
Diantara keluh kesah Pram menjemur pakaian sahabat-sahabatnya mengepel lantai. Ada Dara yang merasa dirinya kesambet keberuntungan yang besar sekali. Seperti tak percaya, tapi betul-betul nyata.
"Aku seneng banget emak dan bapak sayang sama aku dan mau adopsi aku jadi adik om Pram." kata Dara setelah mandi dan makan bersama di tengah taman.
"Aku-aku ketularan beruntung setelah kenal sama om Pram, hiks hiks, aku mau nangis lagi emak."
Ditubruk kembali tubuh Asih dengan pelukannya. Dara tersenyum sedih dengan bibir yang bergetar menahan tangis.
"Aku kayak mimpi, kadang-kadang dulu waktu aku kecil di panti asuhan suka ngarep ada yang adopsi aku atau ngajak aku pindah ke panti asuhan yang lebih baik di kota. Tapi sampai segede sekarang gak ada yang mau ngadopsi aku, mungkin benar kata Mentari. Aku berisik, suka jerit-jeritan dan item."
"Item? Apa item?" sahut Maxime.
"Kulitnya hitam karena suka main di bawah matahari alias gosong. Tuh liat, kerjaannya cewek itu kalo di rumah emak nyari kodok siang-siang!" jelas Roni.
"Aku berjemur di bawah matahari tidak pernah gosong." sahut Maxime.
"Ya kan elo bule goblok. Mau berjemur sepuluh jam sehari juga gak bakal gosong!" desis Dara kesal dan tatapannya pindah ke Roni yang duduk di samping Maxime. "Aku itu gak cari kodok, Om. Aku di suruh emak ngusir burung biar panen padinya banyak!" ucapnya meralat kalimat Roni.
Semua lalu tersenyum lebar dan mengutuk kelakuan Pram yang buang muka sambil meringis lebar.
Adek gue dilawan. Udah ember, bocor banget pula. Bener-bener titisan emak.
Asih mengelus-elus kepala Dara. Dengan sayang dia membalas pelukannya. Sejenak keduanya membuat suasana menghangat dan penuh haru akan keharmonisan keluarga Bagyo.
Beberapa kisah mungkin tersaji tidak sempurna seperti Dara. Menjadi bagian yang terbuang dan terlupakan setelah ego dan hasrat dari sepasang manusia biadab yang tak bertanggung jawab. Beruntunglah kamu yang terlahir dari rahim seorang ibu yang bisa kamu lihat sekarang dan bapak yang menjagamu.
__ADS_1
"Udah kali Mak, Ra. Ntar jadinya telenovela bikin mewek seisi losmen." protes Pram yang asyik menumpuk piring kotor.
"Namanya juga lagu trenyuh, Pram. Emang kamu, mutungan." ledek Asih, dan ledekan-ledekan lainnya keluar dari mulut sahabat-sahabatnya.
"Mendingan elo pada bantuin gue bawa semua ini tempat cuci piring daripada berisik dan buka aib gue!" omel Pram.
Semua sahabat-sahabatnya langsung balik badan dengan muka cengengesan. Cuma Maxime dan adiknya yang tidak paham gurauan mereka.
"Jadi maksud pembicaraan ini Dara akan di adopsi ibu Asih sebagai anak angkat?" tanya Maxime memecah suara cengengesan dari sahabat-sahabat kurang ajar Pram.
Pram pun jadi ikutan tidak bergerak sama sekali dan mengamati baik-baik wajah Maxime.
"Kenapa mas bule tanya-tanya? Gak usah jawab Mak, nanti dia tanya-tanya kenapa lagi aku di adopsi!" seru Dara, mengomandoi Asih.
Yang terkasih, Asih, seorang ibu yang hanya ingin semua orang di sekelilingnya kecipratan bahagia atas rezeki mengiyakan dengan anggukan.
"Ya." Maxime mengangguk meski dalam hati dia bertanya apa artinya kasep dan segudang tanda tanya lainnya.
Asih tersenyum lalu meluruskan kakinya, dia yang senang bergaul dan di kelilingi banyak orang mulai bercerita sewaktu ia berusia sama seperti Pram sekarang.
Sementara itu, meninggalkan kerumunan orang di taman. Pram yang hilir mudik mengambil pirang dan gelas kotor menggelengkan kepala.
"Kalo emak cerita tentang gue jangan percaya!" sahutnya sungguh-sungguh.
Bongkar terus aib gue, Mak. Bongkar. Gak bisa tengil lagi entar.
__ADS_1
Sendal jepit langsung melayang ke arah Pram, ia berjingkrak reflek yang berimbas pada jatuhnya mangkok bakso yang langsung di tangkap Dias.
"Di marahin mertua kapok elo, Pram! Mecahin mangkok baru." katanya sambil menumpuk mangkok itu ke tangan Pram.
"Udah sana cuci piring bantuin neng geulis." protes Asih, "ganggu emak cerita aja."
"Iya sono, jadi bapak rumah tangga yang baik elo." sahut Roni.
Pram menajamkan matanya sambil mengeraskan rahang. Hidupnya berubah setelah nikah, dari yang tengil jadi yang nurut tanpa bisa protes atau membantah apalagi setelah Mentari hamil. Pram hanya bisa ngomel sendiri dalam hati.
"Udah semua, Aa?" tanya Mentari sambil mencelupkan piring-piring ke dalam bak air. Ia membilasnya satu persatu seraya menaruhnya di bak kering untuk mempermudah membawanya ke dapur.
"Udah, sayang." Kegiatan mencuci piring keduanya menjadi ajang tontonan Wartini dan Purwati yang sedang menghabiskan sayur lodeh dan kerupuk sebelum panci dan dua sendok mereka ikut pindah ke tangan Pram.
"Jadi bagaimana kalo nanti malam kita buat api unggun untuk merayakan hari ini?" usul Maxime, "buat seru-seruan karena rasanya hari ini penuh dengan suka cita dan kejutan."
"Boleh juga tuh buat kegiatan malam, bosen kali di kamar mulu." sahut Roni, mukanya langsung jelalatan ke sana ke sini. "Gak usah ngajak Pram, mana mungkin dia mau malam-malam keluar kamar seru-seruan, semalam dia molor sama kita aja paginya nyesel, istrinya tidur sendirian."
"Hahaha, biarin aja kenapa. Dia itu tuan rumah, kapan lagi kita bisa nyuruh-nyuruh dia. Ya gak, Mak?" timpal Dias, cari aman. Takut menjadi bahan olok-olokan sementara ada Pram yang bisa di serang berkali-kali.
"He'eh, bener kasep. Pokoknya kalian yang rukun-rukun saja, jangan pada gontok-gontokan " Asih berusaha berdiri, diikuti Dara. Mereka hendak pergi ke panti asuhan, lalu membeli ubi jalar, singkong, dan kacang tanah di pasar untuk pesta api unggun nanti malam.
Pram menyetir sambil cemberut. Setengah hati ia menyesal mengajak sahabatnya berkunjung ke rumah mertuanya, setengah hati lagi, entahlah. Rasa-rasanya Pram ingin sekali mengadu, meminta belah kasih kepada Asih untuk sesekali membelanya bukan malah mendukung program ‘piknik’ sahabat-sahabatnya yang jelas akan mengacaukan malamnya lagi bersama Mentari alias molor bersama sahabat-sahabatnya lagi.
•••
__ADS_1
Happy reading