
Rujak dan gorengan sudah berada di atas tikar yang Purwati gelar di taman.
Mentari diam. Dia kesal harus mempertemukan matanya dengan mata Pram lagi, bahkan telinganya juga harus mendengar siulan laki-laki itu. Dia benci kalau saja semua yang Tuhan beri pada diri Pram ada magic-nya. Untungnya, si Pram itu cukup kooperatif karena tidak ikut berimprovisasi tentang cocoklogi yang di lakukan bapaknya. Atau sudah?
Mentari memandang Pram, laki-laki yang berada di hadapan bapaknya itu asyik makan rujak sambil sesekali menimbrung obrolan Joko dan Susilo tentang ternak dan ikan.
Mentari bersedekap, menyaksikan keakraban mereka dengan tanda tanya yang menggantung di kepala. Dia tahu Pram dan pekerjaannya sefrekuensi dengan bapak-bapak, tapi mengapa harus bapaknya yang memberi kode cocoklogi itu. Walau mungkin itu hanya kesimpulan sementara dia tidak bisa menganggap biasa saja, bapaknya adalah orang pertama yang menolak Bisma, sedangkan ibunya seseorang yang slalu menerima apapun keputusan suami dan anaknya. Jadi Mentari kini cemas sendiri. Magic itu pasti sudah Pram sebarkan ke bapaknya, lalu ibunya, terus dirinya.
Mentari mengigit bibir. Baru kemudian dia angkat bicara ketika Pram lagi-lagi menyomot buah-buahan segar yang kalau kebanyakan bikin mules.
"Jangan banyak-banyak, Pram. Perutmu bisa sakit." katanya dengan nada gamang.
Pram batal memasukkan nanas muda ke mulutnya. Dia menatap si gemes dengan muka datar. "Kenapa, Tar?"
"Nanti perutmu sakit."
Cieeeeee..., paling lama dan keras Dara serukan lengkap dengan muka meledeknya sampai-sampai Purwati geleng-geleng kepala.
"Biarin aja perutnya sakit, Tar. Sok perhatian kamu tuh sama Om." imbuhnya lalu menyambar piring kecil yang berada di tangan Pram.
"Kamu habiskan ini punya om kalo takut perutnya sakit!"
Mentari menerima piring itu dengan muka terperangah.
"Aku kan cuma ngasih tau! Kalo Pram masih mau makan ya terserah dia, Ra! Jangan gitu ah, kamu masih gak sopan. Ngeyel." Mentari mengembalikan piring kecil itu ke tangan Pram.
Belum selesai keterkejutan Pram karena tingkah Dara dan Mentari. Dua gadis itu saling ribut. Mentari membantah tidak perhatian dengan Pram, tapi ocehan Dara yang terakhir bikin dia bungkam.
"Tadi kamu nyuci bajunya om karena gak mau aku yang ngelakuin kan, Tar? Bahkan baju-bajunya om yang sudah aku setrika kamu yang bawa ke kamarnya. Ah kamu nih, sok gaya!"
Pram ikut terpana mendengar kalimat semprul dari Dara itu.
"Jadi?" laki-laki itu membuat jeda dan batal mengatakan, "jadi kamu buru-buru nyariin aku tadi karena takut barang berhargaku Dara yang cuci?" Di hadapan mereka, takut menimbulkan pertanyaan lagi yang memalukan.
__ADS_1
"Jadi habisin aja rujak kamu itu, Pram. Enak kan?" imbuh Mentari lalu tersenyum datar.
"Oh pasti aku habisin, Tar, masakan ibumu enak dan harusnya Bu Purwati ini buka rumah makan. Pasti laku keras." puji Pram tulus.
Joko yang sependapat dengan Pram mengiyakan, "Maunya gitu dik Pram, cuma ini di desa, warung makan tidak begitu laku, wong kebanyakan sudah pada masak sendiri karena punya kebun." jelasnya dengan mimik sedih, tapi langsung senyum-senyum lagi.
"Mungkin dik Pram punya ide? Dik Pram kan orang kota, sering kemana-mana jadi banyak inspirasi kalau kata si Tari."
Pram mengangguk, masih ada cara lain kalau sudah ada bakat mah. Jadi serentetan kalimat panjang ia berikan demi menjawab rasa penasaran pak Joko.
"Gimana, Tar? Apa kamu setuju losmen ini kita jadikan tempat ngopi dan kafe ndeso yang kekinian seperti yang dik Pram jelaskan." tanya Joko kepada anaknya.
"Kita bahas nanti, pak." pungkas Mentari, "modal aja belum ada udah main setuju apa nggak pak dan si Pram ini emang bener-bener racun buat bapak!" rutuk Mentari dalam hati.
