Juragan Empang Meets Gadis Losmen

Juragan Empang Meets Gadis Losmen
Raja kadal.


__ADS_3

"Hayu, Mbok antar ke atas." ajak Sum sambil meraih tangan Mentari.


Si gemes yang merutuk kelakuan Pram dalam hati menggeleng kuat-kuat meski tangannya sudah di tarik Sum kuat-kuat.


"Hayu atuh geulis, jangan ngeyel. Itu si kasep sedih, di hibur dulu. Biar Mbok tenang, emak juga tidak lieur kasep batal punya istri."


Mentari geleng-geleng kepala, ogah, sumpah, Pram cuma drama.


"Gak bisa, Mbok. Bukan muhrim, takut dosa di kamar berdua."


"Buahaha, tapi kemarin kalian udah ngamar berdua di losmen! Terus itu namanya apa dong, Tar?" sahut Dara.


Kontan, Sum ternganga sambil di lepasnya tangan si gemes.


Mentari mendelik sambil menarik tangannya dengan harapan Sum tidak menaruh curiga. Tapi harapannya yang belum terdengar sampai langit, sudah musnah duluan karena Sum sudah over thinking.


"Emak harus tahu ini. Kalo lama-lama nanti jadi zina. Aduh, lieur. Si kasep pasti yakin seribu yakin, si geulis ini jadi pelipur lara sampai-sampai pernah di kamar berdua. Aduh, Gusti Nu Agung, hampura." batinnya sambil meraih tangan Mentari.


"Sudah hayu gak papa, yang penting jaga diri. Nanti teriak saja kalo si kasep macam-macam sama kamu. Mbok pasti ke atas."


Dara tak bisa berhenti cekikikan melihat Mentari dengan pasrah di tarik Mbok Sum menaiki anak tangga.


"Kasep, Mbok buka pintunya. Ini si geulis mau ngomong."


Mentari yang sadar bahwa Pram memang menyukai warna biru mengembuskan napas lelah. Digerakkan oleh tarikan tangan Sum dia melangkah menuju Pram yang duduk di sofa.


Bener-bener masuk ke rumah harimau. Salah langkah, tamat riwayatku!


"Kasep." panggil Sum sungkan.

__ADS_1


Pram mengangkat wajahnya, menggigit pipi bagian dalam, ditahannya segenap tawa agar tidak terlontar dan mengacaukan segalanya yang telah ia susun rapi.


"Udah gue bilang, gue mau sendiri dulu, Mbok." katanya dengan ekspresi dingin.


"Kumaha sendiri, ada si geulis. Ngobrol-ngobrol atuh, jangan sendiri-sendiri terus. Nanti sedih na nggak ilang-ilang, Mbok ikut nelengsa."


Pram menunduk. Hampir saja tawanya meledak karena hanya Mentari yang paham gelagatnya sementara Sum dengan sikap keibuannya mempercayakan si kasep kepada gadis yang langsung menabok punggungnya setelah pintu tertutup rapat.


"Enak?" serunya kesal.


Pram mengusap punggungnya yang terasa panas sambil meringis geli.


"Enak banget sayang, gue jadi pengen tidur setelah kamu di sini. Bobok yuk, jauh-jauhan juga gak masalah."


Mentari mendesis marah, walaupun memang kasur Pram mengundang rasa nyaman untuk merebahkan punggung sebentar saja, tapi tetap saja, berada di suatu tempat asing dan laki-laki yang baru meledakkan rasa kesalnya gengsi dong kalau mengiyakan.


"Udah deh gak usah pura-pura galau gitu, Pram. Kamu udah benar-benar ceria dan malah gak waras tau. Sok-sokan patah hati habis putus dari Pevita! Dasar, raja drama." seru Mentari sambil membuang napas.


"Kemarin kita udah sepakat untuk kolaborasi selama kamu di sini, Tar. Lagian aku udah ngaku kalah, aku suka sama kamu."


Bukan malah merona malu, Mentari menginjak kaki Pram. Kesal sekali kenapa lagi-lagi Pram membuatnya darah tinggi.


"Gak usah ngada-ngada bilang suka. Mentang-mentang udah di buru waktu buat nikah. Ada cewek langsung kamu sikat!"


