Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Aku musim kemarau.


__ADS_3

Pram membiarkan Mentari mencelat duluan, selang sepuluh menit, baru dia kembali berlari dan mendapati gadis itu duduk di pembatas jalan.


"Kenapa lo?" teriaknya sambil jalan di tempat.


"Capek, lapar." jawab Mentari pelan.


Pram menghentikan gerakannya. Berhubung kakinya sudah diforsir begitu keras dia ikut duduk. Lapar dan capek sama, tapi peluh yang banjir di tubuhnya membuatnya senang. Segala makanan yang sudah ia makan telah menjadi energi. Syukur-syukur waktu gendong Mentari tadi tambah membuat otot kakinya kuat.


Keduanya menikmati lelah sambil terdiam, hingga mobil bak terbuka yang berjalan dari arah pasar membuat Pram berdiri. Mengacungkan jempolnya tanda ingin nebeng.


"Kenapa mas?" tanya si sopir.


"Cewekku kecapekan mas habis kram kakinya, boleh numpang sampai losmen depan sana sebelum pertigaan?"


"Boleh-boleh, naik aja mas."


Pram mengangguk senang. "Ayo, Tar!"


Keduanya melompat ke dalam bak terbuka yang telah kosong isinya.


Mobil melaju, Mentari dan Pram tersenyum lebar, bersyukur dapat tumpangan gratis di sisa-sisa tenaga yang terkuras habis.


Mobil berhenti setibanya di depan halaman losmen. Pram melompat duluan sebelum membantu Mentari turun.


"Makasih mas!"


Bunyi klakson terdengar sebagai balasan sang sopir.


Keduanya menyebrang jalan, Pram meringis dan karena berhubungan dia tetap ingin memenangkan pertaruhan. Dia ngacir duluan.


Mentari teriak. "Pram kamu curang!"


"Gak! Tetep gue yang menang dan kamu harus ngasih aku satu bantuan lagi." jawab Pram sambil menyentuh gagang pintu losmen.


Mentari menendang ban mobil Pram. "Gak mau, kamu gak aba-aba dulu kok." elaknya.


Pram menggeleng. "Gak bisa gitu sayang, gak ingat tadi kita udah berdekapan? Rasanya kita udah solid banget jadi temen bukan cuma sekedar orang asing yang ketemu dan saling menguntungkan." urai Pram.

__ADS_1


Mentari memandang ke manik mata Pram. "Apa maumu?" tanyanya.


Pram mendekat sampai moncong sepatu mereka bersentuhan.


"Besok aja aku ngomongnya. Sekarang aku cuma minta kamu cuci muka karena di pipimu masih ada bekas air mata." Pram tersenyum lalu berbalik, "jangan ganggu gue sampai makan siang nanti, Tar. Gue mau sendiri, bilang juga sama keluargamu."


Pram melambaikan tangan, masuk lewat pintu samping yang tembus ke taman yang lengang, baru ia masuk ke kamar dan berdiri di dekat jendela. Mengintip gadis yang begitu pas dalam pelukannya.


"Apa mungkin kamu mau pake cincin dari emak, Tar?"


Mentari menghela napas lega. "Baguslah. Aku juga pengen sendiri."


Dengan gontai gadis itu masuk ke dalam rumah. Membasuh wajahnya di taman sebelum duduk di kursi. Memandang kamar Pram yang tertutup rapat-rapat.


Mentari menelan ludah. Pelukan yang seharusnya menakutkan baginya, dengan Pram tidak bereaksi apa-apa. Dia malah membalasnya dengan bonus rasa sedih yang ia tumpahkan begitu saja. Tumpah atas nama Bisma Kurniawan yang masih menjadi titik terlemahnya.


"Apa sebaiknya aku ikut Pram ke Jakarta dan menutup sementara losmen ini? Tapi—"


Pertimbangan-pertimbangan berdatangan memenuhi isi kepalanya. Raut muka Mentari jadi bimbang.


Seperti apa Jakarta? Seperti apa kehidupan Pram disana? Bagaimana bapak ibunya nanti? Losmen? Dan yang paling kronis adalah isi dompetnya. Mentari akan berstatus pengangguran jika tidak ada penyewa losmen.


"Dik Pram-Dik Pram, memang dia itu adik bapak apa!" sahut Mentari judes.


Joko terbahak-bahak, anak tunggal itu memang suka nyolot kalau ngambek.


"Jawab saja to pertanyaan bapak, gampang kan?"


