
Seiring datangnya kantuk dan lelah menempuh perjalanan yang panjang, Pram masih harus memastikan semua rombongannya mempunyai tempat tidur yang nyaman.
Pak kades yang menemaninya hanya bisa ngelus dada karena ternyata besan dari calon mantan besannya ternyata orang punya, terlihat tiga mobil berukuran besar terparkir di depan pendopo rumahnya. Dua Nissan Navara dan satu Jeep Wrangler putih. Belum lagi bus yang sekali gas, polusinya tidak kelihatan. Kelas. Entah nyewa atau nggak, pak kades tidak mau mikir.
"Sepertinya ini nggak muat, pak. Keluarga uwa belum dapat kamar." kata Pram sehabis naik ke kamar atas.
"Mari saya antar ke rumah pak Damsuki, mas. Di ajak juga yang belum pada dapat kamar." jawab pak kades ramah.
Pram kontan melambaikan tangan ke arah pendopo tempat saudara-saudaranya yang belum kebagian kamar duduk-duduk santai sambil ngobrol-ngobrol.
"Ayo, wa, teh, mang, bawa juga tasnya." teriak Pram sambil melambaikan tangan. "Mak, aku ke penginapan yang lain." imbuhnya saat mendongkak karena Asih dan Bagyo sedang berada di pinggir balkon.
"Ya ati-ati, minta semuanya tepat waktu nanti jam tujuh untuk seserahan!" balas Asih dengan nyempreng.
Pram mengangguk, dia tersenyum sewaktu menatap pak kades. "Hayu, pak. Maaf merepotkan, bawaan saya banyak."
"Santai saja, sudah tugas saya. Mari." balas pak kades sambil berjalan, dan Pram harus menjelaskan perihal bahasa yang di gunakan rombongannya yang rata-rata memang orang Sunda tulen.
"Maaf pak kades kalo rombongan saya pasti bikin bingung. Tapi tadi rombongan sudah saya briefing untuk tidak minta aneh-aneh dengan warga lokal. Takut lieur." jelas Pram lalu meringis, dan di jawab anggukan lah oleh pak kades. Lagian siapa yang tidak bingung, Jawa ketemu Sunda?
Pram tersenyum dalam hati, memimpin dua puluh orang ke rumah pak Damsuki. Baru setelah magrib, Pram kembali ke losmen Bu Desy, ia buru-buru merebahkan diri di sofa sambil melihat emak dan bapaknya siap-siap ke rumah Mentari.
"Cie, ketemu besan, cie..." goda Pram, "jangan norak ya, Mak. Kalo nggak tau bahasa Jawa tanya Pram, jangan main iya-iya aja. Takut nanti jadi salah kaprah."
"Halah, kamu ini malah nasihati emak! Sudah sana mandi, pake lulur emak biar wangi, kulitnya halus. Keramas, terus pakai kondisioner. Jangan lupa itu kukunya di potong, di kikir, kasian Mentari besok kamu cakar!" kata Asih,
Pram terkekeh-kekeh, emang beneran maung?
"Ngantuk tapi, Mak." ucapnya lalu menguap lebar-lebar.
__ADS_1
Asih jadi berang, dia bangkit dari kursi dan berbalik. "Mau lamaran atau mau tidur?" Diacungkannya jarum pentul ke dekat lengan Pram. "Hayu mandi, atau masih mau emak mandiin?"
"Masih, Mak. Masih... Hayu yang terakhir kali sebelum besok di mandiin ayang." gurau Pram, langsung berdiri ketika Asih mengancamnya lagi dengan jarum pentul.
"Iya-iya, mandi sendiri." Akhirnya, demi mengejar waktu dan mimpi, Pram melakukan semua yang di minta ibunya seraya memakai setelan jas formal. Pram menyugar rambutnya yang wangi sampo ibunya, wangi bunga-bunga.
"Yang penting wangi." Pram menyaut parfumnya, semprot sana sini seraya memastikan tampilan rapi di cermin.
"Hayu berangkat, mak, pak. Dah kasep ini anak kalian." Pram menyaut peci bapaknya di meja dan memakainya. "Kasep nggak, pasti kelihatan ngantuk?"
