
Keesokan harinya setelah melewati malam penuh sesak di kamar, Pram keluar kamar. Dia tidak menemukan Mentari dalam pelukannya sewaktu terjaga. Pram memanggil dan terus memanggil istrinya. Raut wajah resah itu kembali terlihat di permukaan wajahnya yang kusut.
"Sayang–sayang." Pram mendorong pintu demi pintu ruangan yang biasa Mentari singgahi kala pagi.
"Sayang!" Pram menyugar rambutnya dengan sorot mata terus berkeliling menyapu jejak Mentari.
"Tar, please. Jangan gini, jangan main petak umpet lah. Ini masih terlalu pagi untuk bercanda."
Pram menggeleng frustrasi seraya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dia mencari identitas Mentari, masih ada, oh Pram bisa mendesah lega sekarang. Hanya ponselnya yang tidak ada.
Buru-buru dia mencari ponselnya. Tidak ada.
"Anjirrr, hp gue kemana?" Pram menyingkirkan bantal, selimut yang kemudian membuat kamar itu berantakan.
"Apa jangan-jangan di bawa Mentari juga?"
Pram mengacak-acak rambutnya seraya menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang. Dia melihat kamar itu sama berantakannya seperti isi kepalanya. Mendadak ia merasa cintanya begitu kecil, begitu lemah dan egois dibanding cinta Mentari yang sederhana.
"Tar, apa gue terlambat menghapus jejak Tatiana? Kita hampir berada dalam kemasan kasih sayang yang utuh, kamu pergi tanpa pamit aja rasanya hati gue tercerai-berai, kamu kemana sih bawa hp gue juga?"
Suara Pram menjadi parau. Karena fakta pertama dia mencintai Mentari pada pandangan pertama, apabila dia tak peduli, dia tidak akan mengganggu kehidupannya. Fakta kedua, dia benci wanitanya pergi tanpa pamit. Fakta ketiga, dia ingin Mentari slalu ada di sininya.
"Pram, elo udah bangun belum?" teriak Roni dari luar, tepat di bawah kamar Pram.
Pram mengusap wajahnya dengan sorot mata penuh konflik. Dia menghela napasnya saat berdiri.
"Pram, keluar deh elo. Gue dapat kabar dari Ana kalo istri elo ketemuan sama dia."
Tanpa pernah Pram bayangkan, Mentari seberani itu menemui Tatiana tanpa pamit kepadanya?
Pram membentangkan pintu seraya menuruni anak tangga dengan cepat.
__ADS_1
"Dimana mereka sekarang?" tanyanya menggebu-gebu.
"Rumah Ana." Roni tercekat saat Pram menyambar kunci mobilnya dari saku celananya.
"Elo urus rumah gue sekarang!" teriak Pram sambil gegas masuk ke dalam mobil.
Dulu pernah ada dua hati yang tidak bisa pisahkan. Hingga ia dapat melihat bagaimana Pram menjalani hari-harinya setelah pisah dari Tatiana.
Kini, Roni cuma bisa memahami kalau sahabatnya itu memang anak cinta banget.
"Iya gue urus rumah elo, tapi mobil gue jangan sampai penyok gara-gara elo ugal-ugalan pake emosi."
Pram mengendarai mobil Roni ke rumah Tatiana dan suami dengan segudang pertanyaan. Namun, akhirnya dia menyerah menemukan jawaban kenapa Mentari menemui Tatiana tanpa sepengetahuannya.
"Bukankah tadi malam udah balik seperti sediakala, Tar?" Pram membenturkan kepalanya di sandaran kepala.
"Kenapa, Tar? Nggak percaya sama omongan gue? Beri tau gue, Tar."
Di teras rumah, Tatiana yang mengerti jika Roni datang–bukan–Pram datang, tersenyum melihat kehadiran pria yang selama bertahun-tahun menghadirkan rasa bersalah di benaknya.
"Aku rasa nggak ada yang perlu kamu khawatirkan, Tari. Karena sekalinya jatuh cinta dia akan jatuh teramat dalam." kata Tatiana.
"Ngomong apa kamu?" sahut Pram. Tangannya menyentuh tangan Mentari dan menariknya mendekat.
"Ngapain kesini, Tar?" tanya Pram setenang mungkin.
"Main."
"Main?" Pram merangkul bahu istrinya sambil menghela napas, "udah cukup mainnya dan jangan sekali-kali main ke sini lagi, paham? Rumah ini tidak ramah untuk hatimu."
Tatiana menyunggingkan senyum sambil berdiri, dia menangkup tubuh putrinya yang berlari kecil kepadanya. Sang suami pun mengikutinya dari dalam rumah.
Mereka bertiga bergeming sambil menatap kedua tamunya.
__ADS_1
"Pram." ucap Tatiana.
Pram mengeratkan tangannya di lengan Mentari.
Waktu yang terlewati telah meninggalkan rasa yang berarti, namun baru kali ini, pertemuan pertama setelah sekian lama dengan dua penghianat itu terjadi.
Pram bisa menyaksikan satu keluarga kecil itu yang tersenyum kepadanya. Entah ada perasaan apa yang menyusul tiba-tiba di relung hati, hatinya menghangat.
Mentari mengusap punggung suaminya. Tahu betul ada gelombang rasa yang bergerak dalam benak suaminya sekarang. Sekuntum rasa sakit hati yang bermekaran. Tapi lihatlah. Betapa manis dan lucu perempuan kecil itu bersama orang tuanya. Mungkin itulah satu keegoisan nyata paling murni sepasang kekasih yang ingin mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa silam hingga menyakiti satu pria bernama Pramoedya Aji.
Pram menganggukkan kepalanya. Melebur luka dalam pelukan permintaan maaf dari sahabatnya. Melebur benci menjadi tali silahturahmi.
Pram dan Abrizam melepas pelukan yang begitu erat dan penuh gelombang rasa yang membuat Mentari dan Tatiana berkaca-kaca.
"Semoga kalian bahagia." kata Pram setelah kembali ke samping Mentari dan menggenggam tangan istrinya.
Tatiana dan suaminya mengangguk, dan anak perempuan kecil yang kerap melihat Pram bersama orang tuanya dalam setiap foto persahabatan mereka meminta turun. Ia menatap Pram lantas memeluk kakinya.
Pram mendongkak, menahan air mata yang memenuhi kelopak matanya agar tidak mengalir di wajahnya yang kusut.
Pram mengusap kepala perempuan kecil yang mirip sekali dengan mantan kekasihnya.
"Kami harus pamit." ucap Pram setelah anak Tatiana melepas pelukannya. Ia dan Mentari berbalik, meninggalkan satu keluarga kecil itu.
Di depan mobil. Keduanya berbalik dan tersenyum penuh arti pada kisah kasih yang terjalin dalam rumah biru muda itu.
Semoga bahagia.
Pram mengusap wajahnya, senyumnya yang lebar kini terlihat lebih lega setelah ia membawa Mentari pulang. Melupakan masa lalu dan kepahitannya. Membuka lembaran baru di dalam rumah yang sedang di obrak-abrik Roni dan tukang-tukangnya.
•••
💚
__ADS_1