
Di pagi hari yang masih basah akan embun, Maxime melompat turun dari mobil Jeep terbukanya seraya tersenyum mendekati Mentari.
Wanita itu sendiri ikut tersenyum karena pada dasarnya ramah. Tapi dalam hati detak jantungnya lebih keras mana matanya sesekali memantau pintu rumahnya. Takut Pram keluar dan menemukannya bersama laki-laki blesteran itu.
"How are you?" tanyanya sambil memandangi hidung Mentari yang merah karena sering ia usap untuk mengurangi hawa dingin.
"Kamu kedinginan? Um... Apa kamu tau aku akan datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu jadi keluar untuk menyambutku?"
Adiknya yang bergabung lalu tertawa. "Kamu pikir ada kedekatan apa sampai-sampai ada reaksi dalam batin kak, ngaco kamu! Kenal aja tidak, just simbiosis, you know!"
Maxime mendesis malu sambil merangkul adiknya. "Diam kamu, Pricilla."
Adiknya tertawa dan memandangi Mentari. "Kakak aku katanya kangen sama kamu, The Sun. Itu alasan kami akan menginap lagi di sini, sebelum ke gunung Prau lagi. Kamu tahu, gunung itu memiliki sunrise terbaik di pulau Jawa seperti kamu, kata Maxime."
Maxime langsung salah tingkah. Gunung Prau dengan ketinggian 2.590 meter di atas permukaan laut itu memang memiliki sunrise terbaik saat cerah, dari atas puncaknya bisa terlihat deretan gunung yang ada di kemasan botol air mineral begitu gagah dan indah. One of my favorite mountain. Serupa Mentari pujinya waktu menginjakkan kaki di gunung itu.
Mentari pun ikut salah tingkah mendengarnya. Maxime, bule yang namanya digadang-gadang mirip merek teplon itu memang ada diingatnya.
"Aku sangat baik, Max. Senang melihatmu lagi dan kalian." jawab Mentari sambil menatapi tamu-tamunya, lalu dengan geli dia menerima termos yang Maxime pinjam dulu. Termos pengembara yang entah sudah seberapa jauh benda itu jalan-jalan.
"Aku sudah lupa padahal, astaga. Max, kamu bener-bener mengembalikannya ke sini. Aku pikir kalian sama sekali tidak ingat dengan losmen ini."
Maxime jadi terbahak. Bagaimana dia bisa lupa, foto gadis itu masih tersimpan di ponselnya berserta catatan kecil yang ia tulis tentang perempuan itu dalam perjalanannya.
"Janji tetaplah janji, Mentari. Aku senang kamu mengingatnya sekaligus beruntung jika di losmen kamu masih ada kamar kosong. Aku lihat ini ramai..." ujar Maxime sambil menoleh, memandang mobil-mobil mewah di belakangnya.
__ADS_1
Mentari tersenyum dan mengangguk lemah. "Masih ada kamar di dalam, Max. Ayo masuk saja, kalian pasti lelah."
"No, Mentari. Kita justru sedang semangat-semangatnya kesini dan kami tidak hanya transit. Kami akan singgah tiga hari." seru Maxime, suaranya memang semangat sekali sampai Mentari langsung panik sendiri.
Ya Allah, dulu aku berharap Max singgah yang lama biar Bisma panas. Sekarang bukan Bisma yang kepanasan, tapi Aa Pram.
"Baik," Mentari mengangguk ramah. "Kamarnya seperti yang kemarin adanya, tidak masalah? Untuk layanan kamar juga masih sama." jelasnya kembali seperti setting seorang resepsionis losmen.
"Bagus, harganya?" sahut Maxime.
Mentari terpana sebentar lalu tersenyum geli. "Harganya masih sama, Max. Tidak ada yang berubah di losmen ini selama dua bulan lebih kamu tinggal." guraunya sambil melangkah, ada senyum geli-geli resah di raut wajah Mentari.
Hanya aku yang berubah. Jadi jangan sampai kamu ada rasa sama aku, Max. Aku tidak mau kamu di hajar suamiku yang tukang labrak itu, apalagi mendengar omelan ibu mertuaku. Aku takut kamu kena mental.
"Baiklah, terima kasih kalo begitu." Maxime dan kawan-kawannya melangkah berbarengan sambil membawa barang-barang menginap mereka dan tetap menggoda bule tampan berstatus jomblo itu.
"Aku harus lewat pintu samping, Max. Tunggu sebentar." kata Mentari di depan ruang tamu.
Maxime mengiyakan, sebagai petualang sejati ia dan teman-temannya duduk ngemper sambil membahas perjalanan yang mereka lewati bersama. Sementara itu tawa yang di buat mereka membangunkan semua laki-laki dewasa di sebuah kamar.
Di dalam losmen, Mentari memastikan jika mertuanya masih istirahat, meski suami dan kawan-kawannya sedang gaduh di kamar. Cemas suaminya cemburu, Mentari meniup telapak tangannya berkali-kali.
"Semoga Aa bisa paham dan gak main tonjok." Mentari pergi membuka pintu ruang tamu losmennya, karena masih ada data diri Maxime yang ia simpan di buku tamu, ke lima orang itu langsung di ajak ke kamar.
"Semua tamu-tamu yang menginap disini keluarga saya, Max. Jadi silahkan berbaur jika berminat, mereka dari Jakarta dan Jawa barat." jelas Mentari sambil tersenyum membuka kamar nomer lima, lalu kamar enam.
__ADS_1
Mentari tersenyum dihadapan Maxime yang menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.
"Saya tinggal masuk ke rumah untuk buat teh sebentar, Max. Gak masalah saya tinggal dulu?" tanya Mentari masih dengan sikap santun meski dadanya berdetak kencang karena suaminya tepat di kamar dua sedang menatapnya dari depan pintu.
"Oke, tapi please. Jangan cuma satu gelas saja, berikan satu teko sekalian." pinta Maxime lalu tersenyum lebar, "Masukkan di termos itu lagi juga tidak masalah kalo kamu tidak keberatan itu barang aku pinjam lagi."
Mentari langsung meringis. "Boleh, Max. Lagipula termos ini lebih baik kamu bawa jalan-jalan, lebih berguna daripada sini."
"Haha, i think so. Tapi bagaimana denganmu?" Maxime kontan terbelalak melihat sekawanan laki-laki dewasa menyerbu taman sambil berteriak.
"Kedinginan gue disini ya Allah, harus pemanasan biar hangat." seru Roni.
"Bukan hangat atuh, tapi panas." timpal Dias.
Tiga orang yang ikut-ikutan terbahak sambil ajojing ke kanan, ke kiri, mengikuti irama dari tukang penabuh genderang, Roni, yang terpancing untuk memanaskan suasana hati Pram.
Pram bersiul. Dia mendekati Mentari dengan gaya. "Adek, bikinin Aa kopi dong." Dengan lihai ia merangkulkan tangannya di bahu Mentari.
"Selamat menikmati fasilitas losmen idaman, kakak. Untuk layanan kamarnya nanti saya yang kasih. Semoga kakak bule berkenan." kata Pram tak kalah lihai.
Maxime mengangguk langsung tanpa berpikir panjang karena ia telah biasa bertemu dengan banyak orang selama perjalanannya.
"Thankyou so much, aku akan senang jika kalian berdua menyambut baik kedatangan kami di sini. How lucky i'm." Maxime mengumbar senyum yang tulus.
Makin menjadi-jadi lah suara-suara penabuh genderang jadi-jadian di belakang Pram. Makin bergemuruh pula hati Pram saat itu juga.
__ADS_1
•••