
Dalam perjalanan ke Dieng yang masih harus menempuh setengah perjalanan lagi, Mentari lebih memilih diam. Dia kehilangan muka di hadapan Pram.
Capit gorengan itu sudah terkuak faktanya, tetapi masih ia simpan di keranjang dan belum ia cuci sebanyak tujuh kali dan pasti habis itu akan dia musemumkan sebagai benda yang telah terkontaminasi oleh cangcut Pram.
Sementara Pram sesekali mengusap lengannya dengan senyum malu-malu, sekonyong-konyong ia merona.
Pelanggaran kesopanan yang dilakukan Mentari masih bisa dimaafkan kok, tapi membuat ketenangannya menghilang. Terlebih bintang jatuh itu juga ia harapkan kedatangannya di waktu-waktu yang telah di tentukan oleh alam semesta.
"Tari." panggil Pram.
Mentari menoleh, "Apa?" jawabnya sambil berusaha tampak sabar dan biasa saja.
"Kita mau kemana?" tanyanya bingung karena setibanya di tugu selamat datang di Dieng, banyak tempat-tempat wisata yang menarik untuk di kunjungi.
"Semuanya bagus, Pram. Tapi yang paling iconic dari Dieng memang candi Arjuna, kawah Sikidang, atau kalo kamu banyak waktu kamu bisa sewa guide dari Dieng Plateau untuk mengelilingi tempat ini karena satu tempat ke tempat lainnya memiliki cerita yang berkesinambungan." urai Mentari, memang tidak cukup hanya dengan setengah hari menikmati keindahan tempat yang mendapat anugerah para Dewata dan menjadi saksi bisu sejarah budaya peradaban agama Hindu di tanah Jawa era Mataram kuno.
Melihat kondisi Mentari dan hawa dingin di dataran tinggi Dieng ini pasti membuatnya tidak nyaman untuk berlama-lama mengeksplor semua tempat. Pram tersenyum.
"Kita ke kompleks candi Arjuna aja, Tar. Lagian cuma satu jam dari rumahmu, kita bisa kesini lagi. Soalnya jiwa petualanganku meronta-ronta lihat banyak gunung disini."
Mentari dengan konyol menunduk lalu menutup dadanya dengan tangan sebagai refleks mendengar kata gunung.
"Pede banget kamu!" celetuk Pram, lalu menggelengkan kepala. Menahan senyum. "Udah aku lihat dari tadi!"
"Udah aku bilang jangan jujur banget kenapa sih, bohong lebih bagus." sergah Mentari.
Pram kembali terkekeh. "Jujur adalah pilihanku, lagian kamu boleh kok jujur dengan apa yang ingin kamu bicarakan tentang ku. Aku terbuka, santai, dan laki-laki dewasa mudah memahami persoalan-persoalan anak muda seusiamu, Tar." katanya menyimpulkan sambil mendesah.
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa?"
"Hmm."
"Ngomong aja, semudah senyuman resepsionismu." Pram memarkiran mobil. Menarik rem tangan lalu melepas sabuk pengaman. Dia meneguk kopi instan botolan lalu memasang senyum andalannya sambil menatap Mentari.
"Serius, aku gak akan tersinggung." kata Pram lembut.
"Aku gak mungkin membicarakan tamuku sendiri secara frontal, Pram. Ada aturan mainnya."
__ADS_1
Mentari membasahi bibir, merasa kurang percaya diri. Meski sejujurnya banyak hal yang ingin dia tunjukkan.
"Kamu kayak emakku, Tar. Sukanya ngosip di belakang," seru Pram, "tapi terserah kamu, karena manusia tidak akan bisa saling memahami jika mereka tidak merasakan penderitaan yang sama."
Denyut di jantung Mentari bertambah.
Mungkin begitu manis jika ia membuka diri. Mungkin juga lebih baik untuk memulai usaha mengenyahkan Bisma dari pikirannya.
"Nggak semua orang punya penderitaan yang sama, Pram. Kamu tidak akan mengerti." kata Mentari, merasa dadanya kian sesak.
Pram mengangguk, "Aku juga punya penderitaan, nanti aku cerita sambil jalan karena tempat ini kayaknya cocok buat galau-galauan." selorohnya sambil tersenyum.
Mentari melepas sabuk pengamannya, menghirup napas dalam-dalam sebelum keluar.
Pram mengitari mobil, menghampiri Mentari. "Genggam tanganku." Ia mengulurkan tangannya.
"Untuk apa?" jawab Mentari enggan.
"Aku akan menuntunmu, geulis. Kalo gak lepas hak tinggimu dan aku akan tenang." komentar Pram sambil menunjuk ke bawah.
"Untuk hal ini aku sudah terlatih, Pram. Kamu pikir mentang-mentang aku di desa aku gak bisa pakai hak tinggi." balas Mentari sinis.
