Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Pram!!


__ADS_3

Mimpi apa gue semalam. Bisa-bisanya dia nongol setelah sebulan nggak ketahuan!


Pram menjawil punggung Mentari. Tapi ekspresi marah Mentari sungguh lucu. Wanita itu terus membelakangi Pram sambil menepis tangan suaminya yang terus menjawil punggungnya.


"Sayang, ini tuh cuma jimat buat nakut-nakutin tuyul doang. Nggak ada maksud lain. Percaya deh, aku udah move on. Aku udah sembuh. Sumpah sayang, belah dadaku dan cari namanya. Tidak ada." urai Pram sambil menjatuhkan diri di samping Mentari, memaksa diri memeluk tubuh istrinya yang menolak luluh akan rayunya.


Mentari mengembuskan napas kasar. Tidak percaya. Bisma saja masih belum bisa lupa akan dirinya sejauh yang mungkin dia bisa lakukan untuk melanjutkan hidup, Pram pun pasti begitu, terlebih Tatiana pernah sangat istimewa di hatinya meski berakhir porak poranda di hantam dusta.


"Aa kemarin ngajak hiling bareng-bareng, aku mau hiling sama Aa karena aku percaya kehadiran Aa bisa mengambil alih semua lukaku dengan bahagia, tapi ternyata masih ada secuil kenangan tentang mantan Aa yang Aa simpan dengan sadar." cerocos Mentari sungguh-sungguh.


Ya Allah, gue lupa buang. Cuma lupa buang, kemarin gue sibuk mempersiapkan diri untuk nikah bahkan gue udah lupa dengan foto ini kalo hari ini nggak ketemu.


Pram mengeratkan pelukannya. Bodoh amat dengan bau badannya yang terpampang sinar matahari sejak tadi siang. Pokoknya sore menjelang senja ini hanya ingin dia lakukan untuk meluluhkan kecurigaan Mentari terhadapnya.


"Dengarin aku cerita dulu sayang. Mau?"


"Cerita apa? Aa pasti cuma mengarang bebas biar aku nggak marah kan? Aa kan banyak akalnya kayak yang udah-udah!" cibir Mentari.


Sontak saja Pram meringis geli, akalnya memang banyak cuma kondisinya sekarang dia tidak sepenuhnya bersalah. Dia cuma lalai doang.


"Aku akan jujur, Mentari. Aku nggak bohong, aku nggak mengarang bebas. Pegang kata-kataku."


"Ya udah coba dengar mau ngomong apa?" kata Mentari dengan suara dingin.


Ya ampun, emak. Bantuin gue dong. Mantu idaman engkau lagi marah nih. Eh, tapi emak kalo tau aku masih nyimpen foto Tatiana, emak juga ikut ngomel-ngomel. Argh, rayu-rayu. Mikir atuh Pram, jangan lieur dulu ceunah. Bini elo lagi ngambek ini. Nggak mempan kalau cuma kamu peluk.


Pram menghentikan aksinya memeluk Mentari. Dia menarik napas dalam-dalam seraya menghembuskannya.


"Foto itu emang aku simpen, tapi sumpah sayang, aku udah nggak punya rasa sama Tatiana. Foto itu pure aku taruh di dekat brangkas cuma untuk nakut-nakutin tuyul."


Mendengar penjelasan Pram, Mentari pun semakin menguyel-uyel selimutnya sampai kusut.


"Nggak mungkin foto doang bisa nakut-nakutin tuyul, Aa beneran ngarang bebas. Bocah SD aja lebih jago kalo bikin cerita bohongan."


Pram melotot. Merasa di bandingkan dengan bocah ingusan, ia menggigit gemas bahu Mentari.


"Bocah SD juga bisa gigit temennya kayak begitu, Tar?" tanya Pram.


"Bisa aja." jawab Mentari malas.


"Ya udah deh aku jadi bocah SD lagi, di sayang-sayang emak, biar salah tetap di maafkan sama emak, emak juga mau mendengarkan penjelasan ku dengan bijak." kata Pram sambil beranjak.


Nggak akan kelar-kelar ngerayu cewek ngambek, lagian di jelasin juga sama aja. Nggak percaya, padahal gue udah jujur. Sejujur-jujurnya. Kacau ini, Mak..


"Ayo kita buang bareng-bareng fotonya, atau kita bakar. Biar kamu lega foto itu udah nggak ada di sini." ajak Pram dengan suara yang lebih lembut.

__ADS_1


"Aa aja, aku males lihatnya."


"Ntar masih curiga kalo kamu nggak lihat langsung. Ayo bareng-bareng."


Pram menyelipkan foto itu ke saku celana kolornya. Ia membungkukkan badan, mengerahkan seluruh tenaganya untuk membopong Mentari keluar kamar.


Di balkon, Pram menurunkan Mentari tepat mengenai sinar senja yang indah di ufuk barat.


