Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Sama-sama resah.


__ADS_3

Jangan lupa untuk slalu like dan koment ya reader karena semakin banyak apresiasi dari kalian aku juga semakin semangat untuk up lagi. Terima kasih 💕


•••


Dengan pikir panjang Mentari memacu motornya ke arah rumah sembari memusatkan perhatian ke jalanan. Berharap lelaki itu ketemu, tapi sampai ia tiba di persimpangan jalan yang cuma tinggal berbelok saja sudah sampai rumah, Mentari tak kunjung menemukan laki-laki itu.


"Masak dulu atau cari Pram?" gumam Mentari berhenti di dekat gerbang berkarat. Dia menghirup udara segar di bawah kanopi pepohonan untuk meringankan rasa sesak di dadanya.


"Kalau aku cari terus ketemu tapi dia lapar. Pram pasti protes!" Mentari menepuk jidatnya, merasa dua diantara kebimbangan itu membuatnya pusing sendiri.


"Ya udahlah aku masak aja toh dia laki-laki. Kalau ilang pasti bisa tanya jalan dan gak mungkin juga ilang dia kan tengil. Orang tengil biasanya sok berani."


Mentari memacu motornya ke samping rumah, memarkirkan motornya disana. Dia menurunkan barang bawaannya sembari menatap jalan keluar-masuk losmennya. Tak ada tanda-tanda Pram datang hampir sepuluh menit dia bergeming disana.


Demi kelancaran sarapan pagi untuk tamunya yang benar-benar berbeda itu akhirnya Mentari masuk rumah, menuju dapur untuk menata sebagian sayuran dan buah-buahan segar ke dalam lemari es dan menyisakan bahan-bahan yang harus ia masak pagi ini. Soto ayam dan tempe goreng.


Mentari dengan tekun mulai menyiapkan seluruh persiapan masak-masaknya, sepotong ayam bagian dada seberat setengah kilo sudah dicuci dan direbus, bumbu dasar soto sedang ia haluskan sebelum meracik sayuran-sayurannya.


Mentari tersenyum ketika aroma kuah soto itu sudah menguar. Sambil menunggu soto ayam matang gadis yang terlatih dalam urusan perumahtanggaan dalam kategori masak dan beres-beres rumah itu menggoreng tempe.


Dan begitu semuanya matang. Mentari kehilangan senyum. Tersadar kesendirian itu membuatnya merenungi perkataan Bu Desy tadi.


"Apa benaran istrinya mas Bisma kayak gitu, ibuk pasti ngomel-ngomel setiap hari tapi apa mas Bisma juga?"


Pikiran-pikirannya yang penuh tanda tanya terpusat pada imajinasi akan rumah tangga Bisma. Sayangnya, di saat Mentari terus menghipnotis dirinya sendiri dengan segala sakit hatinya agar semakin melupakan Bisma, justru sebagian kenangannya bersama dia mencuat hingga membuatnya melupakan Pram yang menyisir jalanan yang mereka lewati tadi malam.


Pram terus memusatkan perhatiannya ke arah bawah, berharap benda yang dinamakan dompet itu ketemu karena rencananya cukup sederhana, membuat Mentari senang. Tapi ternyata tidak semudah itu rencana sederhananya.

__ADS_1


Pram berkacak pinggang dengan napas terengah-engah.


"Ya Allah nyari dompet susahnya udah mirip nyari jodoh. Susah amat bro, mata gue sampe pegel!" keluhnya.


Pram mencegat tukang bubur yang kebetulan mendorong gerobaknya keluar dari gapura kampung Teladan.


"Satu mangkok bang!"


Kalimat itu diiyakan tanpa penolakan dari pedagang bubur. Sepuluh menit berlalu, sembari duduk-duduk di bawah gapura untuk menikmati semangkok bubur ayam yang tersaji hangat-hangat dengan suwiran ayam dan kerupuk udang, Pram menyantapnya pelan-pelan sambil menerawang kejadian semalam.


