Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Pemanasan


__ADS_3

"Kamu yakin gak pemanasan dulu, Tar? Atau minimal ganti baju?" sahut Pram sambil mengernyit.


Mentari enggan menatap Pram. "Gak perlu, toh aku jogingnya setengah hati." katanya sinis. Gimana nggak setengah hati, baru juga ngumpulin semangat menghadapi hari ini setelah kemarin semua terasa beda, Pram dan bapaknya sudah merusak semangat itu dengan acara joging.


"Mentari yang sopan sama tamu." Joko mengingatkan, Mentari cemberut sembari mendahului Pram. "Titip Mentari dik Pram, kalo tidak sopan, bilang saja nanti sama bapak. Biar bapak yang hukum!"


Pram mengangguk. "Baik pak, gampang. Kalo gitu kami joging dulu ya pak!"


"Ya-ya, yang kompak." ujar Joko seraya menyesap teh Mentari yang masih utuh.


Pram melangkahkan kakinya lebar-lebar. Mentari menggeram di bawah pohon yang menaungi jalan setapak halaman rumahnya. Gemuruh rasa kesal di dadanya sampai sanggup mengenyahkan hawa dingin yang benar-benar masih begitu terasa.


"Siapa anaknya, siapa yang di bela. Dasar bapak!" gumamya kesal.


Pram tersenyum sewaktu tiba di samping Mentari.


"Aku gak keberatan kamu joging pake baju tidur, gemes lagi gambar kodok, cuma aku keberatan kamu gak pemanasan dulu. Nanti kram, aku juga yang susah, Tar." Pram tersenyum mengingatkan.


"Lagian kenapa kalo gak mau susah tapi nyusahin aku, Pram?" Mentari berkacak pinggang, "lihat, aku saja baru cuci muka, belum sarapan, udah kamu tarik keluar rumah. Masih pegel Pram kakiku ini."


Pram menyipitkan mata sembari mencondongkan tubuh. Mata tajamnya mengawasi wajah Mentari dengan saksama. Mentari membuang muka. Pupil mata yang sedang menilainya itu ingin sekali dia colok. Sayangnya tak ada keberanian barang hanya mengangkat tangannya dari sisi badan.


"Gak bersih kamu cuci mukanya, tuh masih ada belek di sudut mata kirimu."


Mentari tak menggubris, memilih melanjutkan langkahnya ke jalan aspal sambil mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Memasang sikap ready to war! Entah perang merebutkan apa, yang jelas kalau dengan Pram sekarang dia akan membuatnya menjadi mode ready to war.


Pram meringis, benar-benar masih ngambek, pikirnya.


"Pemanasan dulu, Tar. Biar otot-otot manja kamu siap buat lari bareng aku."


sarannya lagi, berkacak pinggang, melongok ke kiri dan kanan mencari jalan mana yang ingin mereka lewati.


"Siapa bilang ototku manja! Dengar, aku ini diam-diam instruktur senam Minggu di lapangan balai desa. Jangan kira ototku otot manja!" Mentari melinting baju tidurnya yang kebesaran.

__ADS_1


Pram menggigit bibir, tidak percaya, instruktur senam tapi body kurang yahud, terlebih kalau dia lihat dari kaca mata laki-laki dewasanya, Mentari ini imut-imut.


"Parah kamu, Tar. Instruktur senam tapi gak mau pemanasan dulu, apa jangan-jangan kamu sering lupa dan bikin pengikutmu cidera. Bahaya loh, ngawur kamu kalo gitu!" omel Pram, "Jadi mendingan aku tungguin kamu pemanasan baru kita lomba lari! Gimana? Daripada gue bilang kamu instruktur senam abal-abal?"


Mentari mengangguk dengan apa yang di katakan Pram. Benar-benar ready to fight!


"Boleh kita lomba lari aja, setelah aku ganti baju dan kamu berhenti lihat aku sambil senyum-senyum geli seperti itu. Tunggu!" kata Mentari sembari melengos pergi.


Berjalan gedebak-gedebuk sampai tiba di rumah, Dara dan orang tuanya yang mendapati gadis itu ngomel-ngomel sendiri memandang tak mengerti dengan sikap Mentari.


Selang beberapa menit, si gemes sudah ganti pakaian. Baju ketat warna pink magenta dan leging hitam dengan line warna senada dengan bajunya memanjang di sisinya.


Mentari keluar, berhubungan jarak ia dan Pram lumayan jauh. Dia melakukan pemanasan singkat di depan losmen sekaligus ngumpet di belakang mobil laki-laki itu karena sejujurnya dia malu pemanasan di depan Pram.


