
Jantung Mentari berdetak kencang sewaktu mobil Pram bergerak meninggalkan acara pernikahan. Gadis berkebaya itu terlihat gusar, merasa bersalah juga merasa tidak nyaman memakai kebaya karena bagaimanapun pakaian itu identik dengan baju kebesaran orang nikah.
"Anggap aja kamu lagi ikut acara kartinian walaupun udah lewat dua bulan." seloroh Pram, geli, gadis itu benar-benar mau diajak kabur. Minta ke Dieng lagi. Jadi mau gimana lagi kecuali Pram harus menuruti.
Mentari membuang muka, terpaksa harus menjadi buku tamu padahal sejak di bentuknya rapat keluarga, dia sudah mewanti-wanti dirinya sendiri untuk terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan proses pernikahan hari ini. Sayang, semakin mendekat ke prosesi yang lebih sakral dan intim penuh kehangatan dia tidak sanggup mendengar bait-bait indah yang terlampau menyesakkan dada.
"Yakin beneran mau ke Dieng, atau kamu sebenarnya cuma mau sendiri?" tanya Pram sewaktu gadis di sebelahnya hanya termenung.
Mentari mengembuskan napas dengan kentara. "Kamu keberatan kita ke Dieng, Pram? Aku ingin membeku disana."
Pram ikut mengembuskan napas panjang. Mengerti kenapa si gemes yang geulis itu gelisah sebab dia juga pernah berada di posisi menyebalkan itu. Ingin membeku, tapi itu sudah lama. Ketika kesendirian terus ia nikmati di antara sepi dan indahnya panorama alam dalam kesedihan, sendiri tidak benar-benar bisa mengobati dan terkadang justru mengundang kesedihan lainnya.
"Aku gak keberatan kalo kamu tetap mau kesana, tapi boleh aku pinjam hpmu sebentar?" tanya Pram.
Mentari menoleh dengan enggan, "Aku tidak bawa apa-apa Pram, kamu gak ingat gimana kita kabur tadi. Dara pasti ngadu sama bapak."
"Tapi kamu ingat nomer orang tuamu? Aku mau tanggung jawab soal kaburmu hari ini."
Pram menatap Mentari sekilas. Untung gadis itu mengangguk, bisa ketar-ketir juga kali kalau seumpama Pram gagal dapat izin membawa anak pak Joko kabur.
Pram menghentikan mobilnya di bahu jalan. "Nih tulis nomernya, ntar aku yang ngomong." dia mengulurkan ponselnya.
Mentari memandang ponsel Pram yang wallpaper hpnya adalah foto keluarga. Sejenak, Mentari menerka bagaimana Pram sesungguhnya.
"Itu keluargaku, Tar. Emak yang pakai kerudung ungu, yang pake peci bapak, yang lain itu adik-adikku termasuk adik ipar. Aku sendiri masih jomblo, makanya emak demen banget nyuruh aku buru-buru nikah. Aku le losmenmu juga karena hal itu." urai Pram seraya menikmati keterkejutan di wajah Mentari.
"Jadi hobimu emang kabur, Pram?"
Pram mendelik dan terbahak. "Geulis, sepertinya kita perlu kenalan dulu biar jadi temen beneran. Kamu mau?"
Pram mengulurkan tangannya. Mentari memutar bola matanya jengah walau sambil menggenggam tangan si gesrek bin tengil itu.
"Pramoedya Aji, hobi kabur-kaburan kecuali kalau emak udah dapat calon besan." ujarnya lalu meringis.
"Astaga Pram!" Mentari menarik tangannya cepat-cepat, "kamu terlalu jujur jadi orang." serunya, terkejut pula dengan kata besan.
"Aku mulai belajar untuk slalu jujur dengan apa yang mau aku katakan, Tar."
"Kalo gak mau gak jujur?" sahut Mentari lalu menyipitkan mata.
__ADS_1
Pram terbahak lalu menyandarkan tubuhnya di jok mobil dan bersedekap.
"Pengalaman dulu cuma ngomong apa yang penting-penting doang dan ternyata bagi cewek itu gak cukup buat percaya! Jadi mau gak mau sekarang obrolan gak penting pun aku berusaha jujur apa adanya." akunya diiringi senyum getir.
