
Hi, hellow dear reader. Skavivi minta maaf liburnya udah kayak libur semester. Tapi yuk atuh, lanjut lagi. Terima kasih untuk semua yang sudah menanti dengan sabar kisah ini berlanjut.
Happy reading. Love, Skavivi.
•••
"Silahkan masuk." Sum tersenyum, membuka pintu rumah yang semakin sunyi di tinggal Pram pergi beberapa hari ini.
Mentari dan Dara sontak menarik koper Pram, tapi kejadian itu semakin menambah rasa penasaran Sum sewaktu dia meminta koper Pram untuk di biarkan saja, biar di bawa Ari.
Mentari menjawab, "Ini isinya baju-baju saya, Buk. Jadi biar saya sendiri yang bawa." katanya lalu tersenyum sopan dan menggenggam handle koper.
Sontak Sum di hantam kejutan yang mencengangkan, lantas berpikir keras akan baju-baju si geulis yang bisa berada di koper Pram.
"Sebenarnya teh ini awewe siapa? Kenapa si kasep bisa bawa teman-teman ke sini pakai ngasih kopernya segala. Aduh, emak. Kunaon ini." pikirnya makin tak tenang.
"Sok atuh kalo gitu masuk. Duduk-duduk dulu di sopa. Mbok buatkan minum sebentar." Sum mempersilahkan masuk sambil membungkuk hormat.
"Nuhun, Mbok. Nuhun. Saya masuk, assalamualaikum." ucap Mentari sopan.
"Waalaikumsalam, sok atuh." gumam Sum seraya berlalu.
Mentari menyeret kopernya ke dalam rumah Pram. Ke empatnya langsung duduk di sofa sambil menatap rumah Pram dengan muka kagum. Terkesima akan keindahan rumah bujang mapan pencari perawan.
"Pantesan emak buru-buru nagih mantu. Anaknya udah mapan, rupawan, baik lagi. Mungkin si emak takut stigma jelek dari orang-orang karena anaknya yang gak laku-laku, makanya pengen mantu." batin Mentari sambil lurus ke anak tangga di depan.
Mentari mengendikkan bahu, karena sungkan akhirnya ke empat tamu Pram hanya duduk-duduk sambil bisik-bisik membicarakan apa yang mereka temui di rumah Pram.
Sementara itu, Ari yang mengantar koper milik Pram langsung nyelonong masuk ke dalam kamar.
"Cakep-cakep oleh-olehnya, mas. Buat Ari satulah, bagi-bagi boleh. Itu yang cakep senyum-senyum tadi siapa? Temen dari Bali?"
__ADS_1
Pram yang sedang merebahkan diri di kasur tersenyum datar. Iya boleh bagi-bagi, cuma pilihannya cuma Dara, karena Mentari sudah jadi gebetannya.
"Yang cakep rambut panjang itu punya gue mas, Mentari namanya. Kalo mau yang rambut pendek, Dara. Seru anaknya, bawel." jawab Pram tanpa membuka matanya.
"Mentari, silau, mirip mukanya, cerah." puji Ari sungguh-sungguh. Sungguh cerah, bening pisan, tapi punya juragan, nggak bisa di ganggu. Takut salah, pikirnya sambil meraih sepatu Pram di lantai.
"Juragan mau istirahat?" tanya Ari.
Pram menguap sambil meraih guling dan memeluknya erat-erat. Kangen, gumamnya. Tapi bentar lagi nggak guna senyaman apa pun guling yang ia dekap sepanjang malam kelabu. Ada Mentari yang akan mengganti posisi guling kapas kempes itu setelah masa kelamnya bertemu terang.
"Tolong urus teman-temannya yang laki ke belakang ngobrol-ngobrol tentang kolam dan peternakan mas. Besok mau aku bawa ke Jawa barat. Kerja sama emak...," Pram menarik napas, sudah terbayang bagaimana berisiknya Asih dengan alasan ia membawa mantan asisten pribadi Bisma ke rumah orang tuanya.
"Siap atuh kang, ya sudah. Tak ke bawah, mau kenalan sama cewek-cewek manis. Dari Bali bener?" Ari memastikan.
Sontak Pram tidak jadi memejamkan mata. Ke dua asisten rumahnya belum ia briefing. Apalagi Sum, anak buah emak nomer satu. Si tukang ngadu, dia tukang apa-apa harus laporan. Pokoknya Sum harus di briefing dulu sebelum nanti ketemu emak.
"Hayu atuh ke bawah sama-sama mas Ari, lupa gue, belum sarapan. Takut masuk angin, bisa gagal ngurung si geulis." Melewati sepasang mata yang memandangnya aneh, Pram cuma meringis geli seraya keluar kamar.
