
Mentari merasa beban di dadanya terus meningkat berada di kamar laki-laki yang meninggalkannya untuk mandi. Dia bangkit seraya menggedor-gedor pintu kamarnya tanpa kelembutan seorang wanita. Sama sekali. BRAK-BRAK-BRAK. Liar dan keras.
"IBUK–IBUK!"
Pram menyeringai lebar. "Tidak akan terbuka sayang, kendali di kekuasaanmu tetap gue." gumamnya sambil membebat pinggangnya dengan handuk.
"IBUK, TOLONG BUKA PINTUNYA. PRAM NAKAl!"
Purwati dan Joko yang telah mendengar pengakuan Dara hanya bisa menghela napas berat mendengar permintaan tolong putrinya. Setuju dengan permintaan Pram, putrinya tidak bisa di biarkan bertemu Bisma sendirian.
"Mungkin bener kata dik Pram buk'e kalo losmen ini sebaiknya kita tutup demi kebaikan Mentari."
"Sudah-sudah, itu kita bicarakan nanti pak'e, tuh Mentari kamu tenangkan dulu. Ibu mau masak."
Joko berjalan ke arah kamar nomer satu. "Bapak gak bisa buka, Tari. Bapak yakin dik Pram tidak macam-macam sama kamu, jadi tenang saja di dalam." sahutnya keras.
"Pokoknya bapak buka pintunya dulu, aku takut pak, Pram nakal. Aku janji gak keluar losmen kok, aku janji di kamar aja, tapi kamarku, bukan di sini!" aku Mentari menggebu-gebu, suara bapaknya itu seperti penyejuk hati, tapi naas hanya sekejap ketenangan Mentari hadir, bapaknya menjatuhkan lagi dengan kalimat telak atas permintaan Pram.
"Semua nakal, semua nakal. Cuma aku yang enggak!" rutuk Mentari sambil menendang pintu kuat-kuat, "awww..." Mentari berlonjak-lonjak kesakitan.
Bukannya membantu. Pram terbahak-bahak sambil berkacak pinggang.
"Lagian pintu itu benda mati pake kamu tendang-tendang, Tar. Jelas-jelas sakit geulis. Coba aku lihat berdarah gak?"
__ADS_1
Mentari berbalik seraya terhuyung ke belakang, membentur dinding. Mulutnya ternganga, matanya melebar melihat tubuh laki-laki menyebalkan itu hanya berbalut sepotong handuk yang tidak punya akal dan bisa kapan saja terlepas dari pinggang Pram.
Mentari menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan seraya memejamkan mata. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah.
Pram menggeleng-geleng. Bukan maksud menggoda dia hanya ingin mengambil baju gantinya yang ada di lemari.
"Pokoknya jangan melek sebelum aku bilang udah selesai!" seru Pram. Menelanjangi diri seraya memakai pakaiannya dengan cepat.
Pram menutup pintu lemari yang menjadi penghalang dirinya dan Mentari. Dia berlutut untuk memeriksa kaki Mentari. Cuma merah, tidak sampai berdarah atau patah karena saking kesalnya Mentari tadi menendang pintu menggunakan tenaga dalamnya.
Pram bernapas lega. "Buka matamu, geulis. Aku sudah kasep dan wibawa."
Mentari membuka matanya perlahan-lahan dengan ragu. Binar matanya yang meredup meneliti roman laki-laki yang bersila di depannya.
Benar, selama ini dia menutup hati dan baru dia menyadari bahwa Pram memang kasep. Rahangnya keras, hidungnya mancung, wajahnya bersih dari jerawat, alisnya tebal menaungi mata jenaka yang slalu berbinar-binar ceria. Namun dari semua keelokan paras Pram yang begitu dekat, Mentari menyukai bibirnya. Senyum tulus yang kerap merekah usil itu membayanginya setiap kali memandang akuarium di kamar.
"Gerogi?" Pram beringsut, kini ia menyandarkan tubuhnya di kusen ranjang seraya meluruskan kaki, "ini juga pertama kali gue berduaan sama cewek di kamar. Rasanya deg-degan." akunya jujur. Namun apa artinya pengakuannya itu bila Mentari tidak paham akan detak jantungnya sewaktu bersama dalam keadaan setengah telanjang!
