
Suasana lantas berubah hening. Pram menyerap pesona wajah Mentari yang begitu cemas di balik wajahnya yang ayu. Pram tersenyum, tidak jujur sekali saja boleh lah, dia hanya mau menjaga gadis itu tetap mempunyai pesona di atas kegagalannya bersama lutung yang Pram ketahui sebutan untuk mantan tunangan Mentari.
"Pak Joko ngomong jangan macam-macam selama aku sewa losmen kalian, Tar. Katanya bakal di ubek-ubek tuh Jakarta sama bapak kamu kalo aku sampe macam-macam!"
"Bohong!" sergah Mentari.
Pram mengulum senyum sembari menarik rem tangan dan kembali memacu mobilnya.
"Awalnya aku juga kaget kenapa bapak kamu ngomong aku jangan macam-macam, emang tampangku mirip brandalan, Tar?" tanya Pram sengaja, ingin tahu reaksi Mentari tentang dirinya.
Mentari tak tahan mengembuskan napas kesal. Kalau di runut lagi sejak awal mereka bertemu jelas satu kata akan ia sematkan di belakang nama Pram. Tapi itu masih bisa di ganti berhubungan pertemuan mereka belum sebanyak jumlah jari ayam, toh pepatah klasik mengatakan tak kenal maka tak sayang. Makanya tadi Pram memperkenalkan diri di depan keluarga Mentari, lalu baru kenalan dulu sama dia secara formal. Bukan seperti aku tuan rumah dan kamu tamu, hal seperti itu yang akan menjadi dinding pemisah. Jadi kalau dipikir-pikir lagi keren juga cara Pram. Ngalir aja tanpa ada paksaan.
"Seperti katamu kemarin. Orang bisa jahat kalo ada kesempatan dan peluang, jadi aku gak bisa bilang kamu mirip brandalan apa nggak karena aku belum mengenalmu cukup lama." aku Mentari realistis.
"Yups, aku setuju." Pram mengangguk sambil tetap fokus mengemudi.
"Tapi kamu bisa menilai orang dari cara mereka ngetreat kamu. Toh pandangan pertama itu gak cuma berlaku untuk orang yang jatuh suka aja, tapi juga bersifat universal. Jadi paling-paling pandangan pertamamu sewaktu aku nongol ke hpmu pasti batin gini, nih orang aneh banget sih tau-tau telepon minta jadi pacar bohongan!" cerocosnya lantas meringis.
Mentari memalingkan wajah, lalu tersenyum aneh. "Pram bener-bener cerewet!" batinnya.
"Nah tuh, pasti batin aku yang gak-gak!" tuduh Pram langsung.
"Ya ampun, Pram! Kamu tuh anak emak apa anak dukun sih, kenapa semua tuduhanmu itu bener."
Akhirnya si gemes ngaku juga, pakai ngotot pula. Udah benar kalem aja santai biar si gesrek itu tidak besar kepala, lah ini saking keselnya akhirnya los juga. Ketahuan tanpa tedeng aling-aling.
"Itu yang bikin kamu slalu tersipu-sipu? Kenapa, jarang ketemu cowok kayak gueeh?"
"Gueeh?" tiru Mentari dengan lucu lalu mengangguk, "Jarang bener karena baru sekali gueeh ketemu tamu losmen kayak kamu. Udah sok jadi anak dukun kerjaannya bikin khawatir. Astaga, ampun!"
"Apalagi gueeh Tar, tau losmen idaman aja dari brosur. Aku pikir dulu losmenmu minta tumbal, ternyata, diem-diem nyimpen anak perawan."
"Brosur?"
"Iya brosur," jawab Pram lugas, "kaget?"
__ADS_1
"Darimana?" tanya Mentari heran, "aku gak pernah bikin promosi losmen dari brosur. Itu jadul banget, Pram."
Haha, Pram terbahak, ternyata brosur itu memang sakti.
"Dari pak Mulyadi, tetangga kamu di kampung. Dia buka warkop pinggir jalan di Jakarta. Kapan-kapan main kesana, Tar. Belom pernah kan?"
Mentari menggeleng pelan. "Habis kuliah di Jogja aku langsung kerja di perhotelan dan baru pulang dua tahun lalu. Jadi gak pernah kemana-mana." apalagi aku sudah punya mas Bisma waktu itu.
"Kalo mau besok bareng aku aja, lumayan lho dapat tumpangan gratis, bonus nginep lagi di rumahku kalo mau." Pram menyunggingkan senyum, itu benaran tawaran, bukan rayuan bujang lapuk kurang perhatian. Toh rumahnya cukup buat ramai-ramai bareng.
"Aku punya tanggung jawab, Pram." Mentari terlihat sedih.
"Sama aku juga punya, tapi bukannya mau sombong pekerjaanku lebih banyak dari kamu, cuma itu tadi kenapa aku milih kabur. Emak gueeh, ribet banget sampe gedeg gueeh nurutinya." Pram geleng-geleng kepala, kejadjan reflek kalau membicarakan ibunya.
