
Pram menyipitkan matanya sembari mengunyah. "Kenapa emangnya mukamu? Kepedasan atau lagi merah kayak telur ayam?" tukasnya asal-asalan.
"Telur ayam?" Mentari tersenyum sedih. "Bisa gak kamu bohong aja Pram, kejujuranmu itu bikin semuanya jadi gamblang!"
Mentari melanjutkan sarapannya yang tertunda, bila tak ada Pram sudah ia ambil lagi sisa tempe yang masih ada itu. Sayang dia malu. Mentari manaruh mangkoknya ke meja.
Pram menyipitkan mata, berusaha mencerna sudut pandangnya Mentari akan kejujurannya. Tapi alih-alih bertanya, Pram menghabiskan sotonya lebih dulu. Baru setelah satu gelas air putih ikut habis dan menumpuk mangkoknya di atas mangkok Mentari,
ia tersenyum dan menyilangkan kakinya.
"Bukannya cewek suka kejujuran, Tar?" tanyanya, menunggu dengan cengiran tak berdosanya.
Mentari membiarkan waktu bergerak mengisi jeda sebelum ia ikut menyilangkan kakinya dan menahan berat tubuhnya dengan kedua tangannya di tepi kursi.
"Setiap cewek menginginkannya, Pram. Jelas, tidak perlu ditanyakan lagi, begitupun laki-laki. Tapi kejujuran itu hanya untuk yang bersifat dari hati saja, untuk yang sepele aku rasa tidak perlu." jelas Mentari dengan muka datar.
Pram tersenyum maklum, namun dia menggeleng kemudian.
"Kejujuran bisa di mulai dari hal-hal yang sepele, Tar. Baru setelah itu kita bisa memulai kejujuran yang lebih besar dari sekedar kata hati. Itu sih menurutku, karena sepertinya cowok juga mulai gak bisa di mengerti ya?"
Pram menaik-turunkan alisnya dengan seringai usil yang tidak luntur juga dari wajahnya meski pembicaraan itu terbilang serius.
Mentari mengangguk dan buru-buru berpaling. Malas berdebat, takut perbedaan pendapat itu malah membuat tamunya tidak nyaman. Padahal sangat bisa dia pastikan kejujuran Pram untuk hal sepele akan membuat pipinya terus merah seperti warna telur ayam.
Mereka bertukar senyum setelah saling memahami karena pasti ada alasan dari setiap pendapat yang berbeda meskipun tujuannya sama. Jujur.
"Aku bisa terima alasannya, mungkin ada hal-hal yang udah bikin kamu slalu jujur apa adanya, Pram." Mentari memetik bunga marigold yang tumbuh di belakang kursi taman.
"Kamu lebih dewasa dariku, sepuluh tahun, Pram. Jadi aku rasa sudah banyak kejadian yang membuatmu menyimpulkan seperti tadi sementara aku, aku mungkin gak sebanyak kamu."
Pram ikut memetik bunga marigold seraya menghirupnya seperti yang dilakukan Mentari, tapi yang terjadi lelaki itu sontak bersin-bersin.
__ADS_1
Mentari meringis. "Kamu gak alergi serbuk sari kan, Pram?"
Pram menyumbat hidungnya dengan tisu seraya menggeleng. Tidak tahu, pikirnya. Malah baru tahu kalau ada alergi serbuk sari saking urusannya hanya soal peternakan dan perikanan.
"Semoga enggak, aku tadi udah minum jamu kuat kok. Gak mungkin karena serbuk sari aku jadi tumb— hak–cinggg–hak–cinggg..." Pram menggeram, malu, dia menuju kran air dan membersihkan wajahnya yang terasa gatal sekali.
Mentari menunduk, tersenyum geli sekaligus kasian.
"Pram - Pram." Mentari geleng-geleng kepala, sadar tamunya itu pasti tidak nyaman sekarang.
Mentari beranjak, menghampiri Pram yang sibuk bersin berulang-ulang.
"Sebaiknya kamu ke kamar, Pram. Istirahat. Sekalian aku mau ambil baju-bajumu yang kotor."
"Tar, jadi gimana wajahku sekarang? Apa udah semerah wajahmu tadi?" seloroh Pram sembari meraba-raba wajahnya muncul ruam-ruam merah.
Alis Mentari nyaris bertaut.
Pram kembali bersin-bersin, kehilangan semangat bahkan untuk sekedar berdiri dengan tegak. Dengan langkah lemas dia mengikuti Mentari ke kamarnya.
"Aku ambil baju kotornya, Pram. Ada permintaan khusus?" Mentari mengangkat keranjang rotan sintetis berbentuk tabung di dekat lemari. Sementara Pram langsung menjatuhkan diri ke kasur. Membenamkan tubuhnya ke dalam bedcover dengan susah payah seraya memejamkan mata.
"Gak ada, Tar. Cuci biasa aja! Tapi, hehehe. Ada barang yang bikin kamu terbayang-bayang nanti." seru Pram, bibirnya terangkat membentuk senyum setengah mesum.
Mentari yang belum menyadari itu sontak menaruh keranjangnya lagi ketika melihat sampah kulit kacang dan cangkir-cangkir kotor di meja tv.
"Pram, kamu gak keberatan aku bersihin kamarmu sekarang?" tanya Mentari rikuh sewaktu Pram benar-benar memejamkan matanya.
"Pram, are you oke? Butuh obat?" Mentari mendekat, dia tatap ruam-ruam merah di wajah tamunya yang sekarang mirip bocah yang perlu perhatian ekstra.
"Aku beliin obat dulu ya, habis itu baru beres-beres kamarmu. Gak masalah aku tinggal sebentar atau kamu butuh sesuatu dulu, Pram?"
__ADS_1
Pram mengangguk lemah. Detik itu juga sifat tengil bin gesreknya sudah pecah total tergantikan dengan wajah minta dikasihani gara-gara serbuk sari. Pram membuka matanya yang berair.
"Teh hangat boleh, Tar. Makasih."
"Ada lagi?" tanya Mentari biar sekalian.
"Emak."
"Emak?" gumam Mentari. Satu kata yang sontak membuatnya mengulum senyum.
Pasalnya si tengil itu langsung memeluk guling di sampingnya seolah-olah benar membutuhkan ibunya sekarang.
"Kangen emak."
Mentari menghela napas. Ditinggalkannya Pram untuk membuat teh hangat di dapur.
"Apa mungkin sebelum Pram kesini dia ribut sama ibunya? Terlebih waktu itu dia nyuruh aku jadi pacar bohongan? Jangan-jangan...," pupil matanya melebar.
Mentari kembali masuk ke kamar nomer satu. Menaruh tehnya di meja seraya memastikan Pram benar-benar tidur sebelum ragu-ragu menyentuh keningnya.
Mentari memejamkan mata sewaktu telapak tangannya menghangat. Suhu tubuh Pram meningkat.
"Pake demam lagi, terus jamu kuat tadi efeknya apa Pram!!!"
Mentari membuang napas panjang, harus buru-buru ke apotik selagi Pram tidak semakin parah.
"Lagian juga udah beda pendapat, tapi ikut-ikutan ngendus-endus bunga. Udah mirip kambing tadi yang penasaran sama apa saja kamu, Pram." kekeh Mentari dalam hati.
•••
To be continue and happy reading.
__ADS_1