Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Jimatnya ketahuan.


__ADS_3

Berminggu-minggu Mentari sedang mendalami karakter sebagai pemberi belaian kasih sayang kepada suaminya, tapi tepat satu bulan berumah tangga di Jakarta yang sedang panas-panasnya, ia mulai di landa kejenuhan saking tidak adanya kerjaan yang harus ia lakukan—selain cuma haha hihi bersama suaminya di ranjang.


"Aa, boleh aku kerja?" tanya Mentari sambil menaruh secangkir kopi susu di meja kayu berbentuk bulat di depan suaminya yang baru saja memberi makan ikan-ikannya.


Ari sedang di bebas tugaskan dari rumah Pram demi keintiman rumah tangganya yang sedang cerah dan mekar-mekarnya. Sementara Mbok Sum juga iya, tak ada orang lain selain dua pasutri itu yang apa-apa di kerjakan berdua.


Tapi tidak usah pikir panjang, Pram langsung menggeleng tidak setuju. Istrinya sedang ia buahi, jangan sampai kelelahan nanti buahnya tidak jadi.


"Main hotel-hotelan saja di rumah sama aku, Tar. Kamu resepsionisnya, aku tamunya. Ntar aku jadi tamu nakal, jadi kamu repot dan sibuk, mau?"


Pram menyunggingkan senyum yang terpaksa harus ia berikan. Belum ada ribuan hari mereka lalui bersama, belum juga setahun, tak pernah terbayangkan jika Mentari melalang buana di Jakarta sebagai seorang pekerja.


Mimpi buruk apa yang harus gue rasakan nanti, istri gue yang cantik jelita dan pandai masak itu di kenal banyak orang, cowok-cowok lagi.


Masa patah hati lagi gue kalo ada yang deket-deket cewek gue, mana nggak lucu lagi udah jadi suami cemburu buta. Mikir Pram, mikir! Usaha apa biar istri elo tetap bisa elo pandang di rumah saja. Lalu, omelan apa yang akan dia dengar dari ibunya? Mertuanya? Jika Mentari yang ia pinang dengan seperangkat alat sholat dan tanah satu hektar harus banting tulang cuma karena bosen di rumah terus.


Pram nyengir. "Nggak harus kerja di luar sayangku, geulis. Kamu kasih nama aja ikan-ikannya kita biar jadi sibuk."


Mentari menatapnya, berusaha memahami keinginan suaminya.


"Jadi Aa nggak ngasih izin aku kerja di luar ya?" Mentari urung memindahkan tatapannya dari mata cemas suaminya. Dia menyita atensi suaminya dengan memeluk lengannya seraya menyandarkan kepalanya di sana.


Pram menyeruput kopi susunya seraya menghela napas.


"Kamu ini udah kaya raya lho, Tar. Punya tanah satu hektar, punya aku, punya semuanya di sini. Kita buka usaha aja ya, kamu mau?" Pram menaruh cangkirnya dengan hati-hati seperti ucapannya.


"Kita di rumah aja, Tar. Aku pastikan kita sibuk nanti, kita akan punya bayi yang pasti akan merepotkan kita sebagai orang tua. Oke?"


Walaupun Pram bukan titisan dewa, nampaknya ucapannya mempan meluluhkan hati istrinya. Terlihat dari


Mentari tetap menyandarkan kepalanya di lengan Pram.


"Bener ya, Aa. Tapi jangan kurung aku di rumah terus, aku bosen." keluh Mentari yang selama sebulan penuh hanya keluar rumah untuk membeli sayuran dari pedagang gerobak yang lewat.


Pram kontan cengar-cengir. Sebulan dia mengurung istrinya, menikmati masa-masa indahnya pacaran setelah menikah.

__ADS_1


"Aa nggak mau ngajak aku kenalan sama teman-teman Aa di sini gitu? Atau iya, kita kan suka olahraga. Gimana kalo aku usul kita bikin studio fitness dan senam, Aa?"


Pram menarik napas dalam-dalam seraya menghembuskannya.


Dari juragan empang lalu pindah haluan menjadi pemilik studio fitness dan senam? Tak mengapa sih, tapi sebelum ikan-ikannya laku, tidak ada modal.


Pram mengusapkan tangannya di punggung Mentari.


"Kita jalan-jalan aja nanti malam, Tar. Kamu mau nonton? Atau udah lama aku nggak futsal. Mau nemenin sekalian ketemu temen-temen ku?"


Mentari memutar bola matanya dengan malas. Dan saat Pram semakin mengelus punggungnya dengan irama teratur. Ia menggeleng.


