ia sudah makan duluan.


"Ngomong aja elo cacingan, Ron!" ucap Pram. "Dikit-dikit makan, dikit-dikit makan. Apa bini elo nggak masak sebelum ke sini? Nggak ada tukang sehari makan tiga kali, baru kali ini gue tau." sindirnya.


Dengan kesal, Roni menghentikan makannya. Dia merengut.


"Bini gue bukannya gak masak, dia sibuk. Tiap jam enem udah cabut ke sekolah. Mana mau dia masak habis bangun tidur, cuma kopi doang paling sama roti yang dia beli dari pedagang lewat. Tapi gue seneng, bro. Orang dia kalo masak rasanya awut-awutan."


Pram terkekeh, dia menemukan sedikit penghiburan dari wajah Roni sekarang.


Makanya Roni sering banget ngejek gue anak cinta. Mau gue balik ledek pun nggak bisa. Semua punya persoalan masing-masing. Makanya Roni sering banget ngejek gue anak cinta.


Pram meraih piring Roni sebelum menyuapkan sesendok makan ke mulutnya sampai-sampai istrinya menyembunyikan wajahnya di punggung Pram.


"Besok-besok elo lebih mesra sama istri biar bisa di suapin gini." Pram memberi saran pada sahabatnya yang masih ia suapi dengan kesungguhan hati persahabatan.

__ADS_1


"Caranya?"


"Beliin aja buku resep masakan!"


"Anjir lo!"


Semua tawa yang tertahan akhirnya lolos ke udara, Roni yang kalap menyambar isi piring berisi semangka dan menjejalkannya ke mulut Pram.


•••


"Pokoknya gue makasih banget elo sama tukang-tukang elo udah bantuin gue bikin rumah ini lebih bermakna lagi, Ron." Pram merangkul bahu Roni seraya mengajaknya keluar rumah.


Roni menghela napas, sudah jadi bulan-bulanan sepanjang sisa sore yang kini sudah menjadi malam. Tubuh kekar si otot ini membebani pundaknya.


"Buruan bayar, tukang-tukang gue butuh beli beras!" Roni menyingkirkan lengan Pram dari pundaknya, tapi kilau geli dari sorot mata Pram itu membuatnya curiga.


"Jangan bilang elo mau ngebon!" tukasnya dengan mata tajam.


Pram cekakakan sambil berkacak pinggang di teras. Dua tukang Roni pun memandang penuh spekulasi kepada Pram.


Pram mengeluarkan amplop coklat yang ia lipat-lipat sampai kecil dari dalam celana pendeknya.


"Elo bukanya nanti aja setelah keluar dari rumah gue." Pram nyengir, "Gue tunggu barang-barang gue laku, lumayan itu tambah-tambah beli perabotan baru!"


"Takut banget elo gue tilep!" rutuk Roni sambil menjejalkan amplop ke dalam saku jaketnya. "Gue cabut, thanks elo udah bikin gue jadi tukang, pedagang, dan tukang pengeritik cinta!"


Pram terbahak seraya membuka pintu gerbang rumahnya. Selang sepuluh menit Roni keluar dari rumahnya, ia sendiri ikut keluar dari rumah menggunakan motor.


Apotik.


"Kak, test pack. Lima." Pram tersenyum lebar, "Semua bisa di uji coba dalam sehari kak?" tanyanya penasaran setelah meneliti satu persatu test pack yang di taruh di etalase kaca.


"Bisa kak, pagi hari lebih akurat."


"Siap, bungkus semua kak."

__ADS_1


Pram membayar, pulang dan memberitahu Mentari perihal test pack itu.


"Aa yakin?" tanya Mentari, ia yang sedang mencuci piring berwajah cemas.


"Gak buru-buru, Aa. Aku takut Aa kecewa nanti dengan hasilnya." Aku juga.


Pram kembali memeluk Mentari dan mengusap perut ramping yang kerap ia jatuhi air kehidupannya.


"Gak masalah sayang, kita bisa coba lagi nanti. Coba gaya baru, tempat baru, asal besok pagi kita cek bareng-bareng."


Mentari mengangguk atas permintaan itu. Lagipula dia penasaran dengan dirinya sendiri kenapa beberapa hari ini dia sering lelah dan tidak mengerti dengan tenang akan perasaannya sendiri.


Pram menyentuh leher Mentari dengan bibirnya. Sampai berjam-jam yang terlewati dengan gusar di kamar tamu, pagi hari datang dengan cuaca mendung.


Pram dan Mentari pergi ke kamar mandi. Perlengkapan untuk mengecek air kemih pun sudah ada di rak stainless bersamaan dengan peralatan mandi yang lain.


"Aku butuh privasi, Aa." Mentari mendorong suaminya keluar kamar mandi. Dengan wajah kecewa, Pram bergeming tak sabar kan diri di depan daun pintu.


"Semuanya di coba, Tari."


Di dalam kamar mandi, Mentari menunggu hasil ke lima test pack itu dengan mata yang tak lepas dari benda pipih langsing itu.


"Gimana sayang, udah sepuluh menit lebih ini." Pram mengetuk-ngetuk daun pintu depan tak kalah gusar. "Buka pintunya! Lagian udah gak ada privasi juga di antar kita, masih malu segala."


Mentari menghela napas, di gesernya penahan pintu hingga membiarkan laki-laki yang pernah ia sumpahin akan dia enyahkan sendiri dari losmennya menarik kaca kecil berisi air kemihnya.


"Kok..." Pram memeriksa satu persatu test pack itu dan mendapati dua garis merah terlihat jelas di tiga test pack yang ada. "Bakal jadi bapak gue, hahaha. Emak dan bapak pasti bakal menikmati masa tua dengan tenang."


Pemilik senyum andalan yang ceria itu melabuhkan tubuhnya pada Mentari yang tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Makasih sayang. Makasih ya udah sabar memenuhi segala fantasiku selama sebulan ini. Kamu, sejuta mimpi yang sempurna bagi gue."


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2