"Nih, aku sobek-sobek fotonya. Aku buang ke bawah. Besok kamu sapu, kamu buang ke tempat sampah biar afdol marahnya, biar lega karena emang aku udah nggak ada apa-apa sama Tatiana, sayang. Ini cuma bekas yang tertinggal dan nggak penting lagi dalam perasaanku."


Pram mencampakkan kertas-kertas kecil yang ia sobek-sobek ke udara. Kertas-kertas kecil itu sontak berayun-ayun mengikuti angin yang berhembus sebelum jatuh ke rerumputan.


"Sudah?"


Mentari bergeming, memberi kesempatan pada waktu untuk hening.


Pram mengelus rambut Mentari, dia yakin, ada secuil rasa kecewa yang Mentari rasakan sekarang. Tapi tak pernah sekalipun dia bermaksud mengecewakannya. Apalagi menyakitinya.


"Maafin Aa." ucapnya tulus.


"Iya." Mentari masuk ke kamarnya dengan langkah sama malasnya. Dia membaringkan tubuhnya di sofa.


"Aa masak, aku lagi nggak semangat ngapa-ngapain."


"Mau mandi dulu sebelum makan malam?" tawar Pram.


"Males juga." Mentari nampak menghela napas.


Males ngapa-ngapain.


Pram tersenyum maklum, ia merapikan rambut Mentari yang menutupi wajahnya.


"Aku mandiin mau? Kamu tinggal diam saja kalo males gerak."


Cuma akal-akalan Aa biar bisa elus-elus aku. Tapi aku belum mandi sore, nanti kalo Aa jadi nggak suka sama aku karena bau, aku gimana. Lagian aku nggak bisa menerka hati Aa sebenarnya gimana. Aa beneran udah move on dari Tatiana? Sungguh-sungguh?


Pram masih menunggu dengan sabar istrinya menjawab tawarannya, sambil menunggu dia berharap, sudah cukup ngambeknya plis, jangan sampai besok pagi. Itu lama sekali rasanya.


"Sayang gimana?" tanyanya sekali lagi.


Mentari mengangguk perlahan-lahan.


"Pakai air hangat."


Pram mengangguk lega. Akhirnya dapat jatah dengan sendirinya tanpa susah-susah merayu. Jadi biarlah ia melayani istrinya terlebih dahulu demi ketentraman hati Mentari.

__ADS_1


"Jangan pakai nafsu mandiinnya, ingat, aku masih sedikit ngambek karena foto itu Aa."


"Iya enggak pakai nafsu!" ucap Pram setengah hati.


Tapi aku normal Mentari, normal banget banget.


Pram menghela napas, sabar-sabar, tahan sehari aja. Besok juga kembali seperti semula. Mentari kembali memuja ku dengan cintanya, senyum manisnya dan sentuhannya.


Sabar, Pram. Sentuh istrimu tanpa nafsu.


Nggak bisa, nggak bisa tanpa nafsu. Gue udah terlanjur cinta sama semua yang ada di tubuh ini. Si mungil yang lembut dan hangat.


Pram mengecupi bahu istrinya sambil meraba bagian yang dia suka di bawah guyuran air shower. Tapi ternyata sentuhan itu di balas dengusan kesal oleh istrinya.


“Ah, ngambeknya parah si geulis mah. Tega bener, aku tegang sendiri!” keluhnya sambil mencubit pantat Mentari.


"Iya-iya enggak jadi, lanjut mandi terus masak. Tapi awas ya kamu Tar kalo besok-besok masih kayak gini. Aku gantian yang ngambek. Sebodoh teuing-lah sama umur, ini toh soal yang bisa di maafkan dengan baik-baik." omel Pram hingga membuat Mentari yang sejak tadi enggan menatap suaminya yang polos itu menyunggingkan senyum tipis.


Emang enak, Aa? Cari masalah sih.


Mentari berbalik. Akhirnya ia mengalah dan memberi kepuasan yang maksimal untuk suaminya sampai Pram senyum-senyum sendiri.


"Nggak usah cengar-cengir! Aa masih bersalah dan harus nyapu halaman besok. Buang sendiri foto-foto mantanmu itu! Ngerti Aa?"


"Ngerti sayang, ngerti." Pram manggut-manggut seraya mengikuti Mentari keluar kamar sambil memakai handuk.


"Nggak lanjut lagi?"


Mentari mendengus sambil memakai baju lengkap tanpa menggubris ciuman Pram yang mendarat di bahunya.


"Aku siap untuk makan malam!"


Pram mengakhiri kecupannya sambil menghembuskan napasnya. .


"Iya deh, iya."


Dan berhubungan opor ayam tadi pagi masih banyak, Pram hanya memanasinya lagi dan menyajikannya hangat-hangat.


"Selamat makan malam sayang."


Pram!


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


__ADS_2