"Makanya keluarin aku aja, aku gak akan keluar dari losmen seperti katamu tadi, Pram. Boleh kan, aku berjanji!" rayu Mentari, ia takut merindukan kehadiran Pram di sini jika nanti pada akhirnya harus menjadi juri sendiri atas pertaruhan itu. Bisakah jujur dan luluh akan ego sendiri?
Pram memandangnya. "Tidak!" jawabnya singkat, "kamu udah sering masuk ke kamar ini, harusnya biasa saja!"
"Yang gak biasa itu karena aku sama kamu Pram!" sergah Mentari, gadis itu hampir melayangkan sendalnya tapi urung, batal meledak-ledak karena Pram sudah memahami tabiatnya.
__ADS_1
Mentari berdiri seraya membuka semua gorden agar pandangan tidak hanya tertuju pada Pram. Gadis itu bergeming di samping jendela dan membisu.
Pram membiarkan Mentari berlarut dalam pikiran sendiri, paling-paling Bisma lagi yang ada di pikirannya, batin Pram. Dia mengambil ponselnya, memeriksa semua pesan yang masuk, Asih tetap menjadi orang dengan jumlah pesan paling banyak. Menanyakan kabarnya, Pevita, dan pulang kapan. Sudah di rindu katanya, ingin telepon tapi takut ganggu.
Pram tersenyum simpul seraya membalas pesan-pesan ibunya, beberapa rekan kerja dan karyawannya. Terakhir, dia menelpon ibunya setelah mengatakan Pevita kw baru sedih.
Pram menghampiri Mentari, berhubung gadis itu memang sedih, dia tidak menyadari Pram sudah ada di belakang.
"Sayang, emak mau ngomong nih." bisik Pram di telinga kanan Mentari.
Mentari tersentak kaget seraya menoleh cepat. Perubahan posisi itu membuat bibir mereka bersentuhan tak sengaja dalam sekejap. Keduanya terpaku merasakan desiran hangat yang membakar bibir keduanya, tapi Pram sadar terlebih dulu. Dia berdehem sambil menegakkan tubuhnya.
"Maaf." kata Pram gugup, bersiap menerima kemarahan gadis itu yang pasti akan meledak-ledak akibat ciuman pertama itu, juga ibunya sudah menyaut-yaut memanggil namanya.
Mentari memejamkan mata, sensasi sekejap itu membuatnya tersengat aliran listrik ribuan voltase dan seketika membuat jiwanya melayang.
"Emak mau ngomong sama kamu geulis, mau?" tanya Pram.
Mentari membuka mata dan kini berhubung jiwanya belum kembali normal, Mentari hanya membuka mulutnya tanpa mengeluarkan persetujuan. Ala hasil Pram mematikan sambungan teleponnya dan membuat Asih terheran-heran.
Pram menaruh ponselnya di meja TV, ciuman itu juga pertama baginya. Walau tanpa sengaja, gadis itu sudah mengambil ciuman yang akan dia sajikan hangat-hangat untuk istrinya nanti di malam pertama. Berhubung sudah terlanjur hilang karena gadis losmen itu, Pram akan meminta pertanggungjawaban sekaligus memberi pertanggungjawaban karena ciuman pertama akan slalu di kenang.
"Aku akan menikahimu, Tari. Terimalah aku dan kita bisa hidup tenang di Jakarta. Tanpa Bisma, tanpa ketakutanmu disini." kata Pram lembut namun serius, ia mengusap bibir Mentari yang terbuka dengan ibu jarinya. Sentuhan Pram menyandarkannya. Mentari mengerjap. Dua mata mereka bertemu dalam lekat yang enggan menyatu. Terbatas untuk menjaga agar hati tidak menghendaki adanya kesalahan satu detik yang membakar akal sehat.
__ADS_1
"Kalo kamu mau, biar aku yang ngalah, biar aku yang membuktikan kalo aku gak cuma singgah disini, aku menatap, dan terhitung ada di hatimu." Pram menepuk-nepuk pipi Mentari dengan lembut. "Senyum dong, anggap aja tadi khilaf, tapi jujur aku pengen lagi!"
Mentari langsung menginjak kaki Pram kuat-kuat. "Enak aja!" desisnya berang.