
Hari terakhir di losmen idaman. Mentari dan Pram disibukkan dengan persiapan memboyong keluarga besar ke Jawa barat untuk mengikuti segala sesuatu yang telah disiapkan keluarga juragan Bagyo.
"Bapak, ikutan kita aja di mobil." ajak Pram sewaktu Joko hendak menaikkan kakinya ke dalam bus.
"Wah, nggak seru dik Pram, enak di sini bareng-bareng keluarga besar, rame-rame." Joko tersenyum lebar. "Itu saja, bocah-bocah yang di ajak. Mungkin lebih enakan di mobil, nyaman."
"Hayu kalo gitu mah, tapi yang berani-berani saja. Takutnya nangis nanti waktu di jalan, bisa repot kalo baru lewat tol." kata Pram lalu meringis.
Lima menit kemudian, lima bocah pindah ke mobil Pram dengan penjagaan Dara dan Mentari.
"Udah siap?" tanya Pram sewaktu semua orang sudah tidak ada lagi di luar losmen idaman.
"Siap om!" seru Dara berbarengan dengan suara-suara bocah-bocah.
Pram menyunggingkan senyum, dia menepuk-nepuk kepala Mentari yang resmi menjadi anggota kartu keluarganya.
"Makasih ya udah mau pulang sama aku, ke rumah ku, rumah kita." Pram tersenyum, bibirnya yang biasa pasti akan bertemu dengan bibirnya jika habis mengucapkan kalimat mesra kini tertahan oleh bocah kecil di belakang mereka.
Mentari mengangguk, melirik dengan baik orang-orang di belakangnya.
"Berangkat, Aa. Dara udah nggak sabar tuh kerja terus marah-marahin Danang." celetuknya. Sontak Dara cekikikan.
"Ternyata enak jadi emak, marah-marah sama karyawan."
"Tapi ingat, cuma Danang dan Tegar yang boleh kamu marahin, Ra. Yang lain jangan." sahut Pram seraya menghidupkan mesin mobil.
"Oh tentu, om. Udah yuk berangkat."
Mentari mengelus lengan suaminya, "Hati-hati ya, Aa. Aku udah nggak sabar pengen ngasih layanan kamar buat kamu."
Pram langsung merona.
Emang udah siap nih cewek untuk memadu kasih di kamar gue.
Pram mengusap pipi Mentari. "Iya sayang. Tapi aku harap kamu sabar ya."
__ADS_1
Sabar nungguin bocah-bocah di belakang kita tidur. Termasuk Dara! Biang kerok cilik itu sekarang jadi komplotan emak.
•••
Tiba di Jawa barat, panggung pengantin dan tenda pernikahan sudah terpasang dengan ciamik di halaman rumah Juragan Bagyo. Dari jadwal acara yang telah di susun oleh keluarga pengantin pria, nanti malam akan berlangsung pengajian. Baru paginya acara ngunduh mantu.
Mentari yang tertidur pulas hingga menempel di pintu mobil membuat Pram tersenyum hangat.
"Ra, kamu turun duluan. Bawa bocah-bocah itu juga kembali ke orang tuanya." pinta Pram, "pintunya di tutup pelan-pelan, takut ayang bangun."
"Idihh..." rutuk Dara, tapi ia menurutinya dengan menutup pintu mobil pelan-pelan.
"Bangunin, gendong, bangunin, gendong? Pilihan yang sulit." gumam Pram, tidak bisa terlalu memilih sekarang. Akhirnya, Pram menusuk-nusuk sisi perut Mentari sampai gadis itu kegelian sendiri.
"Aa... Aa..." omel Mentari.
Kesenangan sedang meningkat di raut wajah Pram yang lelah dan mengantuk.
"Udah sampai sayang, ayo pindah ke kamar. Kita harus menyelesaikan pesta pernikahan ini karena aku sudah pengen... Pengen... Pengen pulang ke kamar ku sendiri!" Pram nyengir. Teringat dengan tamu bulanan yang sedang akrab dengan istrinya.
Mentari menjulurkan lidahnya panjang-panjang. Menjahili Pram dengan mengusap-usap dadanya.
"Kasian deh, Aa. Mohon bersabar ya." Mentari nyengir sambil merentangkan kedua tangannya.
"Makasih, Aa. Udah memilih aku sebagai pendampingmu. Aa nggak nyesel kan?"
Keduanya malah berpelukan, sambil tersenyum hingga saling menyentuhkan bibir, menjadi semakin nikmat pada akhirnya saat keduanya saling mabuk kepayang.
"Kenapa?" tanya Pram sewaktu Mentari melepas pelukannya terlihat dahulu.
Mentari mengusap sudut bibir Pram yang basah. Yang di usap cengar-cengir sambil menyentuh ujung hidung Mentari.
"Karena udah, Aa. Kita turun, mandi terus istirahat. Emak nanti ngomel kita masih di mobil terus."
Pram tergelak. "Idih, udah hafal banget emak gue suka ngomel-ngomel."
__ADS_1
Mentari cuma nyengir. Keduanya lantas keluar dari mobil, berbaur dengan keluarga Mentari yang sedang menurunkan barang-barang pribadi juga hantaran untuk Pram. Meski sederhana dan jauh dari yang Pram berikan. Lagi-lagi seseorang bernama Mentari sudah cukup untuk memenuhi keinginan keluarga Bagyo yang luar biasa tidak sederhana.
Menikah.
Jika bertemu dengan orang yang tepat akan terasa menyenangkan. Jika sebaliknya, bencana.
Pram merebahkan diri di kasur seusai pengajian selesai. Dia yang masih memakai baju koko membuat Mentari geleng-geleng kepala.
"Ganti dulu, Aa." katanya sambil melepas kancingnya satu persatu.
Pram memindai wajah teduh Mentari yang sejak pengajian tadi rambut hitamnya tertutup oleh kerudung putih.
"Kamu cantik kayak gini, Tar."
Mentari menarik tubuh Pram dengan susah payah.
Udah tau berat, pake manja banget lagi.
"Nggak ngerayu kan? Nggak minta di lepasin celananya kan?" tukasnya seraya menarik baju koko Pram.
"Nggak sayang." Pram menarik Mentari yang hendak mengambil baju gantinya di lemari. "Duduk dulu sini."
Iya duduk, tapi nggak usah di pangku juga kali Aa. Aku kayak keponakanmu jadinya.
Pemilik tangan berotot itu melingkarkan tangannya di pinggang Mentari dan hanya memakai kaos kutung. Hanya diam seakan bermalas-malasan.
"Sayang."
"Iya, Aa. Kenapa?"
"Mau anak berapa?"
"Tiga!"
Pram langsung ternganga dengan takjub.
__ADS_1
Tiga, usaha terus gue jadinya. Mantap pokoknya mah, tiga anak. Biar rame ntar sawahnya banyak yang urus. Ck ck.