Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Jablay ngambek.


__ADS_3

Insting pertama Mentari setelah di gagahi suaminya yang gagah perwira adalah menyembunyikan seluruh tubuhnya yang berkeringat dan terbuka dengan selimut.


"Enak tapi sakit." gumam Mentari sambil mengusap perut suaminya yang masih menegang dan basah oleh keringat.


Pram yang tetap bertelanjang dada dan bersandar di dinding merapikan rambut istrinya yang berantakan tapi seksi sekali. Desau napas akan kenikmatan yang belum pudar dari kamar mereka masih terasa di seluruh pori-pori kulitnya.


Pram memejamkan matanya, menikmati fantasi liar yang masih berputar-putar di benaknya sambil menurunkan tangan Mentari. Menaruhnya di atas kenikmatannya yang kembali bangkit.


Keduanya kembali bercinta, memadu asmara dan membuang—menyimpan benih calon-calon juragan dan pemimpin losmen idaman ke rahim Mentari.


Dengan napas tersengal-sengal. Mentari meremas pantat suaminya.


"Aa, udah, aku ngambek kalo Aa minta lagi." omel Mentari sewaktu Pram masih belum beranjak dari sisi tubuhnya.


"Baru juga pendinginan tubuh, sayang. Habis ini mandi terus sarapan. Tapi, omong-omong opor ayamnya tadi udah mateng belum, Tar?" tanya Pram, bercinta ternyata membuat perutnya keroncong, mana tadi pagi baru di isi kopi dan roti bakar buatan ayang tersayang.


Mentari menggeleng sambil memasang muka sendu, sekujur tubuhnya remuk, merah, panas dan lembab. Ia sendiri yakin, menuruni anak tangga untuk kembali ke dapur dan masak akan terasa menyiksa.


Energinya sudah habis ia pakai untuk melayani suaminya yang gagah perwira itu. Jadi yang ia lakukan adalah meminta suaminya untuk melanjutkan memasak opornya tadi.


"Iya sayang," sebelum beranjak, Pram menatap wajah istrinya yang sedang cantik dan sangat alami. Tapi begitu seperti kepiting rebus yang bener-bener tak berdaya di depannya.


Pram jadi sedih, sedih banget karena pasti menunggu Mentari agak baikan terasa lama, sementara geliat hasrat dalam tubuhnya masih terus meminta lebih di hari-hari berikutnya setelah malam pertama pengantin yang terjadi di pagi hari menjelang siang terasa sangat nikmat.


"Besok libur dulu olahraganya, si geulis lagi cantik, lagi manja, nggak bisa di ajak keringetan dulu apalagi ngos-ngosan. Si geulis harus di sayang-sayang biar cepat pulih." gumam Pram sambil menghidupkan kompor.


Dia menunggu opor ayamnya matang sambil membuat jus buah lalu pergi ke empang, membuang waktu di sana sambil melihat-lihat keadaan ikannya.


"Pada sehat-sehat ya, jangan pada sakit. Kalian aset bernyawa dan berharga sekarang, ada bini yang harus gue nafkahi dari hasil penjualan kalian. Mengerti, koi, lele?" ucap Pram dari kolam satu ke kolam lainnya.


Karena yakin opornya belum matang-matang, Pram menyempatkan diri untuk memberi makan ikan-ikannya dulu. Lepas rindu. Maklumlah, semenjak bertemu Mentari dan sibuk menyiapkan diri untuk menikah. Ia sudah jarang membunuh waktu di empang, untungnya ikan yang diabaikan, jadi nggak nyesek-nyesek amatlah.

__ADS_1


Pram menaruh ember plastiknya, mencuci tangannya. Dengan siulan andalannya, ia mengaduk kuah opor ayam yang sudah matang lalu menyiapkan sarapan mereka berdua yang terlambat sekali.


Dengan senang dia membawanya ke kamar dan mendapati istrinya sudah mandi. Rambutnya terlilit handuk dan tubuhnya berbalut piyama handuk.


