
Matahari tenggelam, angin malam dan kabut yang turun tak menyurutkan semangat para pemuda-pemudi itu untuk tetap membuat api unggun di tengah taman.
Pram dan Mentari menatap lekat api yang membakar tumpukan kayu sambil duduk bersila. Di tangan mereka ada jagung yang di tusuk dengan tusukan sate untuk mempermudah membolak-balik saat membakarnya meski membakarnya tidak langsung di api unggun karena Pram sempat bersabda sebelum terjadinya acara bakar-bakaran.
"Istri gue lagi hamil muda, bakar pakai arang biar gak terkontaminasi asap hitam!"
Dan yang lain mengangguk patuh demi mulusnya acara seru-seruan bareng malam itu.
"Bagi menteganya dong, Aa. Jagung gue kurang gurih kayaknya." kata Dias.
Yang di panggil Aa dengan nada suara genit yang di buat-buat itu sontak menyaut mentega di piring dan menyembunyikannya ke dalam baju.
"Panggil gue yang bener!" gerutu Pram, "Dan yang boleh panggil gue Aa cuma Mentari seorang, elo pada yang punya kumis kayak lele jangan pernah panggil gue Aa! Ngerti gak?"
Dara menggeleng tidak mau. "Terus aku juga panggil Om, Aa?" komentarnya. "Gak mau aku panggil Om, Aa. Tari ntar cemberut."
Mentari langsung mendelikkan matanya karena ia jadi tersadarkan ucapan Dara harus di ralat.
"Biasa aja kali, Ra. Coba gih panggil Om Pram, Aa." pintanya hingga membuat Pram mendelik, tapi untungnya Dara langsung bergidik ngeri.
"Gak, makasih. Om lebih cocok, om dah tua."
Gadis berjaket hitam yang tadi siang kembali merasakan sensasi ruang tumbuh masa kecilnya membalik semua jagung yang ada di charcoal grill alias tempat bebakaran.
__ADS_1
"Mas bule, jagung kamu nih gosong setengah." seru Dara sambil mengulurkan jagung bakar pedas milik Maxime.
"Terima kasih, tidak apa-apa." Maxime tersenyum dan maknyus, bule tampan yang sejak awal datang ke losmen idaman sudah mencuri perhatian Dara kembali membuat gadis itu terkena gejala salah tingkah.
"Sama-sama!" balasnya ketus.
Dara membuang muka meski pipinya sanggup membuat Pram dan Mentari ikut-ikutan salah tingkah.
"Kenapa, Ra?" goda Mentari.
Dara mengulurkan satu persatu jagung yang sudah matang ke om-om beristri yang sudah antri sejak tadi. Sementara Dara sedang membagikan jagung-jagung itu, Mentari menaruh lagi jagung mentah ke atas panggangan seraya mengipasinya bara apinya.
"Om jadi kita lama di sini?" tanya Dara sambil memasukkan ranting kayu kering ke api unggun. Nyala api unggun itu sekarang kini sama hangatnya dengan suasana di taman.
Pram mengiyakan, "Masih harus ke dinas sosial, baru setelah itu balik barat. Kenapa, Ra? Udah kangen Danang?"
Dara pura-pura tersinggung sambil menyenggol lengan Mentari.
"Daripada jadi pengawas Danang sama Tegar, mendingan disini. Ada yang bening." bisiknya.
Mentari langsung menyunggingkan senyum sambil mengalihkan perhatiannya pada Maxime yang tak sedikitpun menunjukkan rasa kecewa.
"Max, do you want to bring my sister?"
__ADS_1
"For what?" Maxime langsung mengernyit.
"To go around with you, cause she's a little dangerous girls but never know how beautiful the world. She's have more adrenaline."
"No, no, no." timpal Pram, menatap istrinya tak percaya. Apa-apa coba pakai menjerat Maxime lebih lama. Dia itu masih jadi ancaman baginya. Pesonanya bahkan lagi segar-segarnya. "Maksud kamu apa, Tar? Mau mak comblangin mereka?"
"Fifty-Fifty." Mentari meringis, "Siapa tau ya kan, daripada hanya mengagumi dan gak kesampaian." Angin berhembus kencang, Mentari merasa dingin itu menebus jaketnya hingga ke dalam. Ia menahan rasa dingin itu sambil mengulurkan tangannya ke dekat api unggun.
"Tapi dia adek gue, sayang. Kalo jadi, lah jadi ipar gue. Emak juga gak bakal ngasih izin Dara jalan-jalan sama mereka tanpa pengawasan." Pram menghela napas.
"Sebentar, maksud kalian berdua aku harus bagaimana. Aku bisa mengajak Dara jalan-jalan atau tidak? Kalian berdua seperti ingin bertengkar karena itu." sahut Maxime.
"Biarin aja, Max. Kalo bertengkar malah bagus, kita punya tontonan gratis." timpal Roni. "Lagian elo negatif thinking sama orang, bro. Percaya aja deh mereka orang-orang baik, bokap nyokap Maxime tinggal di Jakarta, dekat rumah gue malah. Jadi kalo macem-macem kita langsung sikat aja mereka!"
"Masalahnya mereka traveler, Ron. Traveler gak pernah stay di rumah! Ngerti elo sekarang?" sahut Pram, mendadak ide istrinya itu bikin hipertensi. Dan seperti ingin memulai perdebatan sengit, mana yang menjadi sumber perdebatan mereka malah asyik makan. Dara menghabiskan jagungnya dengan cepat karena mereka semua jadi saling diam.
"Tuh akibat kalian ribet sendiri. Aku aja santai." Dara menyenggol lengan Mentari, "Om tuh ngambek, takut adiknya kenapa-kenapa, eh kamu malah nyuruh aku traveling kemana-mana sama orang baru." cibir Dara, meski selanjutnya dia berbisik lirih sekali. "Walaupun aku mau! Hihi."
Mentari jadi tersenyum bebas sambil menggelengkan kepala. "Tuh minta izin kakak kamu dan emak kamu dulu biar di kasih izin!"
Dara mengangguk sambil membalik jagung-jagung di depan mereka biar tidak gosong lagi seperti kulitnya.
"Aku tidak masalah kalo Dara mau traveling bersama kami, cuma traveler memang harus mandiri dan berani. Dia sudah mempunyai basic itu bukan?" kata Maxime, seketika Pram berdehem-dehem seperti terkena radang tenggorokan.
__ADS_1
"Lewatin emak gue dulu, baru gue bisa kasih izin. Ngerti?"