
Joko keluar dari kamar Mentari untuk menemui Pram lagi. Ada ketertarikan pada laki-laki itu yang menurutnya pintar membuat Mentari tersipu-sipu dan senang dengan cara yang berbeda.
"Dik Pram." panggil Joko.
"Ya pak," Pram mengangkat wajahnya dari layar ponsel, "sudah dapat izin dari Mentari pak?"
Lelaki paruh baya yang begitu bersyukur atas batalnya hubungan Mentari dan Bisma itu mengangguk.
"Anakku itu masih perawan dik Pram, usianya memang sudah dua puluh lima tahun. Dia sudah paham isi dari cangcutmu itu."
Pram sontak terkejut. Kejujuran keluarga ini begitu luar biasa, sebelas dua belas dengan Asih dan Bagyo lah. Tapi dia suka kejujuran yang apa adanya itu biar sama sepertinya.
"Aku minta maaf, pak. Bukan maksud menodai pikiran Mentari dengan cangcutku itu, cuma tadi aku alergi serbuk sari jadi lupa mindahin itu ke tempat privasi."
Joko menepuk-nepuk pundak Pram. "Santai, tidak apa-apa, bapak justru senang si Tari banyak kegiatan dan kepikiran sama cangcutmu itu. Jadi bisa lupa sama yang dulu-dulu." katanya, tersenyum getir.
Pram terpana, takjub mendengar pernyataan pak Joko. Sekarang entah siapa yang patut menari di atas urusan cangcut yang bikin ngakak. Jelas, meski dia mengangguk, dia begitu penasaran kenapa alasannya.
"Mentari gagal nikah!" bisik Joko, "calon suaminya selingkuh."
Pram terkejut bukan main. Gejala patah hati itu merembet cepat dibenaknya. Menyentuh luka hatinya sendiri, sakit dan sesak langsung menyebar ke seluruh dadanya. Detak jantungnya pun meningkat.
Sadar, sebagai laki-laki yang dikhianati sudah sesakit itu rasanya, apalagi cewek, gagal nikah, dengan kasus yang sama Mentari masih bisa senyum dan semangatnya oke, atau sebenarnya Mentari hanya terpaksa ramah demi totally perfectly?
Pram tersenyum getir. Cemen banget gue, beneran deh Mentari yang lebih butuh hiling daripada gue, pikirnya sembari menghirup napas dalam-dalam.
"Aku turut prihatin, pak." kata Pram sekenanya.
"Bapak justru senang, Bisma itu kasarnya cuma mau disayang-sayang tapi tidak mau rekoso. Kamu paham dik Pram?" Joko berdiri setelah melihat Purwati keluar rumah. "Sudah buk'e?"
"Sudah pak'e, Mentari lagi mandi." Purwati menatap Pram penuh penilaian setelah tadi hanya sekilas karena khawatir dengan putrinya.
Joko mengangguk. Pram berdiri, menyiapkan diri jika tiba-tiba Purwati ikut protes mengenai sikap dirinya disana. Kalaupun dipikir-pikir lagi, dia gak kurang ajar kok, cuma suka kebablasan ngomongnya, suka on point dan bagi Mentari yang sudah lama tidak bercengkrama dengan laki-laki terlebih yang sikapnya seperti Pram ini, wajar sekali dia hanya bisa tersipu-sipu mendengar celotehannya.
"Dik Pram ini bisa kami percaya untuk tidak macam-macam di losmen ini?" tanya Purwati serius.
__ADS_1
Pram mengangguk tanpa ragu. "Bisa, pak, bu. Aku orangnya amanah kok soalnya kalo macam-macam urusannya ribet, emak pasti ngomel-ngomel setiap hari!"
Purwati dan Joko saling bertatapan. Dirasa memang Pram terlihat lebih dewasa dari Bisma dan terlihat biasa-biasa saja. Mereka mengangguk.
"Besok pagi-pagi sekali Mentari harus ke rumah budenya, dandan untuk ikutan jadi buku tamu, jadi dik Pram kalau mau ikut bisa disesuaikan jamnya, bawa kemeja to?" tanya Joko, "kalau tidak, nanti minta Tari untuk mencarikan kemeja batik punya saya di lemari. Kayaknya muat yo buk'e?"
Joko memandangi tubuhnya dan tubuh Pram berganti.
"Kayaknya muat. Coba—"
"Aku bawa kemeja, pak, bu." potong Pram, takut merepotkan Mentari dan membuatnya tambah gemes.
Joko menurunkan tangannya, mengurungkan niat untuk mengukur punggung Pram.
