Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Iseng tapi niat.


__ADS_3

Pram mengusulkan untuk pergi ke dokter kandungan secepatnya. Dia ingin tahu kabar kebenaran kehamilan istrinya itu dari dokter langsung.


Sejam berlalu, upaya kesabarannya yang di lakukan Pram tidak sia-sia. Di dalam tas istrinya kini sudah ada buku kesehatan ibu hamil dan anak berwarna merah muda berserta vitamin.


Pram merangkul bahu istrinya. Senyumnya merekah bak bunga. Gemaung jantung yang berdebar di hatinya tak surut-surut atas kebahagiaan itu.


Mentari menoleh, sebelumnya ia tidak pernah melihat senyum Pram yang benar-benar lepas dari dalam hati. Satu pohon harapnya sedang tumbuh dengan subur dalam tubuhnya. Rasa, cinta, buah hati.


"Nanti gigimu kering, Aa." omel Mentari, ia bahkan menutup mulut Pram dengan tangannya. "Jangan gitu, nanti di kira Aa senyum sama semua orang."


Pram malah terkekeh, ia menyingkirkan tangan Mentari dengan tangan kirinya. Kepalanya bersandar di kepala Mentari.


"Aku sedang bahagia." kata Pram.


"Aku tahu." sahut Mentari.


"Terus?" Pram menyunggingkan senyum.


Mentari mengernyit, ia berhenti di gerobak dorong penjual buah-buahan yang sudah di iris-iris dan di beri bongkahan es batu di dalamnya.


"Mau semuanya, pak. Dua, dua jumlahnya." sebutnya sambil membuka tasnya. Mentari mengeluarkan dompet, dan membayar jajanannya.


"Makasih, pak." ucap Mentari sambil menarik tangan suaminya ke kursi di bawah naungan pohon ketapang.


Pram yang melihat istrinya asyik menguyah melon segar tanpa memperdulikan keinginannya cemberut.


"Makan, Aa. Manis." Mentari mengulurkan irisan melon hijau ke depan mulut Pram.


Pram terdiam. Ia cuma mau istrinya, bukan melon atau semangka.


"Ayo makan, jangan gitu. Jelek!" seloroh Mentari sambil menahan senyum dan tetap tidak menyingkirkan melonnya dari bibir Pram.


Pram mendengus dan langsung mengigit melon itu dan mengunyahnya cepat-cepat.

__ADS_1


"Udah!"


"Aa pinter."


Wajah Pram langsung mengeras. Ia menatap Mentari, lalu tersenyum. "Aku emang pinter." ucapnya jumawa. Tanpa tahu istrinya itu sedang mengerjainya.


Mentari mengambil lagi melonnya, menghabiskan satu persatu sembari sesekali menyuapi Pram tanpa peduli dengan orang-orang yang melihatnya.


Mentari melihatkan tangannya yang berair, lengket. Wajah Pram langsung berubah keruh.


"Dikerjain gue."


Pram melebarkan senyum. "Aku ambilin air dulu di mobil." Ia menghela napas sambil beranjak.


Mentari tersenyum ceria seolah tak terjadi apa-apa. Ia ikut berdiri, mengikuti Pram tanpa suara sambil sesekali bersembunyi di belakang mobil yang terparkir. Dan sewaktu Pram sedang membungkuk untuk mengambil air mineral di dekat rem tangan, Mentari menabok pantat suaminya.


Sontak Pram tersentak kaget, ia menoleh dengan raut wajah yang ia tahan-tahan.


"Cuma iseng." Buru-buru Mentari menghindari suaminya dengan memutari kap mobil, dia masuk ke dalam mobil memakai sabuk pengaman dan memasang senyum termanisnya.


Pram meneguk air mineralnya lalu mengguyur wajahnya sampai isi botol itu habis. Rasa segar lalu membuat rasa keterkejutannya itu hilang.


"Mentari," serunya sambil menghempaskan tubuhnya di jok mobil. "Cuma iseng apa niat?"


Mentari terdiam sambil mengeringkan wajah suaminya dengan tisu.


"Aku cuma iseng tapi niat." jawabnya terang-terangan. Pram terpaku dengan ekspresi terkejut, tapi kemudian ia tersenyum sumbang.


Jangan sampai ini gawan bayi yang mirip gue Ya Allah, jangan sampai. Tolonglah, anak pertama mirip Mentari anak kedua bolehlah mirip aku, anak ketiga campuran.


Mentari mengedipkan matanya bakal. "Aa suka kan?"


Pram tertawa sumbang, kemudian mereka saling tatap.

__ADS_1


"Suka sayang, suka banget." dustanya demi sang istri bahagia. Pram tak habis pikir seperti apa perasaan yang dialami Mentari sekarang.


Hormon berubah, semuanya berubah, itulah yang dikatakan oleh dokter kandungan tadi. Bak bumi dan langit, jadi apakah itu yang mempengaruhi sikap Mentari cuma iseng tapi niat seperti dirinya?


Pram mengembuskan napas. Istrinya terlihat tenang, walau ia tidak yakin apakah Mentari akan bersikap begini terus.


Semoga janganlah. Masa iya serumah iseng tapi niat semua. Bisa-bisa, Ya Allah, hamba hanya bisa meminta yang terbaik atas izinmu.


Pram membawa Mentari pulang setelah membeli kebutuhan dapur di supermarket. Ia menghentikan mobilnya di depan gerbang dan membukanya.


"Emak, bapak." Tanpa sadar kakinya melangkah lebih cepat untuk memasukkan mobilnya. Kehadiran orang tuanya setelah tahu Mentari hamil adalah kelegaan karena ada emak, ada yang masak. Berbeda keadaannya bila kabar membahagiakan ini belum tubuh di rahim Mentari.


Asih mengelus satu persatu kepala anak-anaknya yang mencium dan memeluknya.


"Emak senenglah, emak mau tinggal di sini sampai Mentari bener-bener gendut."


Pram langsung kegirangan, ia melakukan selebrasi seperti habis melihat tim sepak bolanya mencetak gol kemenangan.


"Boleh, mak. Boleh banget. Cuma rumahnya masih berantakan." ucap Pram sambil memeluk ibunya. Dia senang sekali kehadiran orang tuanya kini tidak menjadi beban yang membuatnya kabur.


"Tapi aku masih pengen lihat kabut, Aa. Di rumah ibu." rengek Mentari.


Asih yang mendengar bahwa itu isyarat ngidam langsung bersuara tanpa perlu menunggu anaknya putar otak atau bingung.


"Kita pulangnya ke rumah ibu besok ya neng geulis. Emak mau beres-beres rumah kamu dulu, terus pengajian besok! Gimana, tidak ngambek to?" cetus Asih. Pram pun setuju tapi bagi Mentari lain lagi, pikirnya.


Mentari mengangguk tanpa ragu-ragu sambil memasang senyum.


"Yeyyy, akhirnya ada yang bantuin beres-beres rumah. Makasih, emak. Penyelamatku." Mentari ikut memeluk Asih lalu terkikik geli. Ia ingat, masih banyak yang perlu di benahi apalagi di beli. Jadilah kedatangan emak kali ini sangat cocok. Apalagi keberadaan Dara di dapur yang sedang masak mie, makin berjayalah Mentari.


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2