
Pram menyeruput sisa sekoteng yang hampir dingin seraya menyugar rambutnya. Lupa bawa sisir makanya rambutnya dibiarkan semi berantakan biar kelihatan keren.
Sambil bersiul Pram menutup pintu kamarnya. Lelaki itu duduk di emperan kamar. Sejenak tatapannya tertuju ke rumah Mentari dengan tangan yang sibuk memakai kaos kaki dan sepatu. Rumah itu masih tertutup rapat meski lampu depan sudah dimatikan. Namun tidak ada aktivitas yang menandakan geliat pagi di losmen idaman.
"Mentari beneran masih tidur apa ngumpet?" Pram selesai memakai sepatu olahraganya dan usaha kerasnya mengenyahkan keberadaan Mentari dibenaknya terus menggelayuti.
Pram berdiri, pindah ke taman untuk melakukan gerakan pemanasan yang terlihat teratur dan terlatih. Tubuh atletis dan jangkungnya hanya terbalut kaos kutung yang longgar sekaligus memamerkan bulu ketiaknya yang lebat.
Pram berlari cepat di tempat sebelum melompat tinggi-tinggi.
Dengan napas mulai memburu, Pram mendekat ke rumah yang bercat putih dan memiliki reklame ukiran kayu yang terpajang di dindingnya.
"MEN...TARI...," panggil Pram.
Mentari bersembunyi di kamar mandi, dia tahu Pram sejak subuh tadi sudah sibuk wira-wiri ke dapur, kamar, dan ruang tamu. Cuma berhubung belum masuk jam kerja dia menunda untuk keluar rumah. Toh subuh-subuh mau ngapain, mau berbagi kehangatan pun belum bisa, apalagi berbagi cinta.
Pram mengetuk pintu sembari terus memanggil Mentari. Ditempelkannya wajahnya ke salah satu kaca jendela yang basah karena embun, Pram berusaha melihat kedalam. Kosong, tak ada kegiatan apapun disana kecuali cicak yang seliweran di dinding.
"MEN...TARI..., Kalau kamu denger, aku keluar bentar, jogging! Pulang nanti bikinin aku soto ayam sama tempe goreng!"
Mentari menutup mulutnya ketika hampir berteriak mengiyakan. "Untung gak los." gumamnya sambil melongok keluar kamar mandi.
Pram berbalik, dia menggeser pengunci pintu jadul yang hanya terbuat dari potongan kayu berbentuk persegi sepanjang satu jengkel. Gegas Pram keluar losmen sewaktu langit mulai membiru dan kabut mulai menghilang.
"Ngecek mobil dulu, gue yakin tadi malam itu orang bukan demit!" Pram memutari mobilnya dengan mata yang terus meneliti setiap permukaan mobil.
Pram mengernyit sambil bersedekap.
__ADS_1
"Aman tuh, gak baret-baret. Jadi kalau gitu..."
Pram mendelik dan kontan berlari dengan kecepatan sungguh-sungguh sembari berteriak, "Demit Be...Ne...Ran..."
•••
Mentari terbahak-bahak di balik jendela ruang tamu. Dilihatnya Pram kocar-kacir melintasi rimbunnya pepohonan di halaman losmen. Pram bergeming di atas aspal, berkacak pinggang sambil mengatur napas.
"Pram - Pram, kamu ini keren kok penakut. Lagipula apa iya demit bisa bikin baret mobilmu?"
Mentari berdecak, dia memutar tumitnya namun urung bergerak ke arah rumah.
"Dia mau jogging? Kemana?" Helaan napas tajam terdengar diujung kalimatnya, "Prammm, kamu yang hiling aku yang pusing! Kalau seandainya kamu kesasar gimana?"
Pagi masih sangat teduh tapi tidak bisa membuat Mentari tenang dan kalem. Dia tergesa-gesa ke kamarnya, meraih ponselnya dan menelepon Pram.
