
Keriuhan bapak-bapak dan calon bapak di luar losmen terdengar sampai ke kamar Mentari, terlebih waktu Pram terbahak-bahak dengan riang gembira.
Mentari menyaut bantal dan menutup telinganya. "Kenapa dia, kenapa heboh bener—"
Belum tuntas rasa kesalnya, pintu kamarnya di ketuk, sedetik yang tak usai, kamarnya sudah di buka oleh Purwati.
"Kamu mau di kamar terus-terusan, Tar? Ayo keluar bantu ibuk bikin rujak dan gorengan." kata Purwati sambil menarik bantal yang menutupi kepala anaknya.
"Ada Dara, buk. Sama Dara aja ya, aku masih capek banget ini. Kakiku pegel-pegel."
"Dara baru nyuci sama setrika baju-bajunya Pram, Tar. Ayo jangan malas-malasan di kamar, makin jauh dari jodoh nanti, ibuk takut." bujuk ibunya.
Mentari tergeragap dan langsung teringat dengan barang pribadi Pram dan capit gorengannya. Tergesa-gesa dia keluar kamar seraya masuk ke ruang serbaguna.
"Ra, biar aku aja!" serunya.
Dara tersentak kaget sambil mendongkak.
"Kenapa? Katanya ibuk kamu geli ngurus baju-bajunya Pram. Jadi biar aku aja!"
Argh, itu. Teriak Mentari dalam hati sambil menunjuk barang pribadi Pram yang sudah rapi.
"Kok Dara gak geli." batin Mentari, resah, barang itu juga di lihat Dara, bahkan di sentuh secara langsung tanpa perantara. "Yang baju-baju kotor sekarang udah kamu cuci?" tanyanya.
"Belumlah, satu-satu. Gak lihat nyetrika seprai sama bedcover itu paling susah!" cecarnya jengkel.
Mentari langsung pergi ke sumur, satu keranjang baju kotor Pram ada di dekat mesin cuci. Dan demi memastikan tak ada barang pribadi Pram, Mentari langsung menuang isi keranjang itu ke lantai. Dia masukan satu persatu ke dalam tabung mesin cuci sambil mengernyit.
"Kok gak ada!" Barang pribadi itu gak ada, dan malah membuat gadis itu cemas.
Mentari mengisi air seraya menuangkan deterjen sebelum gegas ke samping rumah tempat dimana suara kesibukan itu berada.
"Ada ada, Nduk?" tanya Joko. Bapak satu anak itu sedang berjongkok untuk menerima ember berisi galian tanah dari dasar kolam.
Pram berhenti mencangkuli tanah setelah tumpukan sampah dan daun-daun kering yang menutup bekas empang tadi ia bakar, ia melompat ke atas sewaktu Mentari menyebut namanya.
"Ada apa, Tar?" tanyanya sambil melompat ke atas. Kaki, tangan, baju, celana, penuh dengan tanah basah. Sudah pasti nyucinya harus di sikat dulu baru masuk mesin cuci. Tapi itu urusan nanti, sekarang urusan barang berbentuk segitiga itu yang gak ada.
__ADS_1
"Dimana itumu." ucap Mentari.
"Dimana itumu apa?" tanya Pram bingung. "Itu yang mana?"
"Mm..., Mmm...," Mentari menggaruk keningnya sambil tersenyum aneh.
"Kamu kenapa sih, Tar? Ngomong aja lagi." desak Pram gak sabar dengan maunya gadis itu.
"Itumu dimana yang bentuknya segitiga." bisik Mentari, malu kalau bapaknya dengar apalagi temannya. Bisa-bisa malah jadi bahan bulan-bulanan mereka.
"Astaga, cangcut gue?" bisik Pram, air mukanya berubah geli setelah menegakkan tubuhnya, "nanti aku cuci sendiri, geulis. Kamu tenang aja dan mendingan sekarang kamu masuk ke rumah, tidur-tiduran. Nikmati waktumu."
Mentari mencebikkan bibir, merasa sudah tidak ada lagi rahasia di antara mereka maka sikap profesionalitas kerjanya tidak perlu di buat serius-serius amat.
"Kamu gak sakit hati kan aku pake capit gorengan untuk ngurus benda itu? Takutnya nanti kesannya aku gak menghargaimu." tanya Mentari gusar.
Pram terpana dengan gagasan Mentari. Tidak akan dia sakit hati untuk hal sepele seperti itu, malah lucu, malah dia yang sadar kalau dia yang berlebihan meminta laundry full service.
