
"Jadi bagaimana dik Pram, apa kamu setuju dengan permintaan ibuk?"
Purwati memasang wajah menunggu setelah mengeluarkan suara yang empuk di dengar namun tandas bagi Pram. Setiap poin penting yang di utarakan Purwati dilengkap dengan garis bawah yang tebal berwarna merah pula walau inti dari permintaan perempuan itu hanya ingin dua anak gadis yang menjadi tumpuan harapannya di jaga, di ayomi, tidak di ajak nakal-nakal karena pada dasarnya apa yang ada di pikiran perempuan yang menghabiskan hidupnya hanya di kaki gunung, Jakarta adalah kota besar yang ia lihat dari siaran televisi dengan segala permasalahan besarnya.
Pram mengacungkan jempolnya. Urusan menjaga anak gadis itu mudah, menjaga jodoh sahabatnya sendiri saja dia mampu. Apalagi soal itu, tapi dia sadar dua gadis itu bukan gadis biasa.
Satu gadis akan dia perkenalkan kepada ibunya sebagai calon istri. Satu gadis lagi yang tadi sewaktu Mentari mengutarakan niatnya ke Jakarta langsung kegirangan sendiri, bingung, baju mana yang mau di bawa kesana karena semua bajunya terlihat ala kadarnya tetap menjadi musuhnya. Pram yakin selain dia ikut pasti menjadi mata-mata keluarga ini.
"Kalo begitu dik Pram tinggalkan KTP asli sebagai jaminan!" kata Purwati tegas.
Pram tersenyum jenaka di sudut ruang keluarga rumah pribadi Mentari dengan pintu yang di tutup rapat dan lampu yang tidak di nyalakan. Pram serasa di sidang calon mertua yang menanyakan keseriusannya dalam menjalin asmara dengan putrinya sampai-sampai KTP asli harus di sita.
"Kenapa ibuk tidak mengizinkan saya untuk melamar Mentari sekalian saja daripada hanya KTP saya di sita, buk?" jawab Pram kemudian, laki-laki yang hanya memakai celana chinos pendek dan kaos oblong itu lalu tersenyum santun. Meski debar di dadanya lebih keras.
"Saya tau permintaan ini aneh dan dadakan hanya saja setelah bersama Tari dan bapak sudah menceritakan kondisinya secara keseluruhan, Mentari lebih aman saya bawa ke Jakarta untuk menghindari Bisma."
Pram mengatupkan kedua tangannya, takut salah, takut ngelunjak, terlebih muka Purwati langsung kaget berat mendengar pernyataannya.
"Mentari sudah pernah gagal menikah jadi dik Pram jangan main-main mengutarakan lamaran pernikahan dengan waktu secepat ini, ibu tidak terima. Dik Pram sudah pasti tahu alasannya!" Purwati menghela napas sambil berdiri, "tunggu sendiri permintaan dari Mentari untuk menikahinya, setelah itu baru bicara dengan ibuk!"
__ADS_1
Mantap, sekonyong-konyong Pram langsung lemas. Benar dugaannya, Purwati lebih mempunyai sisi tegas yang kentara ketimbang Joko yang langsung membangun kepercayaan penuh terhadapnya. Maka perang terbuka itu tidak bisa langsung jelas siapa pemenangnya karena birokrasi kedua dalam losmen itu masih menanti keputusan sang lawan itu sendiri. Maka yang bisa ia lakukan adalah patuh dan terus berusaha menjatuhkan lawannya agar jatuh cinta duluan. Karena nampaknya di cintai Mentari lebih enak karena gadis itu pasti akan melayaninya dengan baik.
Pram ikut berdiri, "Nanti saya berikan KTP-nya, buk."
"Baik dik Pram," Purwati tersenyum hangat sebelum membuka pintu rumahnya, "ibuk senang kalo Tari senang, jadi harus Mentari dulu yang perlu kamu tanyakan kesiapannya begitu pun orang tua dik Pram. Baru datanglah ke ibuk lagi."
Purwati menepuk bahu laki-laki itu seraya mendahului keluar rumah.
Tiga orang yang menunggu di taman yang harap-harap cemas langsung menyerbu dua orang hakim rumah tangga dan satu terdakwa.
"Gimana buk'e, aku boleh ikut Tari sama Om ke Jakarta?" seru Dara. Sontak dia berlonjak-lonjak sewaktu Purwati mengangguk samar dengan jari yang meletakkan jari di bibirnya sebagai syarat untuk diam.