Bagyo mengulurkan tangannya, membetulkan peci anaknya, "Hati-hati, yang sabar, yang tenang, jangan lupa untuk berdoa dulu."
Pram tersenyum hangat sambil mengangguk, tangannya merenggang, memeluk ayahnya. Asih yang melihatnya tersenyum hangat, ganti ia yang di peluk Pram.
"Apa yang di kasih emak dan bapak, di gunakan sebaik-baiknya, Pram. Udah nggak ada lagi yang begitu di rumah. Sudah kosong." kata Asih mengingatkan.
•••
Lima belas menit kemudian, rombongan yang sudah tiba di bawah naungan dedaunan dengan hawa dingin yang tidak begitu kentara karena rame-rame datangnya. Pram yang berada di barisan terdepan tersenyum hangat sewaktu keluarga Mentari menyambutnya dengan penuh kehangatan.
"Pak, dimana geulis?" tanya Pram sewaktu menyalami calon mertuanya.
Joko terkekeh geli sambil menepuk-nepuk bahu Pram.
"Mentari baru di pingit, dik Pram. Di kamar sama Dara."
"Yah, pengen ketemu padahal." eluhnya dengan sedih, Asih yang mendengarnya menyikut lengan anaknya sambil melotot. "Yang antri banyak, Pram. Buruan duduk yang manis!"
Pram kontan nyengir sambil menyingkir dari depan Joko. Ia duduk manis di kursi yang memakai kain putih lalu menyaksikan bagaimana rumah Mentari sudah di percantik, lebih terang dan ada panggung pengantin yang sama sekali tidak ada bunga segar. Pram jadi tersenyum, hanya beberapa langkah sesungguhnya dia bisa ketemu dengan wajah ayu itu. Dan karena prosesi seserahan baru di mulai hingga sambutan decak kagum para keluarga Mentari melihat banyaknya seserahan yang di bawa keluarga juragan Bagyo membuat Pram jadi tersenyum. Terlebih Bisma yang dengan gentle datang dengan istrinya nyaris kehabisan napas melihatnya.
__ADS_1
"Mak, Mak." panggil Pram di sela-sela suasana malam yang syahdu dan hangat. Asih menoleh, "Apa?"
"Aku ke kamar mandi ya, kebelet banget. Gerogi terus daritadi." akunya, padahal cuma ingin jadi penyusup kamar Mentari.
"Alasan kamu tuh, di tahan sampai pulang!"
Muka tengil Pram langsung berubah jadi masam, padahal ingin sekali saat ini ketemu Mentari walaupun cuma sebentar. Meski begitu, tanpa sepengetahuannya. Di balik kamar VIP yang dulu sempat Pram tempati, Mentari sedang memandanginya sambil senyum-senyum sendiri.
"Biarkan aku mencintaimu, Pram."
Hidung Dara mengembang sambil
menyikut lengan Mentari, sontak menghapus khayalan Mentari akan esok hari.
"Kamu sama Om sama aja deh, Tar. Suka ngintip-ngintip. Heran aing. Dasar, udah ayo kita ke kamar." Dara menarik tangan Mentari dengan paksa.
Sementara Mentari menahan tralis besi untuk menahan dirinya agar tetap di belakang jendela sampai acara seserahan selesai.
"Aa beneran gagah perwira, Ra!" pujinya sambil terseok-seok mengikuti Dara ke kamarnya. "Sebulan nggak ketemu, tambah kasep pisan dia."
Dara jadi cekakakan, "Lagian gimana nggak kasep, sejak kamu pulang, si Om di suruh perawatan kulit sama emak. Dah lah, masuk, biar aku kunci kamarnya."
"Tapi, Ra. Ra. Ra." Mentari menggedor-gedor pintu kamarnya sewaktu Dara benar-benar mengunci kamarnya. "Nggak bisa tidur, Ra. Nggak bisa tenang. Temenin!" serunya dengan lantang.
"Ntar aku ambil makan dulu." Sama obat tidur, imbuhnya dalam hati sambil nyengir. Dia keluar ke acara seserahan, mencari Pram dan mengadu padanya kalau Mentari tadi habis ngintip lewat jendela. Pram jadi terkekeh-kekeh, tapi imbasnya dia jadi tidak tenang malam harinya sewaktu istirahat di kamar.
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1