"Geulis, gak bisa tidur gue, kepikiran kamu!" Pram menghenyakkan tubuhnya setelah mengusir Dara dari sisi Mentari.
Dara mengerutu tapi bisa apa, Pram sudah seperti kakak baginya. Ia pindah ke karpet duduk di bawah terus leyeh-leyeh. Dan dari jarak sebegitu dekat, Sum terkesiap saat melihat muka gadis berambut hitam panjang itu tersenyum tapi melotot jengkel ke arah Pram yang mengelus tulang punggungnya dengan ibu jari.
Mentari berdecak tak sabar dalam hati, tapi di luar ia tersenyum lelah. Ngantuk, lapar, pegel, pokoknya nggak karu-karuan mukanya. Risi juga karena lelaki di sampingnya itu masih mengelus punggungnya.
"Makanya jangan buru-buru rebahan. Mandi dulu, sarapan, baru istirahat Pram. Kan enak, nyaman." Mentari menjulurkan sedikit lidahnya.
Sum menjatuhkan diri di samping Danang. Perasaannya semakin semarak karena foto cewek cantik yang di tunjukkan Asih dan yang di bawa Pram berbeda. Cuma sama-sama cantik dan berambut hitam panjang.
"Saha geulis?" Sum terdiam sejenak, "awewe baru mas Pram?"
Pram otomatis mengangguk sebelum mulut Mentari terbuka. Langkah cerdik untuk mengklaimnya sebelum sia-sia. Perawan desa ini harus menjadi kanyaah ‘kesayangan’ atas doa yang di panjatkan seluruh keluarganya, tiap kali sehabis lima waktu.
__ADS_1
"Kenalan sama Mbok Sum, geulis. Temen emak dari kampung. Asisten rumah tangga ku." Pram menjelaskan, memperbolehkan Sum mengenal gadis yang ia bawa.
Mentari mengulurkan tangannya sambil menahan napas saking gugupnya. Matilah aku, baru temennya emak lho ini udah deg-degan, belum emaknya langsung.
"Mentari, Mbok." ucapnya sopan.
Kedua alis Sum menyatu sambil di lepasnya tangan dari cewek yang masih ia curigai. Gimana nggak curiga, tahu-tahu datang, membuat Pram yang tadinya anti perempuan jadi seberani ini membawa pulang gadis dan menginap! Amazing kan?
"Emak sudah tau kasep bawa temen-temen ke sini?"
Pertanyaan Sum tak terjawab karena Pram sedang meringis geli saat di cubit Mentari dari belakang.
"Kenapa cubit-cubit? Gemes banget sama aku?" seru Pram.
Mendelik, Mentari beringsut mundur. Dia yakin Pram sedang ingin membuatnya menjadi serba guna dan serba salah. Serba guna untuk di jadikan teman healing dan teman hidup. Serba salah karena posisinya yang belum jelas di mata Sum. Maka dia merasa tidak bisa melawan, hanya tersenyum datar lalu menunduk malu.
"Belum, Mbok. Mentari belum siap, dia masih malu, sekarang aja deg-degan pake banget." Pram menoleh, ditatapnya muka si gemes yang menatapnya tajam, "iya kan sayang?"
Mentari menganggukkan kepalanya, tapi dalam hati ia mendesis tajam. "Nyebelin banget sih, Pram. Jelasin dulu pacar khayalan mu Pevita baru ngaku-ngaku! Kalo gini nih aku jadi berada di jalan yang salah! Ughh...," Dicubitnya punggung bawah Pram sambil meringis geli.
Pram balas mengelus punggung Mentari, "Jadi aku minta tolong diem dulu ya, Mbok. Biar aku sendiri yang jelasin ke emak, tentang Mentari dan cerita waktu aku di Bali. Sedih banget aku, Mbok." urai Pram sambil mengembuskan napas lelah.
"Jadi baper gue, sori, gue mau sendiri dulu, gue tinggal ke atas."
Pram berdiri, meninggalkan kesan patah hati yang teramat dalam sampai-sampai Sum yang maha mengetahui kesedihan Pram sepanjang patah hati karena Tatiana yakin si kasep lagi sedih banget dan Mentari adalah pelipur laranya.
"Sana hibur si kasep di atas, kasian sedih. Emak nanti ikut-ikutan sedih si bujang terus-terusan murung putus cinta. Sana, geulis ke atas. Mbok kasih ijin." suruh Sum.
Pram menaiki anak tangga sambil cengengesan. "Kena semua!"
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.