Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Enak aja.


__ADS_3

"Ya udah deh kalo gitu gue ke rumah elo sekarang, bro. Gue lagi nganggur nih, gue cek apa aja yang mau elo renovasi jadi besok tukang-tukang gue tinggal kerja!" kata Roni, menjawab keinginan Pram perihal renovasi rumahnya.


"Lagian baru tiga tahun jadi, mau elo ubah gimana? Terakhir ke rumah elo, semua masih bagus." imbuh Roni heran.


Pram tersenyum hangat sambil menyandarkan kepalanya di bahu istrinya dengan gaya.


"Istri gue baru hamil muda. Dia minta semuanya dari jaman gue bujang di ganti, Ron. Pusing nggak tuh? Tapi gue seneng banget akhirnya gue jadi calon bapak coyyy, jadi bantuin gue buat memenuhi keinginannya biar anak gue besok nggak jadi arsitek."


Mentari mengerutkan keningnya.


Hamil muda? Siapa yang hamil muda?


Pram menegakkan tubuhnya setelah membuat kemesraan di depan Tatiana dan kawan-kawannya sewaktu kuliah.


"Gue takut anak gue kalo cewek nanti jadi arsitek."


"Bagus kan anak elo jadi arsitek? Daripada kayak elo, juragan empang sama peternakan ayam. Lebih kasian tau bro." timpal Roni sambil memandangi gelagat Pram yang tetap nyaman meski Tatiana juga ngobrol dengan mereka seperti sedia kala.


Pram mengembuskannya napas. Yang penting jadi juragan, bos, CEO lebih kerennya.


"Kalo cowok nggak masalah kerjaannya memang membangun dan menyusun rencana. Lha kalo cewek, nggak ikhlas gue, anak yang manis dan imut-imut jadi arsitek, bagusan jadi ratu kayak istri gue gini."


"Elo emang lagi mabuk, Pram. Mabuk cinta, tapi baguslah. Demen gue lihatnya." puji Roni, tersenyum hangat.


"Jadi yuk balik yuk, udah cukup kita reuniannya. Udah lega banget gue, kita semua udah punya pasangan hidup masing-masing dan bahagia."


Roni beranjak seraya menggenggam tangannya dan mengulurkannya ke tengah-tengah.


"Tos dulu bro, sis."


Mentari kontan menatap suaminya, dia bukan anggota tongkrongan itu. Dia menganggapnya hanya tamu, sebab ia hanya menjadi pendengar sejak tadi. Mendengar gimana masa-masa satu tongkrongan itu masih solid semasa kuliah.


Aa pasti jadi ingat yang udah-udah.


"Ayo ikutan, terus pulang. Istirahat." Pram menjangkau tangan mentari dan menggenggamnya.


Kamu tetap yang utama, bini gue.

__ADS_1


Satu persatu dari mereka mulai berpamitan dengan menyentuhkan kepalan tangan mereka masing-masing. Sampai giliran, Pram Mentari dan Tatiana, Pram melepas tangannya dan membiarkan Mentari yang bersentuhan dengan kulit Tatiana.


Mentari tersenyum rikuh sambil kembali menggenggam tangan Pram.


Milikku, Pram milikku.


"Ayo, Aa."


"Balik dulu, bro, sis. Makasih untuk makan siangnya, tapi gue harap besok gak gini lagi ya." Pram mengedarkan pandangannya dengan raut wajah yang mudah di pahami semua orang.


Enyahkan Tatiana dari hidup gue!


"Besok kalo panen lele jangan lupa bakar-bakar Pram. Jangan lupa tuh!" teriak salah satu temannya berkemeja kotak-kota sambil lalu.


"Gampang. Ayo, Ron." ajak Pram.


Roni menepuk bahu Tatiana.


"Kita cabut duluan, Ti. Elo hati-hati di jalan ya. Salam buat suami lo."


Tatiana menatap kepergian sang mantan terindah dengan senyuman masam.


•••


Setibanya di rumah, Jeep Wrangler putih itu terparkir rapi di halaman depan rumah bersandingan dengan mobil hitam mengkilap milik Roni.


Pram menarik tuas rem tangan seraya menghela napas berat.


Mampus gue daritadi Mentari cuma diem terus. Mata cerianya bahkan senyap, nggak menyala-nyala seperti biasanya.


"Turun sayang, bikinin kopi terus mandi sendiri ya. Aa harus ngobrol dengan Roni." Pram memecah hening yang tercipta karena kehadiran Tatiana yang tiba-tiba ada tadi.


