
Mentari berlari keluar dari dalam losmen sewaktu mendengar suara mobil Pram datang. Ia berkacak pinggang tepat di depan Jeep Wrangler yang langsung mengerem laju mobilnya dengan mendadak.
"Oi, geulis. Mau mati kamu?" teriak Pram dari dalam mobil.
Mentari memukul kap mobil Pram. "Keluar kamu!" katanya ikut teriak. Berang dengan kelakuan Pram yang tak acuh kepadanya.
Pram meringis geli, dalam hati yang senang banget melihat kelakuan gadis losmen yang ngambek ia tinggal. Pram bersiul keras.
"Emang harus di gituin nih cewek biar hatinya merasa hampa gak ada gue!" Pram cekikikan seraya menoleh kepada dua tawanannya.
"Kalian keluar dan jangan sekali-kali kabur dari gue!" ancamnya lagi.
Tegar dan Danang yang takut di penjara mengiyakan dengan pasrah. Lagian kalau di pikir-pikir lagi selama dua puluh lima tahun lebih tinggal di kaki gunung bosen juga. Apalagi sudah dapat cap buruk dari semua warga. Maka pergi ke Jawa barat untuk menjadi anak buah Asih dan Bagyo mungkin lebih menyenangkan hati ibunya yang memberi tangis sewaktu mereka pamit pergi.
Pram keluar dari mobil, dia menyambut Mentari sambil merentangkan kedua tangannya. Mencoba menggoda, kan lumayan kalau di peluk beneran. Jadi hangat.
"Hai sayang, peluk sini. Kangen."
Bukan di sambut dengan raut wajah tenang bak anak burung dara yang bertemu induknya. Cubitan kecil mendarat di bekas bogem mentah dari Bisma semalam. Kontan saja Pram mengerang sakit sambil memegang perutnya.
"Sakit sayang, lihat sampai lebam." ujarnya dengan sedih sambil membuka kaosnya. Benar saja, lebam sebesar telur ceplok berada di atas kulit ulu hatinya.
Mentari yang tidak menduga cubitannya akan berefek sebegitu fatal menyentuh dan mengamati bekas lebam itu. Lantas sorot matanya menerawang, nggak mungkin, pikirnya seraya menelengkan kepala.
Dua pelayan setia mantan kekasihnya keluar dari mobil Pram. Mentari jelas-jelas terkejut bukan main akan keberadaan dua orang itu di dekat Pram.
Pram menurunkan kaosnya, surprise-nya ternyata juga mengejutkan Mentari setelah tadi Bisma dan keluarganya terperangah dengan kedatangan dua orang itu. Maka hidup Bisma semakin tidak tenang setelah dua orang tadi memberikan kesaksian tentang apa yang telah terjadi kemarin-kemarin.
"Kalian yang ninju, Pram?" sungut Mentari di depan Danang dan Tegar, denyut jantungnya berdebar. Dia tidak akan memaafkan kedua laki-laki itu, termasuk Bisma.
Pram menurunkan tangan Mentari yang berkacak pinggang sembari ingin menendang keduanya bila mereka.
"Bukan mereka sayang, ini ulah mantan kekasihmu." bisiknya.
__ADS_1
Sontak Mentari berbalik, naas kecepatan akan rasa keterkejutan itu membuat pipinya tersentuh bibir Pram.
Sepasang matanya langsung melebarkan.
Pram tersenyum tipis, dan seakan masih kurang menganiaya batin Mentari sepanjang tadi malam, dia bersiul keras sambil berkacak pinggang.
"Gak mau bilang kangen, maunya di cium toh!" selorohnya sambil menguap lembut kepala Mentari.
"Aku pergi ke losmen Bu Desy, kamu pasti udah taulah apa yang terjadi di sana, jadi...," Pram menjelaskan pertanyaan dari sorot mata Mentari, "jadi lupakan, mari kita pergi untuk hilang dan hiling bersama."
Pram mengulurkan tangannya. Mentari menurunkan tangannya dari pipi. Dia mengangkat wajahnya dan percayalah akan datang masa di mana segala keputusan besar bisa saja di putuskan begitu saja hanya karena senyuman yang begitu menyakinkannya.
Apakah sudah waktunya lara ini berkesudahan?
Mentari mengetuk jawabannya sendiri di benaknya. Pram memberi rasa di tengah gelapnya relung hati yang di paksa mati rasa oleh waktu. Dan kini, waktu ternyata mempertemukannya dengan laki-laki dengan sejuta manfaat.
