Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Menenangkan hati Pram


__ADS_3

Mentari tergelak akan keterkejutan Pram atas sikap Dara dan Maxime. Sebagaimana umumnya orang jatuh cinta tak waras lainnya. Namun, Dara dan Maxime cukup waras untuk terlihat sebagai teman baik saja. Cuma tingkah keduanya yang cukup luwes berdepetan membuat Pram langsung menajamkan matanya.


"Mak yakin mereka cuma teman baik?"


Asih memandangi Dara dan Maxime, lalu ke wajah brewokan yang slalu ingin dia jambak jika kesal. Asih menahan geli akan sikap anaknya yang slalu merasa terancam dengan kehadiran Maxime di dekat Mentari. Padahal sudah jelas, apalagi yang perlu di ragukan dari cinta Mentari untuknya. Wanita itu sebentar lagi menjadi ibu untuk anaknya.


Asih menuangkan kuah opor ayam ke piringnya sambil bicara.


"Cinta slalu menemukan pemiliknya, Pram. Terlebih bila cinta itu datang dari dua hati yang niat!" Asih tersenyum lebar, "Maxime sudah menyalami bapakmu untuk meminta restu berteman baik dengan Dara. Apa itu tidak cukup menjawab pertanyaanmu?"


Pram langsung memberikan tatapan yang lebih parah dari sekedar terkejut.


Dara cekikikan. "Maaf ya, om. Tapi sungguh kami cuma teman baik dan kalo om gak sudi dan masih takut mas bule mengangumi Mentari, ingat lagi ada anak om yang bentar lagi nongol. Baby little sunshine pasti jadi bulan-bulanan om daripada ngurusin Maxime yang gak mungkin gangguin Mentari. Udah aku yang jadi pawangnya." aku Dara dengan bangga. Ia tersenyum jenaka ketika tatapannya beralih pada Maxime.


"Lagian mas bule aja hormat sama bapak dan emak, om kenapa sih takut banget. Tar, suami kamu tuh. Kasih kepercayaan napa kalo kamu itu cinta mati sama om." seru Dara setelah beralih ke Mentari.

__ADS_1


Mentari makin-makin tak bisa menyembunyikan senyum gelinya akan sikap suaminya yang terdiam membisu. Ia menepuk sayang pundak suaminya.


"Apa kata sayang cukup menghibur Aa hari ini?" tanya Mentari, Pram melayangkan tatapan yang mudah Mentari mengerti. Pram gusar akan kehadiran Maxime di tengah keluarganya.


"Aa gak bisa mementingkan diri sendiri hanya karena Aa sayang sama aku atau Maxime yang pernah berusaha untuk pdkt sama aku. Kayaknya sekedar kata juga gak cukup untuk bilang kalo aku sayang sama, Aa. Jadi..." Mentari meraih tangan Pram seraya mencium pipi suaminya yang nampak tertekan.


"Semoga Aa bisa lebih tenang. Aku udah pamer kemesraan lho, sesayang ini aku sama Aa."


Asih dan Bagyo menepuk-nepuk pundak Pram berganti. "Mungkin dia ini trauma sama yang udah-udah, Tari. Jadi emak dan bapak harap, perlakukan Pram dengan penuh kasih sayang ya, neng. Biar dia tenang."


"Siap, emak. Kamu juga, Ra. Jagain pacar kamu baik-baik." sahut Mentari, ia tersenyum lagi sambil menyandarkan kepalanya di lengan suaminya.


"Aa percaya sama aku ya."


Pram akhirnya mengangguk, ia berusaha nampak tegar meskipun hatinya amat rapuh.

__ADS_1


Setelah pembicaraan yang menggelitik hati semua orang. Pram merasa luar biasa lemas. Pram melangkah ke belakang rumah, dia duduk di gubuk sambil menyebar pelet ikan ke dalam kolam.


Pram bergulat dengan hatinya sendiri untuk mencari jawaban kenapa hatinya slalu saja tercoreng oleh kedatangan Maxime walaupun jelas-jelas Maxime sudah tidak tertarik sama sekali dengan istrinya.


"Sendirian?" tanya Maxime setelah bergabung di gubuk itu, pemilik mata hijau itu tersenyum lebar sambil mendudukkan dirinya di samping Pram.


Pram membagi seember pelet ikan ke tangan Maxime.


"Aku bersama keluargaku." jawab Pram dengan nada yang serius. "Kamu bersama keluargaku."


"Kedengarannya bagus." sahut Maxime, "Aku kira pertemanan ku dengan Dara karena rasa kasian ku padanya salah. Dia cukup mahir membuat suasana semakin ramai karena tingkahnya. Maaf kalo semua itu jadi berubah menjadi kencan pertamanya. Mungkin ini sedikit menyulitkanmu, Pram."


Pram menepuk punggungnya. "Aku ngerti, apapun itu bentuknya. Apapun itu jalannya. Ambil dan jalani, akhir cerita nggak ada yang tau. Jadi nikmati saja setiap risiko mengencani Dara."


Maxime mengangguk. Sepenggal kalimat janji ia ucapkan demi menenangkan pikiran Pram. Dan itulah akhir dari kekacauan yang terjadi di benak Pram akan kedatangan Maxime.

__ADS_1


__ADS_2