Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Hampir meledak.


__ADS_3

"Emang enak, sayang. Aku juga baru tau kalo ciuman itu bikin tegang!" Pram terbahak seraya menghindar dari kepalan tangan Mentari yang hendak melayang ke dadanya.


"Jangan main kasar atuh, geulis. Tenang, akang gak macam-macam kok. Akang mah mode jinak." seru Pram, ia menyambar bantal untuk menutupi badannya.


Mentari menggulung lengan, napasnya memburu dengan kesal, bibir yang harusnya ia berikan kepada sang suami malah menempel di bibir laki-laki gesrek yang terus terbahak-bahak geli itu.


"Akang-akang," seru Mentari, "Awas kamu kalo bilang sama orang-orang kita gak sengaja ciuman, aku gak mau kita di anggap aneh-aneh!"


Pram semakin terpingkal-pingkal melihat muka gadis itu malu sekaligus marah. Terlihat jadi gemas sampai khayalannya jadi jelalatan ke alam bebas, terlebih bibir kenyal dan lembut milik Mentari sekarang malah cemberut.


"Pram!" Mentari menginjak lagi kaki laki-laki itu kuat-kuat. Seketika Pram berteriak keras, sakitnya yang tadi belum hilang, sekarang di injak lagi, Pram mendesis lalu sadar gadis itu sedang menatapnya nyalang.


"Ngomong dong, jangan diam aja." sergah Mentari. Nyalinya harus menyala biar kantuk dan hembusan angin yang terasa syahdu di kamar itu lenyap.


Pram mengusap punggung kakinya yang merah seraya mendengus. Cewek itu benar sudah di luar zona kesempurnaannya sebagai resepsionis losmen.


"Dengar ya geulis, aku adalah calon suamimu, karena perlu kamu ketahui tadi aku sudah melamarmu lewat ibumu, beliau setuju hanya saja aku perlu menanyakan kepadamu langsung bersedia atau tidak." kata Pram, dia mencampakkan bantalnya ke kasur. Lantas merentangkan tangannya dengan muka usil. "Sini, pukul dadaku sesukamu. Aku bersedia kalo itu sanggup meluapkan emosimu akan semuanya. I'm oke."


Mentari geleng-geleng kepala sambil menatap Pram tajam-tajam.


"Gak mungkin ibuk setuju kamu ngalamar aku! Gak mungkin mereka percaya sama kamu secepat itu." sanggahnya. Lika-liku perjalanannya mereka belum seberapa.


Mentari mengerjap, tetap saja Pram merentangkan kedua tangannya, pengen di peluk sebenarnya, tapi malah di tinju. Pram mengusap dadanya yang lumayan sakit dengan dengusan napas pendek.


"Mereka percaya sama gue karena gue emang gak punya niat jahat di sini, Tari. Dan kedatangan gue mah jangan kamu anggap mubasir lah, anggap aja ini rezeki buat kamu. Buat gue juga."

__ADS_1


Pram berkata lembut, Mentari tertegun mendengarkan.


Mungkin saja pertemuan itu jawaban dari keresahan-keresahan mereka atas masalah yang sedang mereka hadapi. Mungkin saja Pram hadir untuk menjaga Mentari dari Bisma, dan Mentari sebagian jawaban Pram atas keresahan usianya yang sudah layak membangun rumah tangga.


"Mubasir? Memang kamu punya expired date?" balas Mentari sinis. Gadis itu menjatuhkan diri di kursi seraya melipat tangannya.


Pram tersenyum lunak, "Buat kamu gak ada sayang, aku bakal menunggumu siap, itu kalo kamu mau menerima lamaranku dengan ikhlas, kalo enggak, sekali saja aku kirim fotomu ke emak di kamar ini, debt collector mantu itu bakal nyariin kamu sampai ketemu!" Pram cekakakan.


Ketegangan Mentari di dalam jiwanya menipis dan dia cukup koperatif untuk menghabiskan waktu di kamar itu dengan Pram.