Pram yang lihat gelagat Mentari langsung membuka mulut.
"Aku setuju pak sama Mentari, soalnya bikin kafe kekinian harus lihat pasar dan modal." imbuhnya menerangkan karena urusan bisnis dia paham permasalahan utamanya.
Pram tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Mentari.
"Nanti sore ikut jalan-jalan ke kolam pembibitan ikan yuk, Tar. Biar kamu bisa milih ikan apa yang pengen kamu pelihara." kata Pram kalem.
"Kok aku yang milih! Bukannya kamu yang pengen membangkitkan kolam itu kembali." Mentari bersedekap, "sama Dara aja, dia pengen naik mobil kamu yang katanya keren banget!"
Dara tersedak, karena tidak mau dikuliti hidup-hidup oleh Mentari yang jelas-jelas baru membalasnya. Dara berdecak kesal.
"Mobilnya om emang keren, tapi orangnya nggak!"
Semua orang terperangah, tapi tidak dengan Pram. Laki-laki itu tersenyum santai.
"Ya udah, kalian semua ikut aja. Mobilnya muat untuk bareng-bareng, lagian lebih rame lebih enak." tawar Pram.
Bisa di bayangkan celah menawan yang telah Pram siapkan itu jawabannya apa. Joko, birokrasi tertinggi dalam losmen itu langsung setuju dengan improvisasi Pram.
__ADS_1
Matilah Mentari saat itu juga. Ia berdiri, berjalan gedebak-gedebuk menuju kamar. Lalu melompat ke kasur.
"Gak seharusnya kamu menjadi dekat, Pram. Kamu cuma singgah, kamu bakal pulang jadi berhentilah menjadi dekat dan kamu akan – akan bikin aku bertanya arti kelakuanmu itu!"
Mentari menggeram. Di ambang pintu, Dara menyaksikan kejatuhannya gadis itu seraya melengos setelah puas melihat si gemes yang slalu mengingatkannya untuk sopan dan tidak meledak-ledak itu frustasi sendiri.
"Lagian Om Pram itu suka beneran apa cuma modus doang sih? Harus di buktikan ini, kalo cuma bercanda doang, bakal aku apain ya? Ibu panti bilang harus sopan sama orang dewasa. Cuma kayaknya sama Om itu pengecualian," Gadis itu meringis usil.
Pram menanggalkan pakaiannya yang kotor di kamar mandi, sedikit kegiatan siang ini yang begitu melelahkan juga tidak mengalihkan pikirannya akan si geulis yang terang-terangan menggodanya dengan menyebut ukuran celananya. Pram menyeringai. Isi kepalanya menjadi berantakan sendiri. Bagaimana bisa perawan desa yang sering membebaskan wajahnya dari riasan itu menggoyangkan jalannya.
Pram menyugar rambutnya, perasaan kacau yang begitu indah itu membuatnya tersenyum.
"Kayaknya semua berubah dan gue gak bisa menyangkal terdampar disini bikin gue menemukan satu gadis yang bisa menggantikan posisi Pevita."
Selesai mandi, laki-laki itu gegas berpakaian seraya membawa setumpuk baju-baju kotornya keluar kamar. Dia langsung pergi ke tempat mencuci baju bak masuk ke rumah sendiri.
"Eh geulis, rajin pisan kamu."
Mentari memejamkan mata sambil mengeluarkan baju-baju Pram dari mesin cuci. Gadis itu berbalik, yakin laki-laki itu mau mencuci bajunya sendiri.
"Taruh aja disitu, biar aku rendam dulu sebelum di cuci." Mentari menunjuk ruang kosong di dekat mesin cuci seraya tersenyum datar.
"Mulai takut ada yang ngurus gue selain kamu, Tar?" Pram tersenyum lebar sambil mendekatinya.
"Kalo iya gimana? Masalah buat kamu?" seru Mentari seketika.
Pram mencondongkan tubuhnya sampai napasnya menabrak muka Mentari.
"Kalo gitu kita nikah aja sayang biar kamu bisa ngurus aku luar dal — awwww.... Kok kamu injek kakiku, Tar? Mau main kasar?" seru Pram kesal.
"Nikah-nikah-nikah, kamu pikir enak nikah. Udah aku mau jemur baju dan pastikan nanti sore jangan bikin drama sama bapak aku. Awas kamu." sentak Mentari, mendorong tubuh Pram dengan keranjang ia bawa. "Minggir sayang, dan jangan paksa aku main kasar!" tandasnya pelan namun sinis.
Pram menyingkirkan dengan muka geregetan. "Kita lihat aja sapa yang jatuh duluan, Tar. Aku apa elo!"
__ADS_1