"Tapi ingat di sana harus sopan santun dan jangan menyusahkan om Pram!" Purwati mengingatkan, bocah itu kalau tidak bikin susah ya bikin heboh, kali pertama datang ke losmen saja sudah bikin konser pribadi, tapi gadis itu cukup pengertian dan sangat membantu sekali
"Ibuk, besok aku ikut ke pasar beli baju baru ya!" rengeknya sembari menggenggam lengan Purwati. "Boleh buk? Boleh ya, aku pasti nurut kok. Aku akan nurut baju apa yang ibu pilih untukku."
Mentari membuang muka dengan senyum yang gak bisa lagi dia tahan-tahan mendengar rayuan Dara. Dia masuk ke kamar, bergeming beberapa saat di depan lemari sebelum mencari baju-baju yang sering Bisma berikan dulu. Masih bagus-bagus, karena dia hanya memakainya untuk jalan-jalan.
"Nih, nanti kamu bawa ke Jakarta, Ra." Mentari meletakkan setumpuk bajunya di atas meja setrikaan. Dara melirik dengan muka menelisik baju-baju yang Mentari berikan. Baju yang cukup fashionable dan manis sebenarnya tapi berhubung setiap ada baju baru yang Bisma berikan untuk Mentari slalu saja ada informasi resmi dari si gadis itu untuk menyetrikanya dengan hati-hati maka tak heran Dara langsung nolak mentah-mentah.
__ADS_1
"Masak kamu tega sih Tar suruh aku pakai baju dari mantan kamu!" Dara berdecak kesal sembari tetap menyetrika.
"Katanya ibu panti kita harus rajin bersyukur," seru Mentari meniru gaya Dara, "jadi kamu terima ini baju-bajunya. Kamu setrika biar rapi dan wangi lagi, udah bau apek tuh!" imbuhnya seraya mengacak-acak rambut Dara sebelum mencelat keluar dan kembali ke kamar, Mentari sendiri langsung memilih baju-baju mana yang mau dia bawa ke Jakarta.
Bendera perlawanannya masih berkibar karena itulah dia mau ikut Pram ke Jakarta. Mau tahu bagaimana sebenarnya laki-laki itu sesungguhnya ketika berada di tempat ternyamannya karena biasanya di rumah sendiri sama di rumah orang itu berbeda sikap dan sifatnya.
"Aku berharap bisa ketemu emak dan si Pram akan kebingungan menjelaskan siapa aku dan Pevita nanti. Itu pasti mendebarkan hatinya, pastinya...," Mentari cekikikan. "Aku emang setuju untuk berkompromi, dan itu pasti menguntungkan semua pihak."
Mentari menoleh sewaktu pintu kamarnya di ketuk dari luar.
"Ada apa Pram?" Mentari menghampirinya ke ambang pintu. Pram mendorong kopernya ke dalam si gemes dan mendapati gadis itu sudah menyiapkan diri untuk pergi bersamanya.
"Pastiin kamu bawa baju-baju yang gak panas, Tar. Sekalian, baju senam! Kayaknya karyawan-karyawan gue butuh olahraga biar gak stress ngurus empang sama peternakan ayam." Pram meringis usil.
"Oke, Pram." Mentari ikut meringis, menunjukkan perlawanannya sambil membuka koper yang Pram berikan, "Makasih juga untuk kopernya, Pram. Kayaknya ini muat buat sebulan di sana."
Pram tergeragap dengan takjub. "Satu bulan?" serunya keras.
"He'eh, kenapa? Keberatan?" tanya Mentari sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Pram langsung menggelengkan kepalanya. "Tentunya gue gak keberatan sama sekali, gue malah senang satu bulan di temenin cewek cantik di rumah. Bikin betah!" Laki-laki itu bersiul sambil keluar kamar Mentari. Dan sewaktu sampai di kamarnya sendiri, Pram tambah ketar-ketir. Bukan kenapa-kenapa, urusan makan siap, urusan pribadi siap, apalagi urusan jalan-jalan yang pastinya akan menjadi skedul utama kedua gadis itu di Jakarta. Cuma satu bulan menginap di bawah atap yang sama kalau testosteronnya yang bicara, lain cerita.
"Mampus gue!" rutuk Pram seraya menjatuhkan diri ke kasur. "Mak, gue bawain calon mantu nih, semoga mau yee. Kalo enggak gue udah pasrah!"