Pram memutar bola matanya dengan lucu, padahal niatnya cuma ingin membuat gadis itu tidak malu kalau-kalau tersandung batu atau terjengkang lagi.
Mentari menatap punggung Pram dengan kesal, "antara perhatian dan modus beda tipis. Udah tadi lihat-lihat dadaku. Dasar laki-laki sama aja!" racaunya.
Pram berhenti dan berbalik. "Ayo, Tar."
"Sabar." Mentari menarik kain jariknya, demi menutupi rasa malunya di tatap orang yang memandangnya takjub dan heran, dia menebar senyum manis. Bahkan menganggukkan kepalanya, menyapa. Orang-orang tadi pun mau gak mau membalas senyuman Mentari dengan canggung.
"Emang jago akting nih cewek." puji Pram.
Mengunyah ego, Mentari memandang Pram sambil memberi senyum andalannya. Pram ikut menatap gadis itu beberapa jenak dengan mata tajamnya.
"Mau nikah dik?" ucapnya tiba-tiba.
Mentari terperangah. Terlampau kaget dengan kalimat serupa ajakan itu.
Netra mereka bertemu. Dua pasang mata sarat kehampaan dan luka itu saling menatap dalam-dalam. Begitu lekat. Memaku waktu cukup lama lalu seorang fotografer yang memandang drama itu menjepret mereka.
__ADS_1
Blitz menciptakan cahaya yang mengejutkan. Mentari dan Pram tergeragap lalu sama-sama menatap fotografer yang meringis lebar.
"Cetak foto murah kakak." katanya promosi. "Atau sewa jasa prewedding juga boleh."
Pram tersenyum geli, Mentari membuang muka. Lemah, dia mendahului Pram ke kompleks candi dieng yang tetap mempesona meski sudah berkali-kali dia datang ke sini dengan Bisma.
Pram mengangkat jarinya, oke. Dia berbalik, menyejajarkan langkahnya dengan Mentari sementara fotografer yang ketiban rejeki mengikuti mereka tanpa kentara.
Pram yang baru pertama berkunjung ke Dieng, memandangi semuanya dengan takjub. Sampai tidak ada pembicaraan yang terjadi. Baik Pram maupun Mentari tenggelam dengan pikiran masing-masing dan terjebak dalam kenyamanan mereka sendiri meski pose mereka berdua sangat menguntungkan si fotografer untuk menjepret momen itu.
Mentari melirik laki-laki di sebelahnya dengan ekor mata. Pram terlihat tampan saat berkonsentrasi dan diam. Tidak berisik dan mengganggunya.
"Pram." panggil Mentari pelan.
"Apa?" Pram menoleh dan tersenyum.
"Bukannya tadi kamu mau cerita tentang penderitaanmu?"
"Ya ampun, Tari! Aku baru aja mau mengagumi negeri di atas awan ini, tapi kamu malah ngajak aku jatuh ke bumi bareng-bareng. Hadoh-hadoh. Sungguh teganya dirimu." cerocos Pram sambil menggeleng. "Nanti di rumah, batal hiling aku kalau bahas itu sekarang!" imbuhnya sembari menghela napas.
"Kamu sendiri yang bilang, aku cuma nagih." omel Mentari.
"Iya geulis, sabar. Lagian pengen tau aja sih, mau ngasih solusi emangnya?" goda Pram, menyipitkan matanya.
Mentari menggeleng. Lantas memalingkan wajah, "Untuk apa aku ngasih kamu solusi kalau urusanku masih belum tau kapan berhentinya, Pram." gumam Mentari.
"Nanti kita bisa berbagi solusi, soalnya aku sudah khatam baca bukunya Mario teguh sama Mario Puzo, Tar. Banyak solusi keren yang bisa kita coba untuk move on dari penderitaan kita."
"Aku tau Mario teguh, Pram. Tapi enggak tau Mario Puzo." aku Mentari dengan polos sembari melepas sepatu hak tingginya. Pegal sekaligus di bagian tumitnya lecet.
Pram meringis lebar, "Mario Pazo itu penulis novel kriminal–mafia, Mentari. Cewek kayak kamu gak mungkin suka. Cuma bagi cowok balas dendam sama pengkhianat itu wajib, Tar. Gak ada kata ampun sebelum darah dan kata maaf terucap dari mulut pengkhianat." kata Pram serius.
Mentari lalu memandang ngeri Pram. Yang di tatap lalu salah tingkah, maklum kalau si gemes jadi takut.
"Kalo sama kamu aku jinak-jinak merpati kok, Tar. Coba deh sentuh, ntar aku terbang." kata Pram, merentangkan kedua tangannya membuka diri.
Mentari memutar bola matanya malas. Namun dia dengan iseng menyentuh dada Pram. Pram terpanah, dia mengulum senyum sembari memalingkan wajah dengan rona merah di wajahnya.
"Katanya terbang, bohong kamu Pram!"
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.