"Kok udah mandi duluan sih, Tar? Padahal rencananya tadi kita mau mandi berdua sambil bersih-bersih kamar mandi." guraunya sambil menunggu istrinya ganti baju.


Godaan lagi. Godaan terus. Baru juga mau kalem ini adek gue.


"Sayang, kamu menodai pengelihatanku." seru Pram.


Mentari hanya menoleh sambil memakai rok selututnya yang bercorak kotak-kotak.


"Aa tambahin garam nggak tadi?" tanya Mentari setelah selesai berpakaian.


Ia duduk di samping Pram yang masih bertelanjang dada. Sungguh-sungguh panorama indah yang sanggup meluluhkan hati perempuan mana saja yang melihatnya.


Dada bidang, nyaman untuk bersandar, dan yang paling penting. Itu cuma bisa Mentari nikmati sendiri tanpa bisa bagi-bagi.


"Emang kamu enggak, Aa?"


"Oh ya jelas dong," Pram hendak merangkul bahu Mentari untuk mengecupi pipinya tapi buru-buru istrinya beringsut.


Pram langsung kecewa. Dia mengaduk opor ayam dan menuangkannya isinya ke dalam mangkoknya sambil cemberut.


"Aa mandi dulu baru boleh pegang. Aa bau, lengket. Sedangkan aku udah cantik, wangi, iya kan?"


Pram menoleh dengan malas sambil menyuapkan makanannya ke mulut. Pram hanya menatap istrinya sambil makan. Dan saat Mentari ikut menatapnya datar, Pram menyudahi aksi makannya.


"Kamu mau wangi, mau bau, aku tetap suka!" katanya sambil menghela napas.


Mentari menukar bantal sofa yang menghalangi dirinya dengan Pram dengan dirinya. Ia merangkulkan sendiri tangan Pram ke bahunya.

__ADS_1


Mentari mendongak, menatap suaminya yang masih cemberut.


"Terima kasih, Aa. Ketek kamu luar biasa mantap." serunya sambil mengecup rahang Pram.


"Aku juga suka kamu kok, Aa. Apalagi mau pakai baju atau enggak, mau wangi atau tidak. Aku suka kamu, tawamu, dan senyum andalanmu itu, Aa. Aku suka semua yang kamu punya."


Baru setelah kecupan terakhir Mentari selesai. Senyum Pram kembali merekah seperti bunga.


"Makasih, sayang. Aku suka kamu rayu."


Mentari menyunggingkan senyum dengan terpaksa.


"Aku sarapan dulu ya, Aa. Takut pingsan kalo Aa butuh belaian lagi." elak Mentari sambil meraih mangkoknya.


Pram jadi tertawa geli. Emang gue jablay butuh belaian lagi? Eh, tapi bener. Gue jablay. Jarang di belai, jadi sekarang mau gue puas-puasin di belai ayang.


Pram meraih mangkok yang Mentari pangku hingga membuat istrinya mendongkak heran.


"Sini aku suapi kamu, Tar. Biar kamu nggak capek waktu ngasih belaian ke aku nanti." celetuknya.


Semua mata Mentari langsung tertuju pada manik mata suaminya. Oh ya ampun, segila itu Pram mencintainya, tangannya bahkan langsung diam di tempat. Tidak boleh bekerja keras kecuali menyentuh suaminya.


Terus kerjaannya cuma elus-elus Pram doang gitu? Enak banget, nanti emak bisa ngomel nanti halaman rumah kotor, cucian piring numpuk, kalo cuma elus-elus Pram.


Saking tidak bisa protes, Mentari cuma bisa tersenyum jengah sambil menikmati tingkah polah suaminya yang gagah perwira itu dengan sabar.


Pokoknya enakin ajalah, yang penting Aa tambah sayang. Tambah hot, tambah gagah dan perkasa. Iya kan, aku juga seneng elus-elusnya. Anget.


•••


To be continue and happy reading. 😂

__ADS_1


__ADS_2