
Paramitha Rusady Saputri, dengan seruan napas panjang, Pram tersenyum getir karena sang ayah menjadikan little miss sunshine, anak perempuan pertama yang ia cintai dengan segenap doa dan segala harapan indah itu harus menerima kenyataan memiliki nama yang terinspirasi dari rasa kagum sang aki pada artis senior, Paramitha Rusady.
Bagyo tersenyum, sebagai pemeran figuran yang tidak pernah meloloskan kata lebih dari sekedar anggukan dan persetujuan kilat atas pernyataan dan pertanyaan semua pemeran utama dalam hatinya menghampiri putranya yang masih berdiri lesu di depan box bayi.
"Jaga baik-baik cucu bapak yang pasti akan secantik dan seseksi seperti Paramitha Rusady jaman muda dulu." kata Bagyo merangkul putra pertamanya yang telah berusaha sebaik mungkin menjadi seorang anak, kakak, dan juragan.
"Ingat baik-baik pesan bapak untuk tetap menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijak. Boleh bercanda asal jangan kebablasan, kasian yang kamu bercandain nanti!"
"Nggih, pak." Pram menggangguk pasrah di sela-sela tangis anaknya yang ingin mengasi pada ibunya.
Mentari tersenyum bahagia karena selain keluarga kini utuh dan menemaninya di rumah sakit, dia sudah mendapatkan apa yang dia impikan. Menikah, memiliki suami penyayang dan posesif juga seorang bayi mungil yang Pram berikan dengan hati-hati. Adapun soal Bisma, pria itu tetap menjadi suami Arimbi dengan pengawasan ketat orang tua Arimbi di rumah keluarga wanita itu.
Mentari menatap Pram dengan raut bahagia. Kini tak ada lagi yang mereka takutkan, semua sudah ada di dekapan mereka. Baik cinta, hasrat, tahta, dan segalanya yang menjadi harapan masa kelam keduanya.
Pram ikut tersenyum, dia merapikan rambut istrinya dan menjepitnya dengan japitan rambut.
"Kenapa?" tanya Pram.
"Itu, ada Maxime di belakang Aa." Buru-buru Pram meraih selimut untuk menutupi istirnya yang sedang menyusui Paramitha. Lalu berbalik, pasang badan.
Dara cengengesan sambil mengulurkan hadiah untuk kelahiran keponakannya.
"Dari aku dan mas bule, om." Dara melirik ke belakang Pram, Pram menerima tiga boneka hiu dan tersenyum. "Makasih adek, thankyou Max."
Maxime memegang kedua bahu Dara dan mengangguk. "Bagaimana keadaan istri dan anakmu, kak?"
"Mereka sangat baik dan berisik, kalian bisa melihatnya nanti setelah Paramitha selesai urusannya alias mabuk susu!" seloroh Pram sambil mengajak keduanya berkumpul di karpet yang dibawa emaknya dari rumah.
Asih menatap dua anak muda itu dengan senyuman penuh arti sambil menegakkan tubuhnya dari posisi rebahan.
"Neng Dara sama Aa bule kasep kapan mau ke KUA?"
"Ngapain Mak?" sahut Dara, dia yang tertarik dengan apel merah mengambil dan mencucinya di wastafel. Dua apel yang dia cuci itu satunya dia bagi ke Maxime.
__ADS_1
"Ke KUA ya nikah, neng. Ngapain emangnya, jualan bakso." seru Asih gemes, yakin Dara akan nolak permintaannya. Maka Maxime yang slalu sopan meski santai jika bertemu dengannya menjadi sasarannya.
"Aa bule sudah siap nikah?" tanya Asih, Dara geleng-geleng kepala. Jangan katanya, jangan. Keraguan di hatinya masih menyala-nyala untuk naik ke jenjang pernikahan. Jejak kelam masa lalu orang tuanya yang salah kaprah tentunya menjadi alasan paling besar kenapa pernikahan terasa menakutkan.
Maxime tersenyum, dia hentikan kunyahannya seraya menatap Asih dan Dara bergantian. "I think, aku siap dalam waktu satu atau dua tahun lagi, mama. Begitu juga Dara, dia sedang ingin memulai karirnya dan mengikuti hobi ku sebagai traveler. Jadi mama, maaf, menikah akan menjadi perhatian terakhir kami selagi kita meyakinkan diri apakah we fall in love every single day and we found love right where we are or not."