"Ogah?" tanya Pram dengan kening berkerut.
"Terima kasih." ucap Mentari kikuk,
Kontan Pram yang seakan di jatuhi sejuta bintang langsung membuatnya berbinar-binar menarik Mentari ke dalam dekapannya.
Kikuk dia mengelus kepala Mentari, karena tak ada yang tahu jika gadis itu menolaknya setelah segala hal-hal yang terjadi selama nyaris dua puluh empat jam terakhir ini, sekujur tubuhnya akan kehilangan tenaga. Patah tak tumbuh, mati tak berarti.
"Kita berangkat nanti malam!" kata Pram sambil melepas pelukannya.
Mentari yang salah tingkah langsung melengos pergi dengan pipi yang merona. Di depan pintu, Mentari berbalik sambil menjulurkan lidahnya panjang-panjang.
"Iya-iya nanti gue cek lidahmu kalo udah sah jadi istri gue, Tar. Tapi sekarang gak usah melet-melet gitu ah, kayak ular kamu!" teriaknya sambil geleng-geleng kepala. Sedetik yang menyenangkan lalu berubah sewaktu Pram kembali menatap dua tawanannya.
"Kalian berdua masuk, minta maaf sama keluarga pak Joko!"
Pram berkacak pinggang sambil menggerakkan dagunya ke arah losmen.
__ADS_1
Dengan wajah kuyu Tegar dan Danang masuk ke dalam losmen. Lagi-lagi kehadiran mereka begitu mengejutkan para birokrasi tertinggi losmen idaman. Termasuk Dara, anak bawang yang teriakkannya sanggup membuat telinga berdenging. Dan karena ledakan suaranya itu sanggup merusak gendang telinga, semua orang menutup telinga dengan kedua tangan.
"Mau apa kalian ke sini? Mau maling?" Dara melotot di depan muka Danang dan Tegar, tapi bagi Danang yang sudah biasa dengan teriakan anak panti asuhan itu tersenyum tipis sambil menurunkan tangannya terlebih dahulu.
"Mas Pram yang ngajak!" jawabnya pelan.
Dara langsung melotot ke arah Pram.
"Om ngapain sih bawa-bawa mereka ke sini! Mereka itu benalu, mereka jahat sama keluarga ini. Malah di ajak ke sini! Gak suka aku, usir aja mereka!!!"
Pram meringis geli seraya menurunkan tangannya dari ke dua sisi kepala.
"Mereka mau minta maaf, Ra. Terus ikut kita ke Jakarta. Tapi ntar mereka bakal kerja sama emak dan bapak gue di Jawa barat sebagai hukuman atas perbuatan mereka di sini!"
Joko langsung tepuk tangan. Selain calon mantunya itu harus di paksa turun dari pohon dengan cara menakut-nakutinya, calon mantu idamannya itu ternyata slalu memberi kejutan tak terduga.
"Bagaimana ceritanya dik Pram?" tanya Joko penasaran.
Pram membusungkan dadanya dengan sikap tengil yang sudah keluarga mereka pahami bahwa begitulah tamunya itu.
"Panjang pak, yang penting Bisma dan dua anak buahnya ini tidak ganggu keluarga bapak lagi!" jawabnya lugas.
Joko tambah bersemangat bertepuk tangan. Makanya makin besar kepala si Pram mendengar pujian pak Joko dan Purwati. Makin tercapailah segala impiannya mempunyai calon istri dengan restu full dari orang tuanya. Makin adem ayem lah hatinya.
"Cepat sekarang kalian minta maaf, kalo perlu mirip orang-orang lagi sungkem waktu lebaran dengan orang tua!" kata Dara sambil menunjuk kaki Purwati dan Joko.
Tegar yang berwajah mirip preman enggan melakukannya pertama, di tariknya bahu Danang yang berwajah lebih kalem darinya untuk bersimpuh di depan orang tua Mentari.
Danang cengengesan, tidak pernah melakukan hal seperti itu membuatnya bingung. Alahasil, momentum permintaan maafnya itu menjadi adegan yang sama persis sewaktu lebaran datang. Danang meminta maaf sambil di ciumnya ke dua punggung tangan Purwati dan Joko secara bergantian.
"Mohon maaf lahir dan batin, pak, bu. Sedoyo lepat kulo nyuwun pangapunten."
•••
__ADS_1
to be continue and happy reading.