"Kamu ngancem-ngancem kayak gitu emang gak bisa manis dikit, Pram? Aku gak suka lah kayak gitu-gitu, walaupun kamu udah ngaku kalah, pastikan dulu kamu gak memaksa diri lagian aku mau sembuh dulu, Pram. Ini bukan hanya soal Bisma saja, tapi–"


"Aku udah tau!" Pram memotong kalimat Mentari, "pak Joko udah ngomong semuanya, Tari. Bapak kamu sudah mewanti-wantiku buat jagain kamu, aku yang bisa di percaya ini ya mau-mau aja." Pram tersenyum, "tolong jangan sakit hati gue udah tau masalahmu!"


Mentari cemberut. Lalu memandang jendela ketika bayangan seseorang berdiri di depannya.


Mentari menerima satu persatu mangkok yang Dara ulurkan di bawah teralis jendela. Kemudian ia taruh di meja, Pram yang sudah kelaparan lalu menyambar mangkoknya tanpa menunggu gadis yang merengek di keluarkan dari kamarnya.


"Bukain pintunya, Ra! Plis ntar aku kasih bonus 50%, aku beliin baju baru sama sepatu baru, pokoknya semuanya satu set baru di pasar." rayu Mentari dengan mimik berharap.


Di belakang Mentari, Pram memberi isyarat kepada Dara dengan geleng-geleng kepala.


Dara mengangguk patuh, sesuai intrupsi Pram karena ternyata sekongkol dengan Pram seru juga.


"Kata bapak ibuk kamu sementara di sini dulu, soalnya mereka baru ngurus pohon-pohon di halaman." urai Dara jujur. Joko dan Purwati memang sedang memangkas dahan-dahan pohon yang sanggup di jadikan Bisma pijakan untuk naik ke atas pohon. Mereka juga sudah mengguyur batang pohon rambutan dengan oli bekas mobil Pram. Hanya itu cara tercepat untuk meminimalisir kelakuan Bisma.

__ADS_1


"Tapi nanti malam kalian harus mengeluarkan aku dari sini! Aku gak mau tidur sama om-om, Ra." ucapnya mengundang tawa geli dari Pram yang


mengangkat wajahnya dengan mi yang belum tuntas masuk ke mulutnya hingga minya jatuh lagi ke dalam mangkok.


"Aku juga ogah kali tidur sama cewek kasar kayak kamu, Tar!" balas Pram. Tapi itu soal kecil baginya, Mentari belum tahu aja dia jago karate, dengan begitu Pram punya lawan yang seimbang saat duel di ranjang. Ck!


Mentari berbalik dengan kesal. "Apa yang kamu ucapkan itu gak sesuai pembicaraanmu tadi, kamu gak mau tidur sama cewek kasar tapi ngajak nikah! Hallow— logikamu dimana sayang, aku jadi ragu kamu benar-benar ngelamar aku karena kalah dan sanggup mencintaiku dengan tulus, tapi kamu hanya main-main aja." serunya lantang.


Mentari menghidupkan televisi, lalu duduk di tepi ranjang sambil menikmati semangkok mi. Sesekali dia melirik Pram dengan sinis, Pram yang duduk di dekatnya bahkan lututnya menyentuh kaki Mentari mendengus.


"Kamu kasar kalo lagi marah dan tertekan, sayang. Itu wajar dan aku maklum kok. Aku bersumpah. Aku terima kamu, baik yang lembut dan manja, atau yang galak dan kasar. Aku bisa mengimbanginya." Pram tersenyum lembut sambil mengusap punggung Mentari. "Jangan takut sama aku."


Pram tahu diri, apa yang terjadi hari ini pasti terhitung ada di benak Mentari, makanya ia mendadak beringsut dari samping Mentari.


"Nikmati waktumu, geulis. Kalo mau tiduran juga boleh kok, aku akan pura-pura nggak lihat." ucap Pram pengertian, dia sekarang duduk di kursi, menyilangkan kakinya seraya bersedekap dan memejamkan mata.


Mentari tak percaya laki-laki itu benar-benar merem, dia menghabiskan mi-nya dan menyelesaikan acara televisi. Tak acuh dengan Pram yang pura-pura merem tapi kebablasan molor beneran.


Mentari berjingkat-jingkat mendekati Pram. Dia mencondongkan tubuh, menikmati wajah Pram dari dekat dan memfokuskan matanya pada bibir Pram.


"Iya beneran bikin tegang, jantungku bahkan hampir meledak gara-gara kamu, Pram!"


•••


To be continue and happy reading.

__ADS_1


maaf kemarin libur.


__ADS_2