"Dompet itu kabur waktu gue ngebut, otomatis jatuhnya gak jauh-jauh banget dari lokasi kebut-kebutan semalam, artinya...," duga Pram sambil mengusap dagunya dan melahap buburnya, "masih jauh banget bro gue joggingnya." Ia menggeleng kepalanya, sadar healing pagi ini cukup melelahkan juga menyehatkan.


"Kenapa mas?" Penjual bubur itu penasaran, Pram gumam-gumam sambil makan. Terlihat meresahkan juga karena nampannya orang itu juga kebingungan.


Pram mengangkat muka. "Gak apa-apa, Pak." jawabnya lalu meringis. Wajahnya pasti kelihatan benar-benar kentara sekali sampai orang lain bisa membacanya.


"Punten, berapa?" Pram menaruh mangkok ayam jago yang telah habis isinya di gerobak.


Selembar uang dengan jumlah yang pas berpindah ke tangan penjual bubur.


"Makasih, pak. Buburnya enak tapi ayamnya kurang banyak." seru Pram sambil berjalan cepat menghindar dari protes keras penjual bubur itu.


"Kalau mau ayamnya banyak jangan beli bubur, tapi beli ayam goreng mas!" rutuknya penjual bubur kesal.


Pram terbahak-bahak, berhubungan makan belum lengkap tanpa minum. Dia memberhentikan penjual jamu yang mengayuh sepeda dari arah berlawanan.


"Mbok mau jamu kuat." seru Pram. Semangatnya yang ceria sampai membuat Mbok jamu meringis geli.

__ADS_1


"Pengantin baru mas?" Mbok jamu menuangkan air jahe, madu dan telur yang dicampur dalam satu gelas.


"Pengantin baru?" sontak Pram menunduk, adiknya masih segel kok, belum pernah dicelupkan ke dalam kehangatan. Jamu kuat itu hanya untuk stamina, bukan untuk uwwu-uwwuan sama ayang, orang gak punya.


Pram menerima segelas jamu itu, dengan tangan kiri yang mengapit hidungnya, sekali teguk jamu itu tandas. Kemudian segelas jamu manis diberikan untuk melegakan tenggorokannya.


Pram tersenyum dalam hati, "jaga-jaga aja biar tetap strong meski nikahnya masih nanti." Dia membayar lalu pergi dengan langkah lebih pelan, kekenyangan. Namun dengan begitu dia lebih fokus mencari dompet yang katanya Mentari cuma dompet dari 'Toko Emas Kelangenan', dompet yang lebih mirip pouch sebenarnya.


Pram berjalan sambil merenggangkan tubuhnya, sebentar-sebentar melakukan stretching sampai-sampai perutnya suduken. Pram berhenti di warung kecil.


"Boleh gak sih istirahat dulu, moga aja Mentari gak khawatir gue lama jogingnya!"


Pram membeli sebungkus rokok demi istirahat yang lebih baik ketimbang dicurigai pemilik warungnya yang menatapnya heran.


"Perutku sakit buk habis sarapan sama njamu, numpang duduk sebentar boleh buk?" izinnya dengan sopan sambil menahan sakit.


"Monggo mas, apa perlu pakai minyak?" Si ibuk sepuh itu mengulurkan minyaknya dari etalase toko.


Pram geleng-geleng kepala. Mentari bisa curiga nanti kalau pulang-pulang dia bau minyak bukannya keringat.


"Cuma butuh istirahat buk, terus cari dompet ayangku yang jatuh tadi malam." akunya ngaku-ngaku biar kelihatan keren dan perhatian.


Akhirnya ibu itu membiarkan Pram istirahat dulu sedangkan dia kembali menjahit bajunya di belakang etalase.


Pram menikmati sebatang rokoknya tanpa tahu di depan losmen, Mentari gelisah bukan main menanti kehadirannya.


"Apa Pram beneran kesasar? Ya Allah, dia ada-ada benget sih!"

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2