"Enggak Tari. Sumpah, aku gak keberatan." kata Pram serius, "Sekarang kamu masuk aja sana, kata ibumu tadi kalian mau ngerujak. Aku mau tuh, seger dan pedes mirip kamu kalo lagi ngomel-ngomel." usir Pram sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mentari terperangah, lalu dia balas kedipan mata Pram dengan kedipan sebelah matanya juga.
Pram memandang takjub Mentari sembari menyunggingkan senyum dan geleng-geleng kepala. Dan efeknya Joko yang pura-pura tidak paham menyinggung. “Extra Large apa dik Pram?” Lengkap dengan mimik wajah polosnya.
Pram melompat ke dalam kolam yang harus ia perdalam ukurannya.
"Ukuran pak." Pram meringis, "lanjut lagi pak biar sekalian capeknya, habis itu baru leha-leha."
Joko berspekulasi akan kemungkinan jika anaknya yang baru membantu Purwati di dapur dan laki-laki yang aktif itu berjodoh. Terbayang sudah bagaimana ramainya rumah tangga mereka. Yang satu jago tangkis, yang satu hobi ngomel. Wah—wah, spekulasi Joko membuatnya ngakak sendiri.
Pram dan Pak Susilo, salah satu teman Joko di kampung sontak memandang heran laki-laki yang terpingkal-pingkal sendiri itu.
"Biarkan aja, Pram. Joko paling lagi kesurupan demit pohon nangka di belakangmu itu." kata Susilo lugas.
Gak usah di tanya, Pram langsung lompat dari dalam kolam sembari beringsut ke dekat Susilo.
"Beneran ada demitnya, pak?" tanya Pram panik.
__ADS_1
Susilo yang melihat muka tengil tamu losmen itu ketakutan terpana. Lah wong dia cuma bercanda, di anggap serius.
"Tenang Pram, tenang. Saya ewes-ewes dulu."
Susah payah Joko menghentikan tawanya setelah Purwati dan Mentari ikut nimbrung sembari bertanya ada apa hampir bersamaan.
"Bapakmu ini lho edan tiba-tiba ketawa sendiri." jawab Susilo.
Tapi muka Pram yang masih panik membuat Mentari menghampirinya.
"Kenapa kamu?" tanyanya heran.
Pram menunjuk pohon nangka di depan mereka. Gak heran laki-laki itu percaya saja kalau pak Joko kesurupan karena pohon itu kerap di sangkut-pautkan dengan hal-hal mistis.
"Pak Susilo bilang, bapakmu kesurupan demit pohon itu, Tar. Ngeri gue."
Tidak hanya Mentari saja yang kontan tersenyum lebar, Purwati pun juga meski tidak lama. Dan sebagai ibu yang bijak dia meremas bahu suaminya. Memperingatinya agar tidak ngawur dengan anak orang.
"Kami itu di bohongi Susilo dik Pram, bapak tidak kesurupan. Bapak cuma terhibur dengan kalian. Cocok lho." kata Joko menerangkan duduk masalahnya kenapa dia ketawa.
"Cocok?" ucap keduanya hampir bersamaan. Pram dan Mentari saling pandang, lalu karena sama-sama enggan untuk membahas kecocokan yang di maksud pak Joko keduanya mengendikkan bahu dan membubarkan diri. Pram kembali sibuk mencangkul tanah sambil menulikan telinga dari pembicaraan Joko dan Susilo mengenai dia dan Mentari, sementara Mentari sibuk mengupas buah-buahan yang ingin di jadikan rujak sambil cemberut.
"Kenapa, nduk?" tanya Purwati yang sejak tadi mendapati putri semata wayangnya seperti kurang energi.
"Apa menurut ibuk Pram cocok sama Tari?" tanya gadis itu memelas. Hampir nangis waktu ibunya tersenyum lebar seperti gelagat bapaknya tadi.
"Suka?"
Mentari menggeleng lalu di ceritakan kejadian tadi pagi ke ibunya. Lengkap dengan adegan nangis di pelukan Pram sewaktu Bisma ingin menciumnya.
Purwati menghela napas sambil meniriskan bakwan jagung dari wajan.
"Mungkin bapakmu benar, Nduk. Kalian cocok. Tapi jangan terus-terusan di pikirkan, biarkan dulu apa adanya. Kalau cocok kan nanti jadi sendiri." Purwati tersenyum penuh arti. "Ibuk ambil tikar, kamu bawa semua ini keluar."
Mentari menghirup udara dalam-dalam, merasa pertemuannya dengan Pram tidak lagi menjadi apa adanya melainkan ada apa-apanya. Huh!
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.