"Buruan tulis nomernya, keburu nikahan saudaramu jadi kasus penculikan ntar. Dan gue bakal jadi tersangka utamanya! Ogah gue, niat hiling jadi pusing." celetuk Pram. Sopir itu terpaksa menahan sabar saat penumpangnya tetap diam saja, melamun malah.
"Mentari, geulis. Buruan!"
"Jadi itu alasanmu slalu blak-blakan?" ucap Mentari sembari mengetik nomer ibunya di ponsel Pram, "biar aku sendiri yang bicara Pram. Tapi di luar."
"He'eh terserah kamu yang penting masuk lagi ke dalam! Kalau gak masuk, aku masukin sendiri nanti."
Mentari keluar tanpa alas kaki dan bergeming di belakang mobil Pram.
Pram menggeleng, sengaja memberi ruang bagi Mentari bicara toh dia sudah tahu apa yang akan Mentari bicarakan dengan orang tuanya.
•••
Purwati menarik ponselnya dari tas kecil yang dia bawa kemana-mana sebagai cara terbaik untuk jaga-jaga jika Mentari menghubunginya kapan saja tanpa jeda waktu.
"Assalamualaikum, siapa?" tanya Purwati heran.
"Ya Allah Gusti, Tari! Kamu kenapa pergi, Nduk?" tanya Purwati dengan nada khawatir.
Ragu-ragu Mentari tersenyum.
"Aku – aku tadi gak kuat, buk. Rasanya aku jadi kepikiran soal pernikahanku yang batal kemarin. Jadi aku pulang sama Pram. Maaf ya buk udah bikin kalian semua khawatir. Tari cuma gak mau tiba-tiba nangis."
"Ya Allah, Tari." Purwati menghela napas panjang, merasa duka itu masih ada. "Kalau kamu gak bisa dari kemarin bilang sama ibuk jadi gak perlu repot-repot ikutan ke sini. Sekarang kalian dimana?"
"Masih di jalan, Tari mau ke Dieng sama Pram. Boleh buk?" tanyanya minta izin.
Purwati mengangguk, "Boleh, tapi ibuk bicara dulu sama Pram!" pintanya tegas.
Mentari menoleh ke belakang, bayang-bayang Pram hanya terlihat bahunya saja dari tempat Mentari mengintip.
"Tapi ibuk jangan bilang soal Tari batal nikah ya, Tari malu nanti, dipikir Tari bukan cewek baik-baik." pintanya dengan nada memelas.
Purwati mengembuskan napas lelah. "Iya, Nduk. Sekarang mana Pram?"
__ADS_1
Mentari kembali masuk ke mobil. Pram menyambutnya dengan senyuman.
"Udah? Mereka marah gak?"
"Ibuk mau ngomong sama kamu Pram, boleh?"
"Siap!"
Pram langsung menempelkan ponselnya di samping telinga.
"Ibuk." ucap Pram lembut seakan benar-benar menyapa calon mertua.
Rasa-rasanya Purwati benar-benar butuh istirahat. Entah kenapa satu nama itu dari kemarin mengganggu pikirannya, terlebih Joko pun ikut membahas bagaimana sikap laki-laki itu ketika jumpa pertama dengan mereka.
"Dik Pram ingat kata ibuk kemarin?" tanya Purwati.
"Aku sering makan ikan buk, jadi pinter." kata Pram, sementara Purwati yang tidak paham istilah makan ikan bikin pintar menarik kedua sudut bibirnya menjadi ekspresi datar yang ogah diajak pusing-pusing mikir lagi.
Sudah cukup Dara saja yang bikin dia panik.
"Saya ingat, ibuk. Pak Joko pun sudah ngomong sama saya tadi, jadi ibuk tenang aja."
Mentari mendelik. Sontak pikirannya langsung berlalu lalang menerka apa saja yang bapaknya bicarakan dengan Pram.
Bapak ngomong apa?
Purwati lalu melirik ke arah suaminya. Joko tersenyum dan mengangguk setuju.
"Tenang aja buk, dik Pram bisa di percaya."
"Pulangnya jangan malam-malam, " Purwati menasihati, "sekalian kami pulangnya masih besok pagi. Jadi kalian harus mawas diri di losmen!"
"Siap 86!" balas Pram dengan semangat, lalu tersenyum sembari menaruh ponselnya ke kantong kemejanya. "Yuk berangkat."
Mentari menggeleng cepat. "Bapak bicara apa sama kamu Pram?"
•••
to be continue and happy reading.
__ADS_1