"Ayo."


Pram memandang lurus penampilan Mentari pagi ini, yang tadinya bisa dia bilang gak ada bedanya dengan pohon-pohon disana sekarang berubah jadi cewek seksi. Setiap lekukan tubuhnya serasa wajib dia lihat.


Pram bersiul. "Boleh juga nih." Alis hitam Pram bergerak naik-turun dengan usil. "Yakin mau lomba lari? Mending gak usah lah. Aku yakin aku yang menang!" ucapnya sombong.


"Oh, nggak sama sekali. Kamu terlihat sangat mumpuni!" puji Pram tapi dalam hati terbahak-bahak, "Gue cuma bercanda dia malah nantang balik. Gak ada matinya nih cewek. Boleh juga."


Mentari dan Pram selanjutnya memasang sikap kuda-kuda setelah jelas rute mana yang akan mereka tempuh lengkap dengan hadiahnya.


Satu bantuan untuk Pram.


Satu permintaan dari Mentari.


Deal, keduanya mengangguk. Dari hitungan satu — dua — ti... keduanya langsung berlari secepat-cepatnya.


Pram tersenyum puas, tanpa harus mengeluarkan energi ekstra dia yakin dia menang. Sementara gadis yang mati-matian mengumpulkan semangat itu sudah terengah-engah di seperempat perjuangannya untuk menang. Mentari memperlambat kecepatannya, lalu hanya di teruskan dengan jalan kaki biasa.


"Woy, geulis. Ini lomba lari bukan jalan!" teriak Pram, mengejek sambil berlari penuh semangat.

__ADS_1


"Terserah." Mentari berkacak pinggang sembari mengatur napasnya. Pram yang sudah berbelok duluan ke jalanan menuju pasar, sontak kembali dengan wajah panik tak terperikan.


"Lari, Tar! LARI. Ada anjing galak!" teriak Pram kocar-kacir.


Gonggongan anjing langsung terdengar menyaut. Mentari berbalik, mengikuti langkah seribu Pram dengan tenaga yang masih tersisa. Tapi karena otot-otot manjanya diforsir begitu spontan pagi-pagi tanpa pemanasan yang komplit dan benar-benar panas. Apa yang di takutkan Pram terjadi juga. Kram membuat Mentari menjerit keras.


Pram langsung memutar tubuhnya dengan kecepatan super panik bersamaan dengan anjing yang semakin mendekat.


"Naik, cepet! Aku gak mau kena rabies." Pram berjongkok, di iringi suara gonggongan anjing yang benar-benar mengerikan. Mentari lagi-lagi nemplok pasrah ke punggung Pram.


Sekonyong-konyong Pram membawa gadis itu masuk ke halaman rumah orang yang pagarnya terbuka.


Pram berjongkok dengan susah payah sementara itu tragedi kejengkang harus Mentari alami lagi di sertai jeritan kesaktian.


Pram menutup pagar sebelum hewan berkaki empat yang liurnya netes-netes sampai ke depan gerbang. Menggonggong panjang seakan sudah menemukan target kejarannya.


Pram dan Mentari sama-sama terengah-engah sambil tersenyum lega.


"Udah di bilang pemanasan dulu, Tari. Biar enak. Kamu malah mempersulit diri." ejek Pram, "Sini aku urut ototmu yang kaget."


"Bisa emangnya?" tanya Mentari ragu.


"Bisa geulis."


"Awas aja kalau kamu cari kesempatan untuk pegang-pegang kakiku!" celetuk Mentari langsung, sejenak membuat Pram urung menyentuh kaki gadis itu.


"Percaya dulu baru mau, kalo nggak biarin kakimu kram otot terus atau kayaknya kamu sengaja deh Tar gak mau pemanasan biar gue perhatiin." tukas Pram, senyum di wajahnya mengembang sembari menikmati peluh yang menuruni garis wajah si gemes yang terlihat berkilau. Cantik natural, tapi cemas.


Mentari mengangguk pasrah, lebih baik malu daripada kram otot, mana si Pram ini masuk ke rumah orang yang orangnya lagi nyapu halaman. Habis ngakak pula, lalu meringis lebar-lebar.


"Aku percaya." jawabnya lalu menunduk.


Pram tersenyum. "Kalo gitu tahan sebentar." Kontan sentuhan tangan Pram yang memang mantap memijat kakinya membuat Mentari menggigit bibirnya senang. "Enak." batinnya.

__ADS_1


Pram memalingkan wajah dengan muka tersipu, "Kenapa harus perempuan ini?"


__ADS_2