"Bagus, kami pergi dulu dik Pram. Sudah di tunggu pisangnya untuk pasang tarub."
Joko lagi-lagi menepuk pundak Pram, seakan-akan benar-benar mempercayai laki-laki itu untuk sekedar bersama putrinya dalam sepinya losmen.
Pram sigap membawakan lagi satu tandan pisang raja keluar dari losmen. Ia menaruh buah itu kembali ke keranjang besi dan tersenyum lebar.
"Boleh-boleh, tapi besok setelah acara nikahan selesai. Gimana, apa masih nginep disini?"
"Masih pak, masih lama disini. Sekalian, kalau bekas galian tanah di samping rumah itu boleh aku dijadikan kolam ikan? Sayang itu kalau cuma di pakai buang sampah."
Pram kembali merasa semesta terus berpihak padanya hari ini sewaktu
Joko dan Purwati mengangguk cepat tanpa ragu.
"Dulu itu memang bekas kolam ikan nila dik, tapi coba tanya si Tari nanti. Kami pergi dulu." kata Joko buru-buru, bapak satu anak itu lantas menggeber motornya sampai suara khas dari motor RX-King yang nyaring membuat Pram terkekeh geli.
"Keren bener dah, tapi sekarang bisa gue pastiin si gemes makin males ketemu gue setelah kejadian cangcut dan kondangan besok."
Pram bersiul, obat yang sudah ia minum cukup mengurangi gejala alerginya jadi semangatnya oke lagi.
Pram kembali masuk ke dalam losmen, dia tercengang mendapati si gemas bergeming di depan rumah pribadinya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Mentari kenapa?" tanyanya sambil menghampirinya, "sedih di tinggal ibu sama bapak lagi?"
"Aku sedih kamu harus ikut-ikutan pergi ke kondangan!" balasnya dengan ekspresi masam.
"Aku kan di undang bapakmu tadi, lagian enak, kamu gak perlu ke pasar dan masak pagi-pagi. Besok kita tinggal prasmanan. Bukannya kita sama-sama enak dan senang?" urai Pram tanpa beban.
Mentari berdecak, merutuki kebodohan Pram yang berlagak sok paling benar dan hanya kepikiran tentang prasmanan.
"Apa kamu gak kepikiran kalau di acara nikahan banyak bunganya Pram?" tanya Mentari sinis.
Pram sontak menepuk jidatnya, dia lupa akan bunga-bunga yang pasti akan memenuhi area di pernikahan. Tapi hidup ini slalu ada jalan menuju Roma, atau ke Italia, bahkan ke hati Mentari. Artinya slalu ada solusi dan akal sehat Pram sudah menemukan jawabannya.
Mata Pram seketika berpijar. Pram meringis, "Besok aku pake masker, kamu setuju?"
"Kalah lagi, kalah lagi." rutuk Mentari dalam hati sembari memandangi mata Pram dalam-dalam, "Terserah kamu Pram, sekarang biar aku ganti seprai dan bedcover di kamarmu. Kamu tunggu di luar!"
Pram mengangguk meski sedikit enggan.
"Iya aku tunggu di luar, kalau di dalam kamu pasti tambah ngambek sama aku! Terus — gak jadi deh. Sana ke kamarku, tapi aku mau tanya sesuatu sebelum kamu kerja, Tar!"
"Apa?" tanya Mentari malas. Toh pasti pertanyaan dan permintaannya aneh-aneh.
"Boleh aku pakai bekas empang di samping rumahmu untuk pelihara ikan?" tanya Pram ragu-ragu. Takut di tolak, terlebih si empunya losmen lagi ngambek.
Mentari mendengus. "Kamu hanya seminggu disini Pram, untuk apa pelihara ikan disini?" Pasti cuma mau nambah-nambah kerjaanku, imbuhnya dalam hati.
"Aku juragan empang, Tar. Lihat kolam kosong jiwaku meronta-ronta, lagian lebih bagus isinya ikan daripada sampah. Boleh ya, semua aku tanggung. Cuma waktu aku tinggal keluargamu yang urus. Gimana?"
"Terserah kamu Pram, yang penting berhenti bikin aku darting dan khawatir! Bisa?"
"Bisa-bisa, Tar. Eh, tergantung kondisinya." Pram cengengesan, Mentari yang sudah diambang kesabaran langsung melengos pergi dengan gaya kenes.
"Juragan empang, aku bikin kamu gak betah disini! Lihat aja."
•••
__ADS_1
To be continue and happy reading.