Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Gerak cepat.


__ADS_3

Renovasi rumah, renovasi rumah.


Sejak bangun tidur yang terpikirkan oleh Pram hanyalah segera mendapatkan tukang bangunan yang sanggup mengubah tampilan rumahnya secepat mungkin.


"Gerak cepat, gerak cepat. Ganti warna cat, ganti gorden, ganti sofa. Yang paling penting mengubah warna isi lemari sebelum terendus kecurigaan istri!"


Pram mondar-mandir sambil memegang ponselnya, menunggu dengan tidak sabar kabar dari teman mainnya yang seorang kontraktor bangunan.


"Buruan kasih kabar, Ron. Hidup dan mati gue ini." omel Pram, kembali menghubungi Roni, kemudian istrinya. Tetap tidak ada jawaban.


"Udah pada sibuk ajalah pagi-pagi gini, ngapain sih! Pada gak peka apa, nyawa rumah tangga gue yang baru seumur jagung ini di ujung tanduk?"


Pram menghela napas panjang dan bersikap biasa-biasa sewaktu Mentari memanggilnya dari rumah.


"Aa, kenapa?" tanya Mentari sambil mengulurkan secangkir kopi hangat.


"Nggak kenapa-kenapa, Tar. Kenapa emangnya?" elaknya sembari tersenyum ragu.


"Daritadi aku lihat Aa kayak setrikaan." jawab Mentari dengan ekspresi meneliti. "Aa lagi bingung atau ada sesuatu yang bikin Aa gelisah? Wajah Aa soalnya nggak tenang banget." urainya setelah memahami wajah Pram yang kusut dan mata jenakanya tidak fokus.


Bingung banget, Tar. Bingung gimana caranya mengubah semua tampilan rumah tanpa membuatmu curiga dan heran.


Pram mengangguk lemah, ide di kepalanya buntu jika bantuan dari luar tak kunjung datang.


"Aku bingung sayang kita mau jalan kemana hari ini." ungkapnya seraya menyeruput kopinya.


Enak banget kopi pagi ini, gak rela kalo besok harus bikin kopi sendiri lagi karena Mentari ogah melayani gue lagi.


Pram berjeda sembari menyeruput kopinya terus. Terus sampai habis.


Jangan sampe muka gue kelihatan bingung banget, pokoknya keresahan ini jangan sampai Mentari ketahui.


"Aa... Kok diem." Mentari meraih cangkir kopi dari tangan suaminya.

__ADS_1


"Kita mau ke pasar kan Aa, beli isi kulkas. Aa kemarin juga janji ngajakin nonton." Mentari mengingatkan.


Senyum Pram langsung tersunggingkan. Rencana itu tetap jalan, tapi bagaimana ngomongnya nanti kalau tiba-tiba rumahnya akan dia renovasi terlebih kemarin ia sudah di ancam akan di tinggal ke rumah emak jika masih ada sisa-sisa jejak kenangan mantan di rumah itu.


Situasi genting itu membuat otot-otot Pram lemah dengan sendirinya. Bab yang satu ini sulit untuk dibicarakan terang-terangan sekarang. Dia takut Mentari tak setuju dan curiga.


"Kita ke pasar dulu aja, Tar. Sekalian cari gorden rumah yang bagus. Aku butuh suasana baru, bosen lihatnya dari dulu itu mulu." kata Pram hati-hati.


"Emangnya mau di ganti warna apa, Aa? Biru laut, biru muda, biru shapire, baby blue, biru azure, atau warna biru lainnya yang belum aku sebutkan?" tanya Mentari mirip orang dagang.


Pram langsung mengangkat sebelah alisnya. Semua warna biru itu ingin dia enyahkan secepatnya, ini malah di tawari jenis-jenis warna biru selain warna gordennya yang biru dongker.


"Jangan biru lagi atuh, yang lain. Terserah kamu sayang, sesuka kamu." Pram tersenyum.


"Yakin gak masalah? Nanti Aa nggak terima rumahnya bukan rumah biru lagi." protes Mentari, mengingat bagaimana cintanya laki-laki itu pada warna biru. Dan kalau seandainya nanti dia pilih warna lain, ia takut Pram tidak suka, sementara baginya semua warna apa suka. Kecuali kalau ia sudah tahu arti warna biru bagi Pram, mungkin dia tidak perlu pertimbangan lagi untuk mengubah semuanya warna biru di rumah itu.