"Dia gak bawa HP, astaga. Pram! Kamu bener-bener gak bisa apa bikin kepalaku berhenti khawatir kamu kesasar!" Mentari menggeram, kembali ke kamar, menyisir rambutnya cepat-cepat dan memungut dompet pribadinya.
Mentari menghela napas. "Sekalian aja ke pasar, tuh tamu mulai menggunakan layanan kamar dengan baik."
Mentari meraih kunci motor di gantungan baju. Sementara Pram yang sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan karena selain laki-laki dewasa dia mempunyai sabuk hitam karate. Dan kemampuannya itu pernah ia gunakan untuk menghajar Abrizam sampai babak belur.
Mentari menggeber motornya dengan kecepatan sedang, dia yang tidak mengerti Pram pergi kemana akhirnya memilih berbelok ke arah pasar terlebih dahulu sambil berharap menemukan laki-laki itu.
Mentari menyeret langkahnya menuju pasar yang ramai dengan kegiatan jual-beli. Sayur-mayur, buah-buahan, terlihat segar. Mentari tergoda membeli satu kilo apel hanya untuk Pram. Begitu juga buah-buahan setengah mentah untuk dijadikan rujak. Membayangkan saja, air liur Mentari merembes keluar memenuhi lidah.
"Nanti siang ngerujak, ehm, enak banget pasti."
__ADS_1
Mentari senang sendiri sembari pindah ke area rempah-rempah yang aromanya terasa menguar sewaktu ia membeli bumbu dapur dan satu potong tempe sepanjang dua jengkal. Dan bagian terakhir dari kesibukan paginya di pasar adalah ke area daging dan ikan segar. Satu kilo ayam dia beli sebelum kembali ke parkiran.
Sejenak yang terasa berat, Mentari berpapasan dengan ibu Bisma. Gadis itu tersenyum ramah sewaktu ibu Bisma menghampirinya.
"Tumben ke pasar, Tar. Dimana mantan besanku?"
"Baru di tempat bude Aminah, Buk. Anak bude baru tunangan, jadi repot disana." Mentari urung menduduki jok motornya, dia mencium punggung ibu Bisma bernama Desy.
Istri pak kades itu terlihat mengembuskan napas lelah. "Kalau kemarin Bisma jadi nikah sama kamu, Tar. Ibu gak perlu nanggung malu begini." keluhnya dengan sendu.
"Istrinya Bisma itu males, nyapu gak bersih, masak gak enak, pokoknya Bisma itu lho goblok, udah punya kamu yang rajin begini malah milih yang manja. Pokoknya ibu benar-benar pusing sekarang, Tar." imbuhnya sambil berdecak dengan wajah sendu.
"Itu sudah pilihan mas Bisma, Buk. Mentari pulang dulu ya, mau masak." kayaknya memelas dan malas.
Bu Desy sontak menahan tangan Mentari. "Besok ada acara di rumah, acara kampung jadi kamu harus datang, Tar."
Mentari menggeleng canggung. Boleh saja hubungan dia dan Bisma sudah kandas, cuma dengan Ibu Desy yang slalu memuji sebagai mantu idaman terus lanjut. Dia tidak membenci keluarga Bisma, cuma urusannya dengan Bisma dan istrinya pasti akan meledak.
"Tari gak bisa ibuk, Tari baru ada tamu dari luar kota."
"Yahh." Bu Desy cemberut, "ya udah pulang, hati-hati. Ibu mau belanja ke dalam soalnya istrinya Bisma itu pengen acara empat bulanan di rayakan. Ngerepotin aja wes." akunya sembari menepuk bahu Mentari.
Gadis yang sudah duduk di jok motornya itu memakai helm sambil mikir.
"Jadi aku di undang ke rumahnya untuk ikut merayakan empat bulanan mantunya? Oalah, gak ibu, gak anak, sama-sama edan!" rutuk Mentari, dia menggeber motornya keluar dari parkiran pasar.
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.