Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Ancaman paling serius.


__ADS_3

Wartini mengetuk pintu kamar Pram sesuai jam yang telah mereka sepakati bersama. Pukul lima pagi, membiarkan dingin memeluk tubuhnya dan hati yang tak kunjung tenang akibat perkelahian semalam.


Pram membuka pintu seraya tersenyum hangat. Tahu, kehadirannya bagi Wartini pasti sangat meriah sekali apalagi kejadian tadi malam. Jadi mau tidak mau dia akan mengatakan semuanya nantu.


"Ibu bisa tunggu saya di depan losmen biar tidak ada yang curiga." kata Pram pelan.


Wartini langsung mengiyakan usul Pram itu. Dia menoleh ke sembarang arah, memastikan tak ada yang lihat sebelum melangkah keluar losmen.


Wartini bergeming di pinggir jalan dengan gelisah, telapak tangannya yang sudah membeku semakin gemetar melihat mobil Pram keluar dari losmen.


"Sebenarnya mas Pram ada keperluan apa ketemu dengan Tegar dan Danang?" tanya Wartini ragu setelah masuk ke dalam mobil.


Pram mengembuskan napas, semalam karena si Bisma benar-benar tidak bisa di bilangin dengan cara baik-baik. Maka inilah suprise yang akan dia berikan. Membuat Tegar dan Danang bahkan Wartini tunduk kepadanya.


Pram mengikuti arah yang di tunjuk Wartini menuju rumahnya. Menebus kabut yang masih pekat, melewati jalanan sempit yang hanya bisa di lalui satu mobil.


Pram tersenyum penuh arti. "Saya minta maaf soal kejadian tadi malam, Bu. Itu saya lakukan karena saya tau siapa Bisma dan anak-anak ibu!" katanya tenang tapi tandas sambil menghentikan mobilnya di depan rumah sederhana yang belum melewati tahap finishing sebuah bangunan.


Wartini kontan terperangah. Dan roman wajahnya langsung Pram kenali adalah jenis akan kegugupan.


"Kalo ibu takut dengan Tegar dan Danang, ada saya yang akan membela ibu bahkan jika ibu malah pengen keduanya masuk penjara, saya bisa lakukan biar ibu tidak perlu repot-repot lagi ngurus mereka!" tawar Pram dengan suka rela, walau di hatinya tidak tega melibatkan tulang punggung keluarga ini dalam kasus Bisma dan Mentari.


Wartini membisu, toh ibu mana yang tidak kaget dan tidak tega anaknya malah di tawari masuk ke penjara tanpa tedeng aling-aling sementara ia tahu anak-anaknya belum jera jika tidak di beri pelajaran.


Pram membuka pintu mobil dari luar, Wartini yang kaget langsung turun dari mobil dengan sikap sungkan.


"Saya bangunkan anak-anaknya dulu mas!" Wartini membungkuk seraya berjalan ke belakang rumah, masuk lewat pintu belakang.

__ADS_1


Pram menjejalkan kedua tangannya ke dalam saku jaket seraya memandangi kolam ikan di depan sebuah kamar. Ikan-ikan nila yang mereka jaring tadi malam ada disana. Pram tersenyum geli sambil mengangkat tatapannya pada kamar itu menyala lima detik yang lalu.


Suara-suara gaduh terdengar di dalam sana. Pram sudah menduga, maka tak ada rencana lagi selain membawa dua orang kambing hitam Bisma itu ke Jawa barat biar menjadi anak buah emaknya. Biar di didik jadi anak sholeh, rajin shalat dan patuh kepada ibunya.


Pram tersenyum sewaktu pintu terbuka perlahan dari dalam.


"Silahkan mas." kata Wartini.


Pram mengangguk. Di tatapnya kedua anaknya yang ternganga melihat kehadirannya di rumah mereka, tapi itu hanya sesaat. Pram mengangkat dagunya dengan angkuh seraya duduk bersila di karpet.