Pram mengangguk setuju. Bener, cinta akan datang di waktu yang tepat dan tempat yang tepat pula. Kita tidak bisa memaksa sekuat apapun kita berusaha mempertahankan pilihan jika apa yang digariskan dalam takdir tidak bisa kita genggam, maka melepaskan adalah akhir dari perjuangan yang bisa kita lakukan. Sebab di antara menemukan dan melepaskan, cinta slalu menjadi alasan paling murni dua hati memintal tali silaturahmi.
•••
Satu tahun kemudian, kesehatan Bagyo yang perlahan memburuk seiring bertambah usia mengantarkan Pram, Mentari, Paramitha, Asih, adik-adik Pram, Dara, dan Maxime ke tempat peristirahatan terakhir. Mereka berwajah muram. Bagyo tutup usia tepat di usianya yang tujuh puluh dua tahun.
Pram tak kuasa menahan tangis sambil menaburkan sisa bunga terakhir yang berada di keranjangnya.
"Paramitha Rusady Saputri akan menjadi nama terbaik atas kenangan terindah yang bapak berikan. Selamat jalan, pak. Selamat beristirahat."
Mentari tak kuasa menahan tangis ketika suaminya masih membungkuk, merangkul nisan kayu bapaknya yang meninggal dengan tenang.
Pram menoleh, dan untuk pertama kalinya wajah basah penuh keharuan itu Mentari dapati. Begitu juga orang-orang terdekat Pram.
"Kamu enggak mengharapkan senyum andalan ku, Tari? Apa hanya emak dan Mitha saja?"
Mentari tersenyum di antara tangisnya, dia menyeka air mata yang masih banjir di muka tengil suaminya.
"Aku pasti slalu mengharapkan Aa tersenyum."
Pram sesenggukan, ia berdiri seraya menarik Paramitha yang sedang memainkan tanah merah ke dalam dekapannya. Bocah kecil itu langsung melingkarkan tangannya di leher pria yang ia panggil dengan sebutan, ayah.
Pram menatap satu persatu orang-orang terdekatnya yang berwajah muram dan sembab.
"Setelah bapak pergi, kalian semua adalah tanggung jawab Aa. Kalian mengerti?"
Semuanya mengangguk.
__ADS_1
"Janji kalian gak nyusahin, Aa? Janji kalian bisa solid dalam berumah tangga dan janji tidak bikin emak sendirian setelah kepergian bapak?"
Semuanya mengangguk.
"Bagus." Pram tersenyum lega, "Jadi itu artinya kalian bisa jaga diri baik-baik tanpa harus Aa kasih tau dan Aa awasi. Ayo, sayang. Kita pulang."
"Tunggu om..." Buru-buru Dara mengikuti keluarga kecil Pram yang berjalan di antara gundukan tanah dan nisan-nisan lainnya.
"Kenapa, Ra?"
"Umm, emm..." Dara tersenyum malu-malu. Satu tahun, gadis itu sudah berusaha menjadi anak baik-baik dan pekerjaan keras. Dan karena hubungannya dengan Maxime yang sudah lama terjalin. Tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa sungkan Dara atas baiknya keluarga Bagyo. Dara menatap penuh harap, Pram yang kini harus menjadi laki-laki super kuat.
"Kenapa, Ra?" ulang Pram.
"Aku harap, om mau jadi saksi pernikahanku dengan mas bule walaupun cuma nikah siri. Om mau?" tanya Dara.
Pram tersenyum geli lalu mengacak-acak rambut Dara.
"Tentu aku mau, Ra. Bukan cuma mau, tapi itu adalah tanggung jawabku. Urus saja tanggalnya." kata Pram serius sambil mati-matian menyingkirkan wajahnya dari tangan Paramitha yang kotor.
Dara langsung berbalik. Dia menggenggam tangan Maxime dengan raut wajah bahagia sekaligus malu-malu kucing.
"Get married, honey. We got married." seru Dara diikuti senyuman manis Maxime yang slalu saja membuat kekasihnya klepek-klepek.
...•••...
...Selesai....
Terima kasih banyak atas dukungannya dear reader. Sampai jumpa di cerita baru. Perjaka Kesayanganku dan Pilihan Yang Terbaik.
Salam sayang dan salam sehat.
Skavivi.
__ADS_1