
Pram berjalan melintasi ruangan, dia bersiul-siul menirukan suara burung yang nangkring di atas pohon mangga.
"Men-ta-ri." Pram mengambil potongan kue lapis di atas piring dan tersenyum penuh harap kepada istrinya. Pram melahap potongan kecil kue itu lalu menarik istrinya dari depan kompor.
"Kenapa, Aa?" Mentari memegang kedua tangannya, lalu Pram membungkuk untuk mengecup pipi istrinya.
"Gimana keadaan Aa, sudah baikkan?" tanya Mentari setelah pembicaraan dengan Maxime tadi. Sekarang sudah malam, tapi bule itu masih di rumahnya. Melakukan hal-hal yang sesungguhnya ingin dia tertawakan bersama Dara. Tapi cukup dengan melihat teman masa kecilnya sungguh-sungguh berada di tahap next level Mentari sudah cukup senang. Ikut beruntung dan gak nyangka malah, Maxime yang bening dan putih sekali kepincut sama si tengil.
"Aa masih gak yakin aku adalah istri yang baik? Kok aku jadi sedih karena itu, Aa." Mentari merengut, "Aa gak percaya sepenuhnya ya sama aku?
Pram mendesah lalu senyumnya terlihat tegang. "Aku yang salah, Tari. Aku yang ketakutan karena trauma masa lalu itu. Maaf, oke. Aku akan mengubah ketakutanku dengan lebih memperhatikanmu dan bersamamu."
Diterima, pikir Mentari, tapi dia menyambutnya dengan wajah cemberut.
"Cuma pasti Aa lebih posesif sama aku." gumam Mentari. Pram jelas mengernyit, bagi sebagian orang posesif adalah bagian dari rasa sayang, perhatian dan mengurangi rasa resah yang ada. Toh dia posesif tanpa kekerasan fisik dan verbal, dia hanya menyukai perhatian dan kasih sayang yang terang-terangan dia berikan.
__ADS_1
"Aku harap kamu maklum ya, sayang. Aku mantan bujangan lapuk dengan masa lalu pait. Lebih pait dari empedu, jadi posesif ku bukan sebuah ancaman." Pram mencondongkan tubuhnya ke arah Mentari dan memeluk pinggang istrinya.
"Kamu gak keberatan?" tanya Pram dengan mata yang sabar.
"Gak Aa, aku menerima semua plus dan minusnya Aa. Juga aku harap Aa terima aku, dan jangan pernah curiga dengan kehadiran Maxime. Gak enak sama dia, apalagi Dara." pungkas Mentari tenang bersamaan dengan suara pintu terbuka.
Pram menciumi pipi Mentari dan melepas pelukannya. Ia menuangkan air lalu meneguknya sambil memandangi pintu saat suara tapak kaki semakin mendekat.
Dara dan Maxime hadir membawa martabak manis dan telor seraya menaruhnya di meja makan. Dara meraih enam piring kecil-kecil dari rak-rak seraya menaruhnya di meja. Ia mengambil dua potong martabak manis dan empat potong martabak telor ke dalam piring.
"Berduaan terus, takut jauh-jauhan."
"Halah, sama kayak om. Berduaan terus, takut Mentari lirik-lirik teman baik aku." sahut Dara cepat-cepat dengan tangan yang melingkari lengan Maxime. "Ayo mas bule, kita cari tempat yang tidak terlihat om dan Mentari. Mereka berdua sangat was-was."
Maxime tersenyum kepadanya, lalu meringis lebar bagaikan pendaki gunung yang mendapat sunset di hari yang indah.
__ADS_1
"Aku akan mengikuti mu, Dara."
"Heh, main mojok-mojok segala. Gak ada itu cari tempat-tempat tersembunyi. Kalian pikir rumah ku rumah apa! Tempat pacaran bebas?" sahut Pram, ia meraup semua plastik martabak dan menggandeng tangan Maxime bagian kiri.
"Ke ruang keluarga!" ucapnya serius, "sayang aku ngawasin mereka pacaran. Kamu nyusul kalo sudah matang buburnya."
Mentari mengangguk, badannya bergetar menahan tawa sewaktu Pram terus mengomel panjang pendek. Melarang Dara dan Maxime pacaran berduaan saja. Melarang keduanya untuk ciuman bahkan pelukan.
"Ngerti kalian berdua?" tanya Pram, mengamati Dara dan Maxime bergantian. Si mata hijau itu buru-buru mengoreksinya kalau-kalau meskipun dia tinggal Rusia sampai berusia tujuh belas tahun dan sudah mencecap pahit-manisnya kehidupan bebas berpacaran dengan cewek-cewek cantik. Dia sudah memahami sedikit istilah dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Lagipula dia sudah sepuluh tahun tinggal di Indonesia, dia lumayan paham dengan tata cara berpacaran dengan orang pribumi.
"Bagus kalo kamu paham, Max. Ingat juga Dara baru pertama kali pacaran. Jangan mengajaknya macam-macam, kecuali jika kamu ingin tanganmu patah."
"Aw, om galak banget." sahut Dara, "Tapi aku sayang kalian."
"Sudah sewajarnya." Pram meringis dan Dara ingin menjerit ketika kakak angkatnya itu menggesernya dari samping Maxime dengan menarik kakinya.
__ADS_1
"Bagus, selamat berkencan." Pram menepuk-nepuk tangannya seraya duduk di tengah-tengah keduanya. Meski begitu, keduanya asyik-asyik saja mengobrol dengan melibatkan Pram sebagai orang super dewasa dan sentimental.