"Saya akan mengintrogasi anak-anak ibu, ini hanya sebentar. Ibu bisa ke belakang bikin kopi?" selorohnya dengan lembut. Pram yakin Wartini akan ketakutan lagi, maka mengusirnya sebentar lebih bagus daripada jantungnya tremor mendengar ancamannya.


Wartini gegas pergi ke dapur, merebus air sementara Pram yang berada di depan Tegar dan Danang tersenyum jumawa.


"Ingat saya?" tanya Pram basa-basi sambil memaku wajah keduanya.


Tegar dan Danang sontak saling melempar pandang. Detak jantungnya langsung tidak karuan melihat orang yang mereka serang kemarin, juga ikan-ikan yang mereka curi tadi malam. Ketahuan?


Pram tergelak dengan nada di buat-buat. Tapi kemudian dia terdiam untuk meningkatkan intensitas ketegangan di tengah udara dingin yang benar-benar enggan pergi. Nampaknya hari ini mendung seperti hati gadis losmen idaman, Mentari.


Pram tersenyum mendapati secangkir kopi datang di saat yang tepat. Wartini mempersilahkannya untuk minum.


"Apa ibu kalian harus mendengar kejadian tadi malam di losmen idaman?" Pram menyesap kopinya dengan hati-hati.


"Saya melihat semuanya, begitupun pak Joko. Termasuk pelemparan telur di kepala saya dengan seorang saksi, Dara. Dalam kasus ini, saya bisa melaporkan kejadian ini dengan dua saksi yang akan memperberat hukuman kalian di kantor kepolisian setempat. Jadi...,"


Kelopak mata Wartini melebar, dia menyentuh punggung Danang.

__ADS_1


"Beneran itu, Nang?" tanya Wartini gugup.


Mulut Danang tertutup rapat-rapat meski matanya menyiratkan ketakutan yang kentara sama seperti ibunya. Hanya Tegar yang terlihat tetap biasa-biasa saja meski kedatangan Pram memicu rasa takutnya.


Pram menghela napas, "Jadi apa kalian tetap akan menyusahkan ibu kalian dengan terus menjadi pengangguran dan menjadi pesakitan? Saya akan memberi penawaran bagus, hengkang dari sini untuk ikut saya ke Jawa barat, atau saya penjarakan kalian berdua dengan Bisma!"


Pram beranjak seraya menatap ketiga lawan bicaranya.


"Pikirkan baik-baik tawaran saya, jawab sekarang atau tidak akan ada tawaran lagi!" ujarnya tegas, namun sontak ia terkejut saat Wartini bersujud di kakinya.


Mati-matian Pram beringsut mundur, menghindar dari ratapan Wartini yang mengharu biru baginya.


"Sudah, Bu. Sudah. Saya tidak akan memenjarakan anak-anak ibu kalo mereka bersedia bekerja di bawah kekuasaan orang tua saya di Jawa barat. Keputusan ada di tangan Tegar dan Danang!"


Pram membantu Wartini berdiri, "ibu bisa ikut saya kalo mau, orang tua saya bisa di percaya."


Wartini sontak menatap kedua putranya. Perlakuannya yang slalu mengalah dan sabar akhirnya pupus sudah.


"Kalian ikut mas Pram ke Jawa barat, sekarang kemasi barang-barang kalian berdua!" kata Wartini tegas sambil mengepalkan tangannya.


Tegar dan Danang benar-benar terperangah akan sikap ibunya yang berubah. Jadi mereka hanya bisa diam dan saling pandang.


"Cepat!" bentak Wartini. Terpogoh-pogoh keduanya langsung ke kamar, tapi sewaktu di kamar mereka terlihat linglung. Masih bingung harus membawa apa karena semua terasa mendadak akan rasa keterkejutan itu.


Di luar, Pram mengatupkan kedua tangannya di depan Wartini sebagai permintaan maafnya akan kejadian pagi ini.


"Ibu bisa percaya dengan saya untuk membawa dua anak ibu ke Jawa barat, atau jika ibu khawatir, ibu bisa bertemu dengan pak Joko. Insyaallah saya akan menjadi menantunya." Pram meringis kemudian, walau dalam hati dia mengucapkan amin paling serius.

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading.


__ADS_2