Malah di suruh nemenin futsal. Sebuah aktivitas menunggu yang menjenuhkan baginya, sementara Pram enak. Main rebut-rebutan bola. Seru-seruan, lah dia, nunggu, jadi pemandu sorak pun tidak bisa. Nah siapa sekarang yang jadi budak cinta? Apa-apa harus di temenin, dan slalu ada.


Mentari mengangguk pasrah. "Terserah Aa lah, yang penting keluar rumah. Kalo perlu kita hitung bintang di langit nanti malam juga boleh yang penting di luar rumah." urai Mentari dengan suara lemah.


"Iya geulis, bosen banget ya mainan sama aku doang di rumah? Atau aku harus mencoba teknik baru?"


Pram mengernyit sakit sewaktu Mentari mencubit pahanya.


"Baru juga sebulan nikah, Aa udah kebanyakan gaya." cibirnya sambil beranjak.


Pram meringis. Ketahuan gue, lagian enak ganggu istri sendiri.


"Nggak-nggak, janji." Ia geleng-geleng kepala, "aku juga mau urus empang, Tar. Cek jamur di badan koi. Ntar sore baru kita jalan." Pram mencium pelipis istrinya dengan sayang. Sayang banget sama Mentari sampai nggak rela istrinya pergi kerja.


"Iya!" gumam Mentari sambil berdiri, dia menuju ruang setrika untuk mengambil keranjang berisi pakaian-pakaian yang telah rapi ia setrika.


Mentari bergeming di depan lemari, sejenak ia menghela napas, ada rasa sepi yang menyusup benaknya jika berada di rumah semi kayu itu dengan Pram seorang. Sementara ia juga merasa senang Pram memilikinya sepenuh hati.


"Aa ngurung aku udah kayak ngurung ayam cemani. Takut kabur dan di bawa orang!" omel Mentari sambil menarik tumpukan celana jins Pram yang tidak rapi. Namun bukannya gegas melipat dan merapikan lagi celana jinsnya. Mentari mengamati baik-baik foto yang terjatuh ke lantai.


Mentari mengedarkan pandangannya seraya menekuk lututnya untuk membalik foto yang terlihat usang.


"Tatiana? Kok kumisan? Ada tanduknya lagi?" Mentari menyelipkan foto itu ke dalam saku celana kainnya.

__ADS_1


"Aa masih nyimpen foto mantan, apa Aa belum sepenuhnya move on?"


Gejala tidak enak hati nampaknya sedang menyerang Mentari, pasalnya setelah menemukan foto Tatiana. Wanita itu cuma tidur-tiduran di kasur tanpa berminat melanjutkan kegiatannya menata baju di lemari.


"Aa pasti menyembunyikan sesuatu dari aku, pasti itu! Ih, semua cowok sama aja jadinya, masih suka ingat-ingat mantan!"


Mentari memanyunkan bibirnya sampai sore, sampai-sampai Pram curiga. Perempuan yang ingin sekali menghirup udara bebas itu tidak semangat sama sekali untuk mandi dan dandan.


"Nggak jadi nonton aja, Aa. Aku lemes."


Mendengar kata lemas, jiwa-jiwa Pram yang perhatian langsung menaruh telapak tangannya di kening dan leher Mentari.


"Nggak panas kok, apa kamu mungkin kecapekan, Tar? Kurang vitamin?"


Tapi kecapekan kenapa? Daritadi gue lihat istri gue cuma tidur-tiduran, nonton film, tapi masih mau makan dan minum, cuma ngedumel sendiri. Pasti ada yang nggak beres ini, tapi apaan ya?


Mentari berbalik seraya menjatuhkan diri ke kasur lagi.


"Pokoknya Aa yang bikin aku lemes!"


"Kok aku? Emang aku ngapain kamu sayang, aku daritadi sibuk kerja kok, nggak bikin kamu lemes."


Mentari melempar foto yang ia rogoh dari kantongnya.


"Tuh, Aa, belum move on dari Tatiana! Aa masih nyimpen fotonya. Aa jahat."


Pram memungut foto Tatiana yang semakin lecek setelah Mentari remas-remas tadi.


Jimat gue ini. Tapi kenapa bisa, arghhh, iya, lupa gue. Mentari yang beres-beres kamar sekarang. Haduh, gawat, Mak. Marah ini geulis. Nggak dapat jatah elus-elus nanti waktu tidur. Arghhh, lagian kenapa sih nongol, kerjaan elo kan ngusir tuyul, bukan bikin istri gue cemburu. Arghhh...


"Sayang!"


"Gak!"


•••

__ADS_1


To be continue and happy reading.


Baca cerita baru yuk, judulnya “Nyonya Menikahi Perjaka” 😁


__ADS_2