"Aku malah suka kamu mulai mendekorasi rumah ini dengan sentuhan lembut seorang wanita, Tar. Maklum dulu rumah bujang, nggak ada manis-manisnya kalo di lihat. Jadi— gimana kalo kita renovasi rumah mulai hari ini?" tawar Pram, nyaris jantungan dan pingsan beneran kalau saja selaku penerus losmen idaman itu tidak setuju dan malah bertanya-tanya kenapa atas keputusannya itu.


"Kamu serius?" tanya Pram antusias.


Saat itu juga Pram langsung berada di puncak ketenangannya. Tenang, apa yang ia takutkan tak terjadi bahkan Mentari mengusap pipinya dengan senyum manis. Senyuman yang sangat menjengkelkan bagi Pram karena senyuman itu sanggup meluluhkan hatinya berkali-kali lipat kepada perempuan yang kembali bersikap manja itu.


•••


Dua jam kemudian di pusat perbelanjaan. Mentari sudah membeli gorden berwarna baby peach dan semuanya perlengkapan rumah tangga baru dengan warna-warna yang dia inginkan. Tidak ada yang berwarna biru karena Pram terus menolaknya meski itu lucu.


"Aa, capek." keluh Mentari dan sangat haus. Ia berhenti berjalan seraya bersandar di tembok sebuah emperan toko.


Pram menyelipkan ponselnya ke dalam saku celana sembari menghela napas.


Giliran udah beres soal renovasi, Roni lagi bales. Elah, mana lagi berdua lagi. Gawatlah kalo dia bocor soal Tatiana.


"Kita ke mal dekat sini, Tar. Ketemuan sama orang yang mau renovasi rumah kita sambil makan siang."

__ADS_1


Sebagai istri yang mengklaim dirinya sangat menyayangi Pramoedya Aji, Mentari mengangguk patuh. Mereka pindah ke mal tempat Pram dan Roni janjian.


Pram mengedarkan pandangannya di area food court yang ramai. Sejenak, ia menatap perawakan wanita yang mirip sekali dengan Tatiana di depan bangku yang Roni dan kawan-kawannya duduki. Pram diserang gugup, berhadapan dengan wanita mirip Tatiana untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lewat membuatnya kikuk.


Pram menggenggam jari tangan Mentari. Ia meremas kuat tangan istrinya.


"Aa, kenapa?" tanya Mentari heran.


Pram membawa Mentari mendekat ke kawan-kawannya semasa kuliah. Ia menyunggingkan senyum andalannya di depan mereka-mereka yang terlihat takjub dengan sepasang suami istri baru itu.


"Siang bro, sis. Sori gue paling telat." ungkapnya sambil mengusap rambut istrinya. "Kenalin, bini gue, Mentari."


"Gak sia-sia ngilang berbulan-bulan elo, Pram. Nggak pernah futsal. Dapat dari mana nih cewek secantik ini?" puji Roni sambil mengulurkan tangan.


Mentari menyalaminya satu persatu, berkenalan tak terkecuali dengan Tatiana.


Tatiana.


Gaung suara itu menggema di ruang batin Mentari. Sejenak ia menatap suaminya. Pram nampak berceloteh seperti biasanya, walau matanya bereaksi tajam


*B*isa-bisa elo masih punya muka nongkrong sama temen-temen gue, Ana. Atau ada yang sengaja undang Tatiana ke sini? Sialan.


Mentari mengelus paha suaminya di bawah meja. Ia tersenyum di atas rasa tidak nyamannya berada di depan Tatiana yang terus menatapnya. Melihat interaksi mereka.


Tatiana tersenyum jengah sembari menghela napas berat.


"Selamat atas pernikahan kalian, Pram, Mentari, aku ikut senang." ucap Tatiana sedikit melankolis.


"Terima kasih." Mentari menjawab disertai anggukan, "Selamat menempuh hidup baru bersamaku, Pramoedya Aji. Semoga kita semua bahagia dengan pilihan warna hidup kita masing-masing." Dengan berani ia mendekatkan wajahnya untuk mencuri kecupan di rahang Pram.


"Kalo gitu gue yang traktir bro, sis, bini gue udah ngasih apa yang gue butuhkan sekarang. Jadi nggak loyo lagi gue." selorohnya sambil menahan posisi Mentari tetap berada di dekapannya. Pram mengecup kepala Mentari dengan tatapan yang tertuju pada Tatiana.


Aku tetap memaafkan kesalahmu, tapi tidak dengan kehadiranmu lagi. Tatiana.

__ADS_1


•••


To be continue.


__ADS_2