Mentari mengangguk. Mereka kemudian meraih barang belanjaan mereka di bagasi mobil dan bangku penumpang. Sesaat keduanya saling memaku tatapan, menyiratkan keresahan yang sama.


"Elo pasti yang ngundang Tatiana?" tukas Pram di gubuk bambu tempat Roni menunggunya.


"Kagak, enak aja elo asal tuduh. Cuma gue share di grub. Anak-anak ada yang ngasih tau dia kali, jadi dia ikut datang waktu tau kita-kita mau ketemu elo." jawab Roni santai, ia meluruskan kedua tangannya ke belakang sambil menelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa, elo masih dendam sama dia, bro? Udah lama banget juga kali kejadiannya, elo masih nggak ikhlas?"


"Sialan," Pram mendesis jengkel. "Gue sama Tari baru sebulan rumah tanggaan bro, dia sempat gagal nikah. Gue gak mungkinlah nyakitin dia dengan keberadaan mantan gue yang udah bikin gue hancur, mana kemarin dia ngambek parah nemuin foto Tatiana di lemari gue." urai Pram sambil mematikan ponselnya. Jaga-jaga, takut Mentari ngadu sama emak, dan emak menerornya.


"Dia kemarin juga ngacem mau balik ke rumah emak gue kalo tau masih ada jejak-jejak masa lalu di rumah ini. Mampus kan gue, sementara elo tau rumah ini dulu aku siapkan untuk siapa!"


Roni kontan terbahak-bahak melihat muka Pram kehilangan rona tengilnya.


"Elo parah banget sih kalo cinta sama cewek, bro. Lagian elo juga gila, udah tiga tahun lebih putus sama Tatiana kenapa masih elo simpen fotonya. Atau elo beneran sinting, Pram?" cibir Roni sambil geleng-geleng kepala. "Kasian istri elo!"


"Gue bakal lebih sinting kalo Mentari ninggalin gue daripada Tatiana dulu, bro. Cinta banget gue sama dia karena dia nggak akan seserius ini mau nikah sama gue setelah dia gagal nikah. Effort untuk move on-nya itu lho yang nggak mau gue hancurin."


Pram mengembuskan napas. Mentari memang kasian jika tidak bahagia bersamanya, terlebih segala impian indah bersamanya sudah ia susun secara sederhana seperti pertemuan mereka.


"Makanya itu bro, gue minta bantuan elo buat renovasi rumah ini. Buang semua warna biru karena gue benar-benar lupa menghapus semua jejak kenangan itu." kata Pram sungguh-sungguh, "Jejak kenangan itu sudah tamat riwayatnya. Cuma manusia tempatnya salah dan lupa kan, jadi gue berharap Mentari maklum kalo seandainya dia tahu arti warna biru buat gue."


"Oke, gue ngerti sekarang masalahnya." pungkas Roni, mengingat ada Mentari yang bisa saja nongol di belakang mereka secara tiba-tiba.


"Jadi elo minta ganti warna apa, terus apa aja yang di ganti?" tanya Roni.


"Netral ajalah, putih, cream, atau orange sekalian biar cerah." jawab Pram sembari mendesah lelah, "Jualin perabotan rumah gue, ganti yang baru, pokoknya gue mau baru semuanya."


"Banyak duit, lo!"


"Amplop nikahan kemarin bro. Gak ngerti keuangan gue aja elo, udah kayak ombak, pasang surut! Elah..., lama banget kopi pesanan gue. Atau jangan-jangan bini gue terus ngambek?" Pram sontak berlonjak dari gubuk bambu.


"Elo ikut ke dalam, bro. Lagi nggak aman gue kalo sendirian di dalam." ajaknya sambil menarik tangan Roni.


"Yuk, yuk. Dia sedikit berbahaya kalo lagi ngambek."


"Kenapa emangnya, bini elo main tangan?" tanya Roni dengan ekspresi terkejut.


"Nggaklah, gue ntar yang main tangan kalo dia dibiarkan begitu saja. Dahlah panjang ceritanya, elo kayak nggak tau aja bini ngambek gimana."


Roni yang teringat bininya di rumah kontan mengendikkan bahu dengan ngeri.


"Ngerti BANGET gue, Pram. Ngeri pokoknya mah. Tidur di luar elo pasti."

__ADS_1


Cih, enak aja!


__ADS_2