Mentari langsung teringat kenapa Pram kabur dan alasan-alasan yang baru ia ketahui hari ini. Begitu juga dengan obrolan singkat waktu dia pura-pura jadi Pevita.
"Kamu kenapa bohong, Pram? Gak kasian sama emak kamu yang begitu berharap kamu nikah dengan Pevita."
"Pevita?" Pram membeo, wajahnya seketika cengengesan. "Pevita itu artis, Tar. Mana mungkin aku nikah sama dia, di mimpi paling bisa. Di dunia nyata? Statusku yang cuma juragan empang nggak mungkin bisa bersanding dengan nama besar Pevita Pearce. Herannya emakku juga percaya, itu lho yang jadi ribet banget ujung-ujungnya." urainya di lanjutkan dengan tawa.
Mentari benar-benar terkejut, asli selain datang dengan cara yang sangat berbeda, si Pram itu benar-benar cerdik menggunakan kesempatan.
"Berdamai dengan diri sendiri sambil menerima kenyataan kalo emak pasti cari jodoh lagi!"
Mobil berbelok ke pom bensin.
"Mau ke toilet?" tawar Pram.
"Kalau ke toko baju aku mau, Pram. Aku pengen ganti baju." jawab Mentari, malu, kebaya itu sejak tadi ingin segera ia campakkan dari tubuhnya. Mana sanggul yang tertata anggun berhias bunga melati itu membuatnya seperti pengantin yang melarikan diri.
Pram bersiul, menahan tawa melihat kecanggung Mentari memakai kebaya yang mengekspose sebagai kulit di bagian dadanya.
"Itung-itung latihan biar akrab sama yang namanya kebaya. Lagian kamu tambah geulis tau pake itu." pujinya sebelum turun dari mobil.
Pram membayar bensin seraya berlari cepat menuju mini market, membeli beberapa makanan dan minuman dan kembali lagi ke mobil.
__ADS_1
"Beneran mau beli baju?" tanya Pram, kasian juga kalau di biarkan lama-lama memakai kebaya. Apalagi ke Dieng, dinginnya minta ampun. Pulang-pulang bukannya happy habis healing yang ada cuma masuk angin dan loyo.
"Gak usah Pram, lagian aku cuma mau pergi dari nikahan tadi."
"Teruuuus ke Diengnya batal?" seru Pram tidak percaya, sudah setengah jalan padahal, sayang kan tujuan healing hari ini gagal.
Mentari membasahi bibirnya yang kering. "Bukan gitu, kita tetap ke Dieng cuma aku gak turun dari mobil. Boleh kan?" tawarnya dengan mimik muka penuh harap.
"Aku mau ke candi Arjuna, Tari. Gak enaklah kalau cuma sendiri. Nanti kamu pura-pura jadi model ajalah kalau malu, hpku canggih, punya kamera bagus. Atau gak kita pura-pura prewedding ngirit, foto-foto sendiri gitu."
Gagasan Pram itu membuat Mentari memejamkan mata dan mengembuskan napas lelah.
Prewedding ngirit. Ngiritnya gak masalah, preweddingnya yang bermasalah.
Akhirnya salam diam sambil menggigit bibir bawahnya Mentari mengangguk pasrah. Tamu satu ini benar-benar akan dia blacklist di kemudian hari setelah check out nanti.
"Tapi awas kalau kamu ketawa di atas rasa maluku!"
"Wadauuuw, ketawa sudah dilarang sodara-sodara. Jadi tertawalah sebelum Mentari bersab—awww, sakit Tari, main cubit-cubit aja."
"Habis kamu nyebelin banget Pram!" seru Mentari kesal. Merasakan bahwa apa yang di tetapkan dalam jiwa telah di obrak-abrik oleh mulut ember satu itu.
Tawa Pram yang sudah ditahan-tahan sedemikian rupa akhirnya meledak sampai perutnya mengeras dan matanya berair.
"Lagian santai aja, Tar. Namanya juga manusia, gak ada yang sempurna. So, gak usah jaim sama gueeh. Gueeh tau kok capit gorengan kemarin untuk apa!"
Sekali lagi cubitan mendarat di lengan Pram, sekali lagi sampai merah dan puas rasa kesalnya.
"Rasain, kamu bikin aku gagal perfect tau!" seru Mentari dengan tegas, meski dia benar-benar tidak bisa menutupi rasa bungah nya sendiri akan kejadian ini.
"Awas kamu Pram kalo sampe ngasih bintang jelek ke losmen aku, aku bakal kasih kamu capit gorengan itu untuk kenangan!"
Pram terbahak. "Makasih, Tar. Lumayan lah dapat cinderamata dari losmen idaman. Lagian, aku gak akan ngasih bintang jelek ke losmen kamu, aku maunya ngasih bintang jatuh biar kamu bisa bikin harapan baru."
Mentari membuang muka sembari bersedekap. Dalam benak, dia masih menunggu bintang jatuh itu menjadi fenomena alam yang indah untuknya.
__ADS_1
•••
To be continue and happy reading.