Mentari melepas sepatunya sambil mencebikkan bibir. "Pram gak mau di ganggu sampe jam makan siang nanti, Pak. Jadi jangan di ganggu. Awas!" ucapnya mengingatkan.


"Loh-loh-loh, dia itu belum sarapan, Tari. Gak mau di ganggu gimana to. Pasti itu alasanmu saja!" Joko berdiri, "bapak ambilkan sarapannya dulu, tadi ibumu sudah masak."


Terserah, teriak Mentari dalam hati. Dia ikut berdiri, "Mentari juga gak mau di ganggu sampe nanti siang pak! Awas ganggu."


Joko menatap heran putrinya yang melengos pergi.


"Kenapa mereka berdua, pasti kenapa-kenapa."

__ADS_1


Joko pindah ke dapur, memberitahu Purwati untuk menyiapkan sarapan untuk Pram. Lepas sepuluh menit, akhirnya Joko yang membawa layanan kamar itu sendiri ke kamar nomor satu.


"Dik Pram."


Pram yang masih merebahkan diri di kasur langsung bangkit. Dia membuka pintu dan tersenyum.


"Sarapannya, di makan." Joko menyerahkan nampannya, "sekalian baju-baju kotornya bapak ambil."


"Nanti saja pak, aku belum mandi ini. Masih istirahat." aku Pram, dia sungkan jika baju-bajunya di ambil oleh pak Joko.


"Baik, sekalian bapak mau tanya. Apa bener dik Pram tidak mau di ganggu sampai nanti siang?" tanya Joko memastikan ucapan anaknya.


"Benar pak, soalnya kemarin aku sudah dapat izin dari Mentari untuk pake bekas empang di sebelah. Jadi aku mau cari info dulu dimana bisa beli bibit ikan nila atau lele sekalian alat-alatnya." urai Pram.


Joko mengangkat tangan kanannya. "Dik Pram butuh alat apa? Sapa tau bapak punya di gudang."


"Minimal cangkul pak, kalo ada ya kompresor buat nyedot air." Pram meringis, dan sudah menduga benda yang satu itu tidak ada di gudang.


"Tapi bapak bisa pinjamkan ke teman bapak, kamu tenang saja dik Pram. Nanti bapak bantu." kata Joko serius.


Pram merasa senang sekali mendapat support dari pemilik losmen yang sesungguhnya. Roman mukanya tidak bisa bohong, dia menerima dengan senang hati bantuan itu, terlebih untuk urusan cangkul mencangkul tanah yang pastinya memang membuat tangannya lebih berotot tapi juga pegal-pegal.


"Terima kasih, pak."


Joko mengangguk seraya menarik daun pintu dan menutupnya, memberi ruang bagi Pram untuk sarapan.


Pram menaruh sarapannya di meja TV, dia melihat menunya. Masakan Bu Purwati lebih menggoda dan bervariasi ketimbang masakan anaknya, cuma di temani Mentari lebih membuatnya bernafsu untuk menghabiskan semua yang tersaji.


Pram terpekur dalam hening. Bohong kalau hatinya tidak menyiratkan perubahan yang terjadi di dalam benaknya. Seseorang yang hanya dia akui sebagai “Dewi Penolong” sekarang justru menjadi seseorang yang telah membangkitkan detak jantungnya. Lebih kencang, sedikit berirama dan mulai senyum-senyum dengan sendirinya. Apakah itu reaksi kimia seperti pertanda cinta? Yaikhhhh. Pram geleng-geleng kepala.


"Mentari, mungkin sekarang lagi musim hujan khusus bagimu, jadi mau gak mau harus ngalah dulu, kalem, slow. Gak usah bersinar dulu gak apa-apa, biar aku yang memeriahkan harimu karena mendungmu mendukungku, soalnya selain sekarang baru memasuki perubahan iklim, jadinya adem+panas, aku adalah musim kemarau yang butuh mendung untuk meneduhkan langkah-langkahku. Dan itu kamu! Yaikhhhh!"


Pram langsung sarapan, telat makan ternyata efeknya jadi baperan, sok drama, dan ujung-ujungnya jadi pujangga rapuh korban buku motivasi cinta.


Pram bersiul, roman wajahnya kembali seperti semula setelah kenyang.


"Mandi dulu terus ngurus empang. Si geulis pasti seneng gue kasih tambahan kerjaan biar sibuk. Wk! Wk!"

__ADS_1


•••


To be continue and happy reading


__ADS_2