Mentari menjatuhkan diri di sofa, meluruskan kaki sambil memandangi isi kamar Pram. Disisinya sang pemilik kamar, tersenyum lembut. Mau di injak, di tabok, di jewer. Dia terima, hanya Mentari yang berani seperti itu. Yang lain mah mau pegang tangannya aja males orang Pram cenderung lebih gesrek lagi. Bahkan terkadang keberadaannya hanya di anggap sebagai badut.


"Cuma elo yang gue sikat, Tar. Yang pernah gue temui gak ada yang pernah bisa duduk di kamar gue atas izin dari Mbok Sum ataupun gue bawa ke sini. Langka lho ini. Kamu gadis pertama dan terakhir yang masuk kamar gue!" klaim Pram, mengindahkan gadis yang jauh-jauh dari kaki gunung hingga sampai di kamarnya. Hebat, kalau bukan rasa percaya yang tinggi dan apa adanya. Mana mungkin Mentari, Dara, dan dua biang kerok itu mau ikut dengannya kalau bukan karena dia emang bisa di percaya.


"Aku kan cuma bilang suka, belum bilang sayang dan cinta karena itu nanti setelah kamu terima gue jadi apa ya. Temen hidup? Temen hiling? Temen tidur?" Pram menimbang-nimbang ucapannya, lalu menyunggingkan senyum sewaktu Mentari menguap.

__ADS_1


Gadis itu menghela napas, duduk diam dengan angin sepoi-sepoi dari jendela yang terbuka semakin membuatnya ngantuk parah.


"Kamu gak bisa bilang sayang dan cinta karena aku cuma temen hiling kamu, Pram. Kalo bilang suka itu terserah, lumrah kok. Aku gak ngelarang." katanya sambil berdiri, "aku turun ya."


Buru-buru Pram menahan lengan Mentari.


"Aku beneran suka sama kamu, Tar. Kedengarannya buru-buru, tapi aku suka caramu kemarin-kemarin memperlakukan ku di rumahmu. Terima kasih."


Mentari memejamkan mata sambil meringis geli. Usia Pram sudah kepala tiga lebih, tapi caranya mengungkapkan rasa masih mirip anak ABG.


"Itu kan emang kerjaanku, Pram."


Pram berdiri, dipeluknya gadis itu dengan ragu-ragu. "Cuma ada dua tamu yang datang ke losmen idaman setelah masalah yang kamu hadapi dulu. Dan di antar gue sama segerombolan tamu yang datang cuma beberapa jam itu. Hanya aku yang bener-bener kamu perlakuan khusus. Hanya aku, kalo aku boleh ge er!"


Susah payah Mentari mendorong lengan bisep Pram yang kekarnya minta ampun. Tapi tetap saja sepasang kaki Pram sudah memasang kuda-kuda atau saking kecilnya Mentari di banding Pram sampai sekuat tenang pun tak kunjung membuat laki-laki yang meringis geli sambil memegangi pinggangnya itu lepas.


"Lepasin, nanti ada setan mampir terus godain iman kita. Aku nggak mau kamu jadi sama kayak laki-laki brengsek itu, Pram!" paksa Mentari sambil terus mendorong lengan Pram.


"Jawab dulu pertanyaan ku!" kata Pram tenang. Lagian itu cuma taktik sayang, kalo gak di paksa kamu bakal terus menghindar, pikirnya sambil melepas pinggang Mentari.


"Apa?" Mentari merapikan kaosnya yang sudah lecek.


Pram memegang dadanya yang sedang berdetak kencang seperti tempat diskotik.


"Kenalan sama emak dan bapak di Jawa barat mau?"


Mentari tertawa, di kira dia nggak paham apa dengan si kadal berbadan komodo ini.


"Itu sih sama aja aku langsung menjatuhkan diri di depan orang tuamu, Pram. Kamu kira aku gak tau akal mu?"

__ADS_1


Pram ikut tertawa lepas, dan tawanya yang bisa Sum dengar samar-samar di dapur membuatnya tersenyum.


"Si kasep beneran seneng sama awewe geulis itu